Konten dari Pengguna

Air Mata Jatuh di Sumatera

Galih Dien Fu'adi
Mahasiswa S1 Ilmu Sejarah di Universitas Airlangga. Fuad, merupakan nama akrab saya yang sering menjadi panggilan sehari hari. Sebagai seorang pelajar yang mempunyai ketertarikan mempelajari hal hal yang berkaitan dengan rumpun ilmu Humaniora.
3 Desember 2025 12:22 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Air Mata Jatuh di Sumatera
Sudah menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menjaga dan merawat lingkungan. Bencana banjir di sumatera mengingatkan kita atas kelalaian pemangku kebijakan dan otoritas keagamaan.
Galih Dien Fu'adi
Tulisan dari Galih Dien Fu'adi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Gambar 1: Ilustrasi Banjir. Sumber: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Gambar 1: Ilustrasi Banjir. Sumber: Pixabay
Air yang turun dari langit itu menenggelamkan harapan dan masa depan banyak jiwa. Ketika banjir dan tanah longsor menerpa rumah warga, yang terisa hanyalah derita, luka dan air mata. Krisis iklim adalah persoalan lama yang bertambah hari, kian terasa nyata. Namun, pada kenyataanya kita tidak berbenah, seolah tidak pernah belajar dari Sejarah. Barulah ketika tangis seorang ibu pecah sembari menggendong jasad anaknya yang tertimpa reruntuhan, barulah para pemangku kebijakan turun tangan sebagai pahlawan. Tentunya pahlawan kesiangan.
Air yang seharusnya turun membawa berkah itu, menjelma jadi ketakutan dan tangisan. Suamtera, akhir november ini langit berubah menjadi kelabu sehingga menyisikan doa pada setiap kalbu. Ketika punggung Bukit Barisan tidak mampu lagi menahan terjangan air, dan tanah tidak mampu menopang karena kehilangan identitasnya, bagaikan seorang bujangan yang baru saja cukur jenggot. Krisis lingkungan bukanlah kejutan dari Sang Khalik, melainkan konsekuensi panjang dari kerakusan. Ketika hutan tropis dibabat habis demi kepentingan birokratis, maka yang tersisa sekarang hanyalah luka dan tangis.
Bencana semacam ini bukanlah hasil murni dari bencana lingkungan alami. Melainkan ia adalah wujud nyata keserakahan dan representasi rakus dari sang pemangku kebijakan. Jika dilihat dalam aspek historis, sejak zaman pemerintah kolonial, daerah Sumatera khususnya bagian barat menjadi sasaran eksploitasi, berbagai kepentingan. Mulai perkebunan, tambang emas sampai deforestasi besar besaran. Dilansir dari catatan akhir tahun region Sumatera, "Dari Krisis Politik ke Krisis Ekologi. Tercatat dari tahun 2015 hingga tahun 2022, setiap tahunnya terjadi bencana ekologis lebih dari seribu kali.
Gambar 2: jumlah kejadian bencana ekologis meningkat signifikan, dari 1.694 kasus pada 2015 menjadi 5.402 kasus pada 2021. Sumber: catatan akhir tahun region Sumatera, "Dari Krisis Politik ke Krisis Ekologi.
Bangsa kita sejak dulu, hanya memanen air mata dari tanah yang telah lama kita peras. Tanah yang menumbuhkan pepohonan untuk kemudian kita jadikan sumber bernafas, seperti seorang ibu yang telah membesarkan kita. Namun, kita justru mendurhakainya dengan mengizinkan proyek-proyek untuk terus memerah tanah kita sendiri, yang kebermanfaatannya hanya bisa dirasakan segelintir orang. Sejak 80 tahun bangsa ini merdeka, negara ini masih menyisakan paradigma kolonial yakni Domein Verklaring, yang menganggap hutan adalah tanah tak bertuan, sehingga hak masyarakat adat untuk mengelola tanah tempat mereka berpijak dan berjingkrak sehari-hari tidak diakui secara resmi oleh Ulil Amri. Kasus Air Bangis (Pasaman Barat) pada pertengahan tahun 2023 lalu menjadi contoh nyata dari praktik tersebut. Hal ini menjadi bukti bahwa kemerdekaan atas tanah belum pernah benar-benar menjadi milik rakyat sepenuhnya, hanya muka dari kolonialisme baru yang berganti bendera. Sehingga konsekuensi logis dari sebuah bencana alam merupakan warisan panjang dari keserakahan struktural.
Ujar-ujar tersebut hanyalah sebuah semboyan yang belum bisa terealisasikan. Perhatian akan krisis ekologi baru muncul ketika korban sudah bergelimpangan, dan menunggu kejadian serupa terulang di masa depan. Ketika orasi para politisi sampai sekarang belum mampu untuk menguraikan kenyataan. Ketika khotbah-khotbah keagamaan tidak bisa menyentuh akar permasalahan sehari-hari. Jika sudah seperti ini, kemana lagi rakyat harus mengadukan duka-lara.
Pada akhirnya bencana tidak akan selesai hanya dengan meratapi nasib dengan putus asa. Melainkan mengembalikan hubungan baik antara manusia dengan alam yang terjalin sejak ribuan tahun. Harapan itu harus dihadirkan dalam bentuk kesadaran mulai dari perorangan hingga pemangku jabatan, sampai otoritas agamawan yang menjadi penyambung firman Tuhan. Seperti yang telah difirmankan Allah Swt:
Penggalan ayat di atas sebagai perenungan bagi kita semua untuk menjaga alam dengan hati yang lