Konten dari Pengguna
Kenapa Kita Sulit Fokus Saat Lapar?
25 Oktober 2025 13:00 WIB
·
waktu baca 6 menitTulisan dari Cacha Aulia Esni Syahputri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu merasakan otak terasa lemot, susah berpikir jernih, mudah marah, atau tidak bisa fokus ketika perut kosong? Fenomena kesulitan fokus saat lapar merupakan pengalaman sehari-hari yang sering dialami oleh individu dalam berbagai konteks, seperti bekerja, belajar, atau melakukan tugas.
Saat lapar, penurunan konsentrasi disebabkan oleh hasil kerja kompleks antara otak, hormon, dan sistem saraf yang berjuang menjaga keseimbangan energi tubuh. Banyak orang mengira sulit fokus saat lapar hanyalah efek psikologis biasa, padahal secara ilmiah, hal ini berkaitan erat dengan mekanisme biologis tubuh di mana fluktuasi glukosa dapat mengganggu jalur saraf yang bertanggung jawab atas konsentrasi (Dhurandhar et al., 2013).
Fenomena ini menarik dibahas karena aktivitas mental manusia sangat bergantung pada energi. Dari sudut pandang biopsikologi, otak adalah organ yang paling haus energi, meskipun hanya sekitar 2% dari berat tubuh manusia, menghabiskan hampir 20% energi total tubuh (Mergenthaler et al., 2013). Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan bahwa status nutrisi yang buruk, termasuk saat lapar, berkaitan erat dengan penurunan kognitif seperti fokus, memori, dan pengambilan keputusan.
Dari perspektif biopsikologi, sulit fokus saat lapar dapat dijelaskan melalui interaksi antara gula darah, hormon, dan fungsi otak yang melibatkan teori homeostatis dan mekanisme neuroendokrin. Otak terus memantau kadar energi melalui jaringan hypothalamic-pituitary-adrenal axis (HPA axis), di mana hormon-hormon saling berinteraksi untuk mempertahankan homeostatis, tetapi pada kondisi lapar, menyebabkan ketidakseimbangan yang mengganggu konsentrasi karena otak bergantung pada glukosa sebagai substrat utama untuk neurotransmisi (Nurhasanah & Wijaya, 2021).
Saat tubuh kekurangan energi, otak yang sangat bergantung pada glukosa sebagai sumber bahan bakar akan menjadi kurang efisien dalam memproses informasi, sehingga menyebabkan distraksi dan kelelahan mental (Sari & Pratama, 2020).
Saat glukosa menurun (hipoglikemia), sistem akan mengirim sinyal prioritas ke seluruh tubuh dan fungsi otak yang tidak mendesak akan dimatikan untuk membuat transmisi antar-neuron menjadi lebih lambat. Kemudian hipotalamus, yaitu bagian otak yang mengatur regulasi energi akan mengaktifkan jalur hipoglikemik, yang mengurangi aliran darah ke area prefrontal cortex, wilayah yang bertanggung jawab atas perhatian, kontrol impuls, pengenalan diri, dan tugas-tugas kognitif kompleks.
Hal ini menyebabkan penurunan kemampuan otak untuk mempertahankan fokus, karena glukosa berperan penting dalam sintesis neurotransmitter seperti dopamin dan serotonin yang mendukung kewaspadaan kognitif (Gailliot et al., 2007). Sejumlah bukti fisiologis dan tinjauan literatur internasional mendukung bahwa penurunan kadar glukosa berkaitan dengan menurunnya performa pada tugas-tugas yang memerlukan kontrol kognitif.
Hormon memainkan peran sentral dalam mekanisme ini melalui konsep neuroendokrin yang menjelaskan bagaimana sinyal hormonal memengaruhi perilaku kognitif. Saat perut kosong, lambung mengeluarkan ghrelin yaitu hormon orexigenic untuk memberi sinyal fisiologis lapar. Hormon ini berinteraksi dengan reseptor di hipotalamus untuk merangsang nafsu makan sekaligus mengganggu konsentrasi melalui pelepasan kortisol (Chandarana et al., 2013; Hidayat et al., 2023).
Hormon kortisol merupakan hormon stres yang diproduksi kelenjar adrenal untuk memobilisasi energi dan menjaga kestabilan gula darah (Gibson, 2007). Peningkatan kortisol yang berlebihan akan memengaruhi sistem saraf pusat, terutama pada amigdala, bagian otak yang berperan mengatur suasana hati, kewaspadaan, dan emosi, sehingga perhatian dan kontrol diri menurun (Dhurandhar et al., 2013).
