Konten dari Pengguna

Fumigasi Ala Romawi: Belerang si Senjata Pengusir Hama

Alifah Aqil Khoirunissa
Mahasiswi Universitas Ciputra Surabaya
15 Agustus 2025 14:02 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Fumigasi Ala Romawi: Belerang si Senjata Pengusir Hama
Di era Romawi dulu, mereka kerap membakar belerang untuk mengusir hama. Inilah cikal bakal fumigasi modern saat ini. #userstory
Alifah Aqil Khoirunissa
Tulisan dari Alifah Aqil Khoirunissa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi dibuat dengan bantuan AI oleh ChatGPT (OpenAI), tanpa referensi visual dari pihak ketiga.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dibuat dengan bantuan AI oleh ChatGPT (OpenAI), tanpa referensi visual dari pihak ketiga.
Catatan Pliny the Elder dalam Naturalis Historia (77 M) menyebutkan bahwa bangsa Romawi membakar belerang di gudang penyimpanan untuk mengusir hama. Praktik ini berlangsung setidaknya sejak abad ke-1 Masehi, atau lebih dari 1.940 tahun lalu.
Sumber arkeologi di Pompeii juga menemukan sisa endapan sulfur di ruangan bekas penyimpanan gandum yang terkubur akibat letusan Gunung Vesuvius pada tahun 79 M.
Saat itu, Romawi menggunakan wadah tanah liat atau panci perunggu untuk membakar ยฑ500โ€“1.000 gram belerang padat di ruangan tertutup. Asap yang dihasilkan akan memenuhi ruangan selama 2โ€“6 jam, cukup untuk membunuh serangga dewasa, larva, bahkan telur hama seperti kumbang gandum (Sitophilus granarius).

Efektivitas Belerang dalam Fumigasi Awal

Belerang yang terbakar menghasilkan sulfur dioksida (SOโ‚‚), gas berwarna tidak terlihat namun berbau tajam. Konsentrasi gas di atas 2.000 ppm dapat mematikan sebagian besar serangga dalam waktu kurang dari 30 menit.
Pada metode Romawi, diperkirakan kadar SOโ‚‚ bisa mencapai 5.000โ€“7.000 ppm, tingkat yang cukup untuk mensterilkan ruang penyimpanan sepenuhnya.
Penggunaan ini bukan hanya untuk pangan, tetapi juga untuk perlindungan minuman fermentasi seperti anggur. Gudang anggur di wilayah Campania kerap menjalani fumigasi belerang tahunan untuk mencegah kontaminasi serangga buah dan jamur. Dalam satu musim, satu gudang berkapasitas 20 ton biji-bijian bisa melakukan fumigasi hingga 4 kali.

Warisan untuk Dunia Pest Control Modern

Ilustrasi Fogging. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Meski teknologi sudah berkembang jauh, prinsip dasar fumigasi Romawi masih dipakai. Kini, fumigator modern mengganti belerang dengan bahan seperti phosphine (PHโ‚ƒ) atau sulfuryl fluoride (SOโ‚‚Fโ‚‚) yang memiliki tingkat toksisitas terukur dan lebih aman bagi operator.
Namun, data dari Journal of Stored Product Research mencatat bahwa sulfur masih digunakan di beberapa wilayah pedesaan di Mediterania hingga awal abad ke-20. Fakta ini menunjukkan bahwa Romawi Kuno bukan hanya unggul di bidang arsitektur dan militer, tetapi juga pionir dalam ilmu pengendalian hama.
Dari sekadar membakar ยฑ1 kg belerang di sebuah ruangan batu, kini dunia telah mengembangkan fumigasi berstandar internasional ISPM 15 yang mengatur dosis, waktu, dan keamanan secara detail.
Trending Now