Konten dari Pengguna

Ketika Ceramah Singkat Menggantikan Proses Belajar Agama

Alfhy Alfaiq
Mahasiswa Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
25 Desember 2025 9:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Ketika Ceramah Singkat Menggantikan Proses Belajar Agama
Perkembangan media digital telah mengubah cara umat Islam belajar agama. Ceramah singkat berdurasi satu hingga tiga menit kini mudah ditemukan di berbagai platform media sosial. #userstory
Alfhy Alfaiq
Tulisan dari Alfhy Alfaiq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi ceramah. Sumber: https://www.freepik.com/free-vector/vlogger-social-media-illustration_10079771.htm#fromView=search&page=1&position=0&uuid=74916909-903b-4f48-8fbe-48d2f1927eac&query=ceramah+di+media+sosial
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ceramah. Sumber: https://www.freepik.com/free-vector/vlogger-social-media-illustration_10079771.htm#fromView=search&page=1&position=0&uuid=74916909-903b-4f48-8fbe-48d2f1927eac&query=ceramah+di+media+sosial
Perkembangan media digital telah mengubah cara umat Islam belajar agama. Ceramah singkat berdurasi satu hingga tiga menit kini mudah ditemukan di berbagai platform media sosial. Konten semacam ini menawarkan kemudahan, kecepatan, dan kesan praktis dalam memahami ajaran Islam.
Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan penting: Apa yang terjadi ketika ceramah singkat perlahan menggantikan proses belajar agama yang utuh dan mendalam?
Fenomena ini tidak sepenuhnya salah, tetapi patut dikaji secara kritis agar tidak menggerus esensi pendidikan keagamaan.

Daya Tarik Ceramah Singkat

Ilustrasi mimbar masjid. Foto: Shutter Stock
Ceramah singkat lahir dari kebutuhan masyarakat modern yang hidup serba cepat. Tidak semua orang memiliki waktu untuk mengikuti kajian panjang atau membaca kitab secara mendalam. Potongan ceramah yang ringkas dianggap cukup untuk menjawab persoalan keagamaan sehari-hari.
Media sosial juga mendorong format ini. Algoritma lebih menyukai konten singkat, padat, dan emosional. Akibatnya, ceramah yang disampaikan secara sederhana dan tegas lebih mudah viral dibandingkan penjelasan yang panjang dan penuh nuansa.

Penyederhanaan Agama dan Risikonya

Masalah muncul ketika ajaran agama yang kompleks direduksi menjadi slogan atau potongan dalil tanpa konteks. Agama kemudian dipahami sebatas jawaban cepat: boleh atau tidak, benar atau salah. Proses berpikir, perbedaan pendapat, dan hikmah di balik suatu hukum sering terabaikan.
Ilustrasi proses berpikir, perbedaan pendapat, dan hikmah. Sumber: https://www.freepik.com/free-vector/hand-drawn-flat-design-overwhelmed-people-illustration_24202322.htm#fromView=search&page=1&position=2&uuid=f99fb541-dc97-4014-8e4d-3493dbafa8d0&query=Hilangnya+Proses+Belajar
Dikutip dari Kompas, sejumlah pakar pendidikan keagamaan menilai bahwa pembelajaran agama yang terlalu instan berisiko melahirkan pemahaman dangkal dan sikap keagamaan yang kaku.

Hilangnya Proses Belajar

Belajar agama sejatinya adalah proses panjang yang melibatkan proses membaca, bertanya, berdiskusi, dan merenung. Dalam tradisi Islam, proses ini dikenal melalui talaqqi, majelis ilmu, dan pendampingan guru. Ceramah singkat tidak dirancang untuk menggantikan proses tersebut, melainkan hanya sebagai pengantar.
Ketika ceramah singkat dijadikan satu-satunya sumber belajar, umat kehilangan kesempatan untuk memahami agama secara utuh dan proporsional.
Ilustrasi ustaz atau pemuka agama saat memberikan ceramah. Foto: Getty Images

Pergeseran Otoritas Keagamaan

Fenomena ceramah singkat juga berpengaruh pada cara masyarakat memandang otoritas keagamaan. Popularitas di media sosial sering kali menjadi tolak ukur kepercayaan, menggeser otoritas yang sebelumnya berbasis keilmuan dan kedalaman studi.
Dikutip dari BBC Indonesia, para pengamat menilai bahwa era digital telah melahirkan figur-figur keagamaan populer yang berpengaruh besar, meskipun tidak selalu diiringi dengan kapasitas keilmuan yang memadai.

Menempatkan Ceramah Singkat Secara Proporsional

Ceramah singkat sejatinya dapat menjadi pintu masuk untuk belajar agama, bukan pengganti proses belajar itu sendiri. Konten singkat dapat memantik rasa ingin tahu, mendorong umat untuk mencari penjelasan lebih mendalam melalui kajian, buku, atau guru yang kompeten.
Ilustrasi ajaran agama. Foto: Shutter Stock
Literasi keagamaan menjadi kunci agar masyarakat mampu membedakan antara konten pengantar dan pembelajaran substantif.
Ceramah singkat adalah produk zaman yang tidak bisa dihindari. Namun, ketika ia menggantikan proses belajar agama yang utuh, risiko penyederhanaan dan kekakuan pemahaman menjadi nyata. Agama tidak hanya dipelajari untuk diketahui, tetapi untuk dipahami dan diamalkan dengan bijaksana.
Menjaga keseimbangan antara kemudahan akses dan kedalaman ilmu menjadi tantangan bersama agar ajaran agama tetap hidup, membumi, dan mencerahkan di tengah arus digital yang serba cepat.
Trending Now