Peningkatan kadar ghrelin mengaktifkan sumbu hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA) yang dapat mengganggu jalur dopaminergik yang berperan dalam motivasi dan perhatian, sehingga menurunkan aktivitas di lobus frontal dan menyebabkan distraksi dan kemampuan konsentrasi menurun. Respon hormonal terhadap lapar bukan hanya soal perut kosong, tetapi juga reaksi stress biologis yang memengaruhi cara otak bekerja.
Hal ini sejalan dengan teori allostatis, di mana tubuh beradaptasi dengan stres lapar dan otak bersifat ekonomis dalam menggunakan energinya, tetapi adaptasi ini mengorbankan fungsi kognitif jangka pendek, seperti distraksi, mudah marah, dan impulsivitas. Ketika energi menipis, fungsi yang dianggap kurang penting untuk kelangsungan hidup akan dikorbankan. Inilah alasan mengapa dalam keadaan lapar, kita cenderung tidak efisien dalam berpikir abstrak dan otak sedang menghemat energi untuk fungsi vital. Selain itu, hormon yang mengatur glukosa, yaitu insulin berinteraksi dengan reseptor dopamin di otak, di mana penurunan insulin saat lapar dapat mengurangi motivasi dan fokus, seperti yang dijelaskan dalam kerangka biopsikologi oleh Widodo et al. (2022).
Dalam pendekatan biopsikologi yang melibatkan konsep neuroplastisitas, di mana kondisi lapar dapat mengubah struktur dan fungsi otak. Menurut Widodo (2022) paparan berulang hipoglikemia menyebabkan perubahan morfologis di hipokampus, area otak yang penting dalam konsentrasi dan memori, melalui mekanisme stres oksidatif yang merusak sel neuron. Temuan ini diperkuat oleh penelitian Nurhasanah & Wijaya (2021), yang menunjukan bahwa fluktuasi hormon leptin (hormon yang menekan nafsu makan) dan kortisol berkorelasi negatif dengan skor konsentrasi. Secara biopsikologis, hal ini menunjukkan bahwa lapar bukan hanya respon fisik terhadap kekurangan energi, tetapi juga proses neurobiologis kompleks yang melibatkan interaksi antara faktor genetik dan lingkungan, yang memperburuk gangguan fokus lebih parah (Sari & Pratama, 2020).
Di Indonesia, pola makan masyarakat masih bergantung pada karbohidrat sederhana seperti nasi, mengkonsumsi makanan berindeks glikemik tinggi dapat memperparah fluktuasi gula darah dan mengaktifkan siklus hormonal yang merugikan (Hidayat et al., 2023). Bagi pelajar dan pekerja, sarapan bergizi yang mengandung karbohidrat kompleks dan protein merupakan rutinitas harian untuk mempertahankan kestabilan kognitif, yang akan memberi dampak positif terhadap daya tangkap belajar dan fokus kerja.
Bagi individu, fenomena mudah marah saat lapar memiliki dasar biologis yang nyata seperti mengkonsumsi camilan sehat saat jeda panjang dapat mencegah penurunan performa dan menghindari konflik interpersonal. Pendekatan biopsikologis menegaskan bahwa memahami mekanisme jalur glukosa-dependen dan respon hormonal sangat penting agar upaya peningkatan kinerja belajar, kestabilan emosi, dan kesejahteraan kognitif dapat dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Kesimpulan
Fenomena kesulitan fokus saat lapar bukan sekadar masalah psikologis, tetapi merupakan hasil dari interaksi kompleks antara sistem saraf, hormon, dan metabolisme energi otak. Dari perspektif biopsikologi, kondisi lapar menyebabkan penurunan kadar glukosa yang mengganggu fungsi neurotransmiter dan aktivitas di area otak seperti prefrontal cortex, yang berperan penting dalam perhatian, pengendalian diri, dan pengambilan keputusan. Selain itu, peningkatan hormon ghrelin dan kortisol saat lapar memicu stres fisiologis yang mengganggu kestabilan emosi serta menurunkan efisiensi proses kognitif.
Ketidakseimbangan energi ini memaksa otak untuk menghemat sumber daya dengan mengorbankan fungsi kognitif non-esensial, sehingga menimbulkan gejala seperti mudah marah, sulit fokus, dan kelelahan mental. Dalam jangka panjang, fluktuasi energi yang berulang dapat memengaruhi neuroplastisitas dan kesehatan otak secara keseluruhan. Oleh karena itu, menjaga asupan nutrisi yang seimbang, khususnya glukosa dan protein kompleks, menjadi strategi penting untuk mendukung fungsi kognitif optimal, stabilitas emosi, dan kesejahteraan mental dalam kehidupan sehari-hari.

