Konten dari Pengguna

Pendidikan yang Membodohi: Mengapa Sistem Kita Gagal Mencerdaskan?

Aulia Zamzami
Mahasiswa Aktif Universitas Negeri Jakarta, Fakultas Ilmu Sosial & Hukum Program Studi Pendidikan Sosiologi
22 Oktober 2025 14:00 WIB
ยท
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Pendidikan yang Membodohi: Mengapa Sistem Kita Gagal Mencerdaskan?
Sistem pendidikan seharusnya menjadi fondasi utama dalam membentuk generasi yang cerdas, kritis, dan inovatif. Namun, pada kenyataannya, banyak sekolah justru menyelenggarakan pendidikan dengan cara
Aulia Zamzami
Tulisan dari Aulia Zamzami tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
https://www.istockphoto.com/id/foto/siswi-duduk-di-satu-sisi-jungkat-jungkit-dan-tumpukan-buku-dengan-topi-kelulusan-gm1190601104-337574858?searchscope=image%2Cfilm
zoom-in-whitePerbesar
https://www.istockphoto.com/id/foto/siswi-duduk-di-satu-sisi-jungkat-jungkit-dan-tumpukan-buku-dengan-topi-kelulusan-gm1190601104-337574858?searchscope=image%2Cfilm
Sistem pendidikan seharusnya menjadi pondasi utama dalam membentuk generasi yang cerdas, kritis, dan inovatif. Namun, pada kenyataannya, banyak sekolah justru menyelenggarakan pendidikan dengan cara yang monoton dan membosankan, sehingga gagal memberikan kecerdasan yang sejati bagi para siswa. Kenapa sistem pendidikan saat ini terasa lebih seperti alat untuk membatasi pemikiran daripada mendukung perkembangan intelektual anak-anak?

Problematika dalam Cara Mengajar

Salah satu masalah utama adalah metode pembelajaran yang masih sangat bergantung pada menghafal dan mengulang materi tanpa membangun kemampuan analisis dan pemahaman mendalam. Siswa seringkali hanya menjadi penerima pasif informasi, tanpa didorong untuk mempertanyakan atau memikirkan materi yang diajarkan. Dengan cara seperti ini, mereka hanya belajar untuk mengingat jawaban demi nilai tinggi, bukan untuk memahami konsep secara utuh dan mampu berpikir kritis.
Akibatnya, setelah ujian selesai, banyak siswa dengan mudah melupakan materi karena mereka memang tidak pernah benar-benar mengerti esensinya. Padahal, tujuan pendidikan adalah menjadikan siswa sebagai individu yang bisa berpikir mandiri dan menemukan solusi atas berbagai masalah yang dihadapi.

Kurikulum yang Kurang Sesuai dengan Realita

Kurikulum yang berlaku seringkali tidak sesuai dengan kondisi dunia nyata dan kebutuhan masa depan. Materi yang diberikan lebih banyak berisi teori tanpa mengaitkan langsung dengan kehidupan sehari-hari siswa. Contohnya, pelajaran matematika yang hanya berfokus pada rumus tanpa aplikasi nyata seperti pengelolaan keuangan keluarga atau perencanaan bisnis membuat siswa sulit memahami pentingnya pelajaran tersebut.
Selain itu, kurikulum yang kaku juga membatasi kreativitas guru dalam menyusun metode pengajaran yang menyenangkan dan relevan dengan kondisi siswa. Akibatnya, proses belajar menjadi kurang menarik dan membuat siswa kehilangan motivasi untuk belajar.

Tekanan Nilai dan Kompetisi yang Berlebihan

Ilustrasi pendidikan Foto: Shutterstock
Sistem pendidikan juga terlalu menitikberatkan pada pencapaian nilai ujian semata. Sebagian besar penilaian hanya mengukur hasil dalam bentuk angka, sehingga siswa merasa harus terus bersaing untuk memperoleh nilai tinggi tanpa memperhatikan sejauh mana mereka benar-benar memahami materi atau mengembangkan karakter.
Tekanan ini tidak hanya membuat siswa stres, tetapi juga mengubah fokus guru dan siswa menjadi semata-mata โ€œmenyelesaikan soalโ€ agar lulus dengan nilai memuaskan. Bisa dikatakan, cara mengajar pun berubah menjadi โ€œmengajar demi ujian,โ€ bukan mengajar untuk mengembangkan pemikiran kreatif dan kritis.

