Konten dari Pengguna

Olahraga, Bentuk Self-Reward yang Sering Kita Lupakan

Alifa Riananda
Saya adalah mahasiswa Universitas Pamulang yang berkomitmen untuk terus belajar dan berkembang. Saya percaya bahwa kerja keras, disiplin, serta semangat pantang menyerah adalah kunci utama dalam meraih tujuan hidup dan menghadapi tantangan masa depan
12 Juni 2025 12:33 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Olahraga, Bentuk Self-Reward yang Sering Kita Lupakan
Olahraga bukan hukuman, tapi hadiah untuk diri. Artikel ini mengajak kita melihat olahraga sebagai bentuk self-reward yang sederhana, murah, dan menenangkan bukan sekadar kewajiban atau beban.
Alifa Riananda
Tulisan dari Alifa Riananda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
sumber: freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
sumber: freepik.com
Olahraga, Bentuk Self-Reward yang Sering Kita Lupakan
Halo, teman-teman!
Beberapa waktu lalu, aku sempat merasa jenuh banget. Rutinitas kerja yang padat, pikiran yang nggak berhenti, dan tubuh yang rasanya… berat. Biasanya, aku akan cari pelarian dengan ngemil, nonton drama Korea sampai pagi, atau scroll media sosial tanpa arah. Tapi lama-lama aku sadar, itu bukan self-reward. Itu justru menambah rasa lelah.
Sampai akhirnya aku coba sesuatu yang sederhana: olahraga.
Bukan yang berat hanya stretching ringan di pagi hari dan jalan kaki sore-sore sambil dengerin musik.
Ternyata, efeknya luar biasa. Bukan cuma bikin badan lebih segar, tapi pikiran juga jadi lebih jernih dan hati lebih tenang. Dan dari situ aku mulai berpikir:
β€œMungkin selama ini kita salah kaprah soal self-reward.”
Olahraga Bukan Hukuman, Tapi Hadiah
Banyak dari kita menganggap olahraga itu beban. Padahal, tubuh kita justru bersyukur ketika diajak bergerak. Saat olahraga, tubuh kita memproduksi endorfin dan dopamin, dua hormon yang bikin kita merasa senang, puas, dan tenang. Dan menariknya lagi, olahraga juga bisa jadi bentuk penghargaan diri yang tulus.Bukan karena ingin mengubah tubuh jadi kurus atau berotot, tapi karena kita ingin menghargai tubuh yang sudah menemani hari-hari penuh tekanan.
Self-Reward Bukan Harus Mahal
Kita sering salah paham, mengira self-reward itu harus dalam bentuk belanja mahal, liburan mewah, atau makanan enak. Padahal, kadang tubuh dan pikiran kita cuma butuh waktu untuk bernapas. Dan olahraga, sekecil apa pun bentuknya, bisa jadi momen bernapas itu.
Contohnya:
β€’ Stretching 10 menit di kamar sambil dengerin lagu favorit
β€’ Jalan kaki sore hari ditemani podcast inspiratif
β€’ Yoga ringan sebelum tidur biar tidur lebih nyenyak
β€’ Atau sekadar menari bebas di rumah setelah menyelesaikan tugas berat
Semua itu bukan "usaha keras", tapi bentuk cinta kecil untuk diri sendiri.
Kesehatan Mental Itu Tentang Merawat, Bukan Menunggu Rusak
Kita sering baru sadar pentingnya kesehatan mental setelah burnout. Padahal, olahraga bisa jadi cara preventif yang sederhana. Saat kita rutin bergerak, kita juga sedang mengatur ulang hormon stres, menyeimbangkan emosi, dan membangun koneksi yang sehat antara tubuh dan jiwa.Bayangkan olahraga bukan sebagai kewajiban, tapi sebagai ritual kasih sayang untuk tubuhmu, untuk pikiranmu, dan untuk semangat hidupmu yang kadang redup.
Hadiah Terbaik Adalah Kamu yang Pulih
Jika kamu sedang merasa lelah, kehilangan arah, atau sekadar ingin memberi hadiah untuk dirimu sendiri... cobalah olahraga. Tidak perlu lama, tidak perlu berat. Mulai saja dari 5 menit. Karena kadang, gerakan kecil hari ini bisa jadi awal dari versi dirimu yang lebih kuat esok hari.
Self-reward tidak harus terlihat mewah. Kadang, yang kamu butuhkan hanya satu sesi gerakan lembut… dan niat untuk pulih.
Sudah olahraga hari ini? Kalau belum, yuk gerak bareng!
Trending Now