Konten dari Pengguna

Algoritma Youtube: Analisis Pengaruh terhadap Pola Pembentukan Idola

Alfian Nurhakim
Seorang Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang
4 Oktober 2025 8:00 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Algoritma Youtube: Analisis Pengaruh terhadap Pola Pembentukan Idola
Algoritma Youtube: Analisis pengaruh terhadap pola pembentukan idola. Bukan hanya media hiburan, melainkan juga instrumen teknologi yang memiliki pengaruh terhadap konstruksi perilaku. #userstory
Alfian Nurhakim
Tulisan dari Alfian Nurhakim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber : Pexels.com (Algoritma)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Pexels.com (Algoritma)
Big Data dan Artificial Intelligence (AI) merupakan kombinasi teknologi mutakhir yang memiliki peran signifikan dalam membentuk pola pikir serta perilaku manusia di lingkungan digital. Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, kita dapat menyaksikan bagaimana media-media digital memanfaatkan algoritma dan AI untuk menyajikan informasi secara cerdas dan terukur.
Dalam analisis ini, saya menyoroti aplikasi YouTube sebagai studi kasus. Platform ini menjadi contoh konkret bagaimana Big Data dan AI berperan dalam mengubah cara seseorang berpikir maupun berperilaku. Fenomena yang diangkat berfokus pada bagaimana algoritma YouTube bekerja dalam menyajikan konten yang dianggap relevan bagi pengguna, sekaligus bagaimana sistem tersebut dapat memberikan dampak kepada pengguna.
YouTube sendiri merupakan video sharing platform yang sangat populer di mana para pengguna dapat mengunggah, menonton, dan berbagi video secara gratis. Saat ini, YouTube menjadi penyedia layanan video daring terbesar di dunia dengan dominasi pasar mencapai sekitar 93%. Dengan basis data yang sangat luas, YouTube mengandalkan Big Data untuk menyimpan dan mengelola miliaran video, kemudian menyajikannya kembali berdasarkan algoritma yang menyesuaikan dengan preferensi pengguna.
Ilustrasi Data Analytics. Foto: Dok. Kuncie/Telkomsel
Sejatinya, fenomena algoritma ini tidak dapat dilepaskan dari pola penciptaan β€œidola” dalam dunia digital. Meskipun fenomena idola sudah ada sejak era sebelumnya, media digital seperti YouTube mempercepat proses pembentukan figur populer tersebut.
Sebagai contoh, pada awal 2000-an, masyarakat (khususnya para remaja) dengan cepat mengidolakan Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardoyo melalui film Ada Apa dengan Cinta (AADC). Pola serupa kini kembali kita temui, tetapi dengan intensitas yang lebih masif berkat dukungan algoritma digital.
Analisis Rabbit-Holes on Youtube(Le Merrer,Tredan,Yesilkanat,2023) mengungkapkan bahwa rekomendasi yang dipersonalisasi oleh Youtube semakin membawa pengguna pada konten yang sangat spesifik atau ekstrem dari minat awal. Berdasarkan analisis ini, algoritma menjadi faktor dalam pembentukan idola karena terus menyuguhkan konten tentang seseorang/artis yang disukai pengguna, sehingga memperkuat eksposurnya, memperdalam fandom dan memperkuat persepsi publik terhadap figur tersebut.
Dalam studi yang berjudul Let’s Influence Algorithms together: How Milloins of fans Build Collective Understanding of Algorithms and organize Coordinated Algorithmic Actions (2018) mengungkapkan perbedaan pendapat dengan jurnal sebelumnya, bahwa penggemar secara kolektif melakukan data labor untuk memanipulasi algoritma dengan cara like/comment/share secara terorganisir menggunakan tagar agar konten idola mereka lebih terlihat dalam algoritma. Hal ini membuktikan bahwa sekelompok orang bisa dengan mudah mengelabui algoritma dengan membuat kampanye melalui tagar agar idolanya bisa muncul di beranda pengguna lain.
Ilustrasi artis. Foto: Fitra Andrianto dan Putri Sarah Arifira/kumparan
Salah satu dampak dari pembentukan idola melalui media digital adalah celebrity worship. Celebrity worship adalah sebuah kondisi individu yang menyukai sosok selebritas atau idola secara berlebihan yang mengarah kepada obsesi. Obsesi ini menimbulkan agresi verbal yang menyakiti orang lain dengan tindakan verbal, seperti fitnah, ejekan, umpatan, dan makian. Hal semacam ini sering kali terjadi dalam komunitas K-Pop yang membela idolanya sampai menimbulkan agresi verbal dalam bentuk fanwar antar-fandom.
Dampak lain dari pembentukan idola ini menjadi inspirasi oleh pengemar dalam meraih keinginan, mengembangkan kreativitas, serta menjadikan sosok idola sebagai model gaya hidup positif karena kemampuan dan kedisiplinannya. (Ayu dan Astuti,2020)
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa YouTube bukan hanya sekadar media hiburan, melainkan juga instrumen teknologi yang melalui Big Data dan AI memiliki pengaruh besar terhadap konstruksi perilaku, pola konsumsi media, hingga pembentukan figur idola dalam masyarakat digital.
Trending Now