Ketimpangan Pendidikan dalam Berbagai Wilayah

Permasalahan pendidikan di Indonesia juga sangat terlihat dari ketimpangan antara daerah perkotaan dan pedesaan. Di kota-kota besar, meskipun fasilitas lebih lengkap, metode pembelajaran warnanya masih sama: berpusat pada ujian dan hafalan. Sementara di daerah terpencil seperti Papua, Nusa Tenggara Timur, dan wilayah lain, keterbatasan fasilitas dan guru menjadi hambatan besar dalam memberikan pendidikan berkualitas.
Banyak sekolah di daerah terpencil kekurangan buku, alat peraga, dan teknologi yang bisa menunjang pembelajaran. Selain itu, guru yang terbatas jumlahnya terpaksa mengajar banyak siswa sekaligus. Kondisi tersebut membuat anak-anak di sana menghadapi tantangan yang jauh lebih berat dibandingkan siswa di kota besar.

Contoh dan Studi Kasus di Indonesia

Menurut penelitian dari LIPI, banyak pelajar SMA di perkotaan mengakui bahwa sistem pembelajaran yang ada membuat mereka kehilangan semangat belajar. Mereka merasa hanya diajarkan untuk menghadapi ujian, bukan untuk mengasah kemampuan analisis dan diskusi yang mendalam.
Di sisi lain, beberapa sekolah unggulan di kota seperti Jakarta dan Surabaya mencoba menerapkan metode pembelajaran yang lebih interaktif dengan diskusi kelompok dan proyek kolaboratif. Hasilnya, siswa tidak hanya meraih nilai akademik yang baik, tetapi juga mengasah kemampuan berpikir kritis dan komunikasi. Sayangnya, model pembelajaran ini belum merata di seluruh Indonesia.

Upaya Perbaikan dari Kebijakan Pendidikan

Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan perubahan besar dari kebijakan pendidikan. Kurikulum harus didesain agar lebih fleksibel dan kontekstual, memberikan ruang bagi guru untuk menyesuaikan materi sesuai kondisi siswa dan perkembangan zaman. Fokus utama harus dialihkan ke pengembangan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan keterampilan yang relevan dengan abad 21.
Evaluasi siswa juga perlu diperluas, tidak hanya berdasarkan ujian tertulis saja. Penilaian harus mencakup berbagai aspek, seperti portofolio, proyek praktis, dan kemampuan bekerja sama dalam tim. Pendekatan evaluasi yang menyeluruh ini akan mendorong pembelajaran yang lebih bermakna dan menyenangkan.
Selain itu, pemerintah harus meningkatkan akses terhadap teknologi dan sumber belajar, terutama di daerah-daerah kurang berkembang. Pelatihan dan pendampingan bagi guru juga harus diperkuat agar mereka mampu mengajar dengan metode yang inovatif dan sesuai kebutuhan siswa.

Peran Guru dalam Transformasi Pendidikan

Guru adalah ujung tombak keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu, pendampingan dan pelatihan guru sangat penting dilakukan secara berkesinambungan. Dengan bimbingan seperti workshop, coaching, dan mentoring, guru dapat meningkatkan kemampuan mengajar yang interaktif dan memacu siswa untuk aktif dalam pembelajaran.
Penguatan komunitas belajar antar guru juga perlu dilakukan, sehingga mereka bisa saling berbagi pengalaman dan solusi atas kendala yang muncul di lapangan. Dengan dukungan yang tepat, guru bisa menjadi fasilitator yang memotivasi siswa untuk menggali potensi diri dan mengembangkan pandangan kritis.

Penutup

Pendidikan sejati adalah pendidikan yang membebaskan pikiran dari belenggu dan mendorong siswa untuk berpikir kritis serta mandiri. Jika sistem yang ada terus mempertahankan pola lama yang menekankan memorisasi dan kompetisi nilai semata, maka gagal mencerdaskan generasi muda akan menjadi kenyataan. Reformasi yang menyeluruh dan berani sangat diperlukan agar pendidikan Indonesia dapat menghasilkan manusia yang tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga siap menghadapi tantangan masa depan dengan kemampuan berpikir kritis dan kreativitas tinggi.
Trending Now