Konten dari Pengguna

Membedah Narasi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Al Sandy Suharjono
Political Storyteller, Public Policy Reviewer & Advisor
24 Oktober 2025 17:51 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Membedah Narasi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Komunikasi publik mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah seni menyeimbangkan antara fakta statistik dan aspirasi politik.
Al Sandy Suharjono
Tulisan dari Al Sandy Suharjono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Gambar ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi RI dihasilkan oleh AI
zoom-in-whitePerbesar
Gambar ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi RI dihasilkan oleh AI
Antara Statistik dan Sentimen
Angka pertumbuhan ekonomi—misalnya 5 persen yang stabil atau target ambisius 8 persen yang baru dicanangkan—bukan sekadar deretan statistik; ia adalah inti dari sebuah narasi politik. Dalam komunikasi publik, angka-angka ini berfungsi sebagai simbol kinerja dan jangkar optimisme pemerintah.
Bagi Indonesia, di tengah ketidakpastian global, angka pertumbuhan ekonomi konsisten di atas 5 persen telah lama menjadi pesan utama yang dikomunikasikan oleh pemerintah, sebuah narasi yang kini diuji dan diperluas dengan target 8 persen di bawah kepemimpinan baru.
Artikel ini akan membedah strategi komunikasi publik di balik pengumuman pertumbuhan ekonomi, meninjau bagaimana pemerintah membangun kredibilitas, mengelola skeptisisme, dan menggunakan target ambisius sebagai alat mobilisasi sentimen publik.
Narasi Stabilitas: Senjata Komunikasi Angka 5 Persen
Selama bertahun-tahun, angka pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen telah dikomunikasikan sebagai "zona aman" Indonesia. Strategi komunikasi ini memiliki tiga pilar utama:
1. Memosisikan Diri sebagai "Juara Kawasan" (Benchmarking)
Pemerintah secara sistematis membandingkan pertumbuhan 5 persen Indonesia dengan rata-rata global (yang seringkali lebih rendah) atau negara-negara G20 dan ASEAN. Pesan yang disampaikan jelas: “Di tengah perlambatan global, Indonesia tetap menjadi salah satu yang tercepat pulih dan paling tangguh.”
Dampak Komunikasi: Narasi ini berfungsi untuk meningkatkan rasa percaya diri nasional (sentimen positif) dan menarik perhatian investor asing, memosisikan Indonesia sebagai referensi stabilitas.
2. Memperkuat Kualitas Pertumbuhan (De-risking)
Tantangan terbesar angka 5 persen adalah tuduhan bahwa pertumbuhan tersebut tidak merata. Untuk mengatasinya, komunikasi publik bergeser dari sekadar kuantitas menjadi kualitas. Pemerintah mengaitkan pertumbuhan PDB dengan indikator sosial yang membaik, seperti penurunan inflasi yang terkendali dan angka kemiskinan ekstrem yang turun.
Tujuan Komunikasi: Untuk menetralkan kritik publik dan menunjukkan bahwa manfaat ekonomi mengalir hingga ke tingkat rumah tangga, bukan hanya keuntungan perusahaan besar.
3. Peran Countercyclical APBN
Komunikasi pemerintah selalu menyoroti peran APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) sebagai countercyclical (penahan goncangan). Artinya, belanja pemerintah dan insentif fiskal dikomunikasikan sebagai suntikan yang diperlukan untuk menjaga momentum pertumbuhan ketika sektor swasta melambat. Ini memosisikan pemerintah sebagai pemimpin orkestrasi ekonomi.
Era Baru Komunikasi: Target Ambisius 8 Persen
Masuknya Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan peluncuran target 8 persen menandai perubahan signifikan dalam strategi komunikasi: dari mempertahankan stabilitas menjadi memobilisasi perubahan dan percepatan.
1. Pesan Disrupsi: "Stagnan Berarti Gagal"
Menteri Keuangan Purbaya secara terbuka mengomunikasikan bahwa pertumbuhan 5 persen, meskipun baik, dianggap tidak memadai untuk mencapai status negara maju. Pesan ini bertindak sebagai disrupsi naratif, yang secara implisit mengkritik kecepatan pertumbuhan masa lalu dan membangun urgensi untuk percepatan.
Teknik Komunikasi: Penggunaan diksi yang kuat, seperti menyebut mesin ekonomi "timpang" dan perlunya "membalikkan arah", bertujuan untuk menciptakan sense of urgency di antara birokrasi dan pelaku pasar.
2. Simbolisme Kultural dan Branding
Komunikasi publik target 8 persen tidak hanya bersifat teknis. Penggunaan jaket berlogo 8 persen oleh Menkeu Purbaya adalah contoh klasik komunikasi simbolis yang sangat efektif.
Analisis: Dalam kajian komunikasi politik, simbol berfungsi sebagai pemadatan ide kompleks menjadi citra sederhana yang mudah diingat dan viral. Jaket tersebut bukan hanya pakaian, tetapi simbol visi politik Presiden dan komitmen fiskal di Kementerian Keuangan. Simbol ini juga membantu memanusiakan kebijakan yang sangat teknis.
3. Mengelola Realitas dan Ekspektasi (Waktu dan Kredibilitas)
Tantangan komunikasi terbesar adalah kesenjangan kredibilitas antara janji dan realisasi. Purbaya mengelola ini dengan menetapkan jangka waktu yang realistis (dua hingga tiga tahun ke depan, hingga 2028), bukan target langsung.
Strategi: Pemerintah mengomunikasikan bahwa 8 persen adalah sebuah destination (tujuan), sementara pertumbuhan 6 persen pada tahun pertama adalah pathway (jalur). Ini mempertahankan optimisme tanpa mengorbankan kredibilitas di mata para analis dan pelaku pasar yang kritis.
Tantangan Kritis: Peran Political Communication
Beberapa peran komunikasi politik yang harus dikelola untuk menyoroti tantangan:
* Mengelola Data Skepticism: Setiap rilis data BPS yang positif kini disusul oleh perdebatan publik. Pemerintah harus mampu membangun transparansi data dan melibatkan komunitas akademik serta think tank dalam proses verifikasi untuk memastikan angka-angka tersebut tidak dianggap sekadar "Badan Propaganda Statistik", sebagaimana muncul dalam beberapa kritik.
* Memadukan Political Will dan Fiscal Prudence: Narasi 8 persen harus didukung oleh komunikasi kebijakan yang rinci dan terukur. Jika target ambisius didorong tanpa detail implementasi yang meyakinkan (misalnya, peran sektor manufaktur, insentif fiskal yang tepat sasaran), pesan tersebut akan kehilangan otoritas fiskal dan dianggap gimmick politik.
* Memberi Dampak Bagi Pasar Modal: Bagi investor pesan pertumbuhan ekonomi adalah data fundamental. Namun, komunikasi publik yang inkonsisten atau terlalu optimis dapat memicu volatilitas sentimen pasar yang harus disikapi hati-hati. Kecepatan reaksi pasar terhadap berita akan sangat bergantung pada seberapa meyakinkannya janji-janji kebijakan pendukung yang dikomunikasikan pemerintah.
Kesimpulan
Komunikasi publik mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah seni menyeimbangkan antara fakta statistik dan aspirasi politik. Narasi 5 persen berfokus pada stabilitas dan ketahanan, sementara target 8 persen adalah panggilan untuk percepatan dan ambisi.
Keberhasilan komunikasi ini akan ditentukan oleh kemampuan pemerintah untuk: (1) mempertahankan kredibilitas datanya, (2) menerjemahkan janji ambisius menjadi program yang konkret dan terukur, dan (3) mengelola ekspektasi publik agar optimisme tidak berubah menjadi kekecewaan di pasar maupun di lapangan.
Trending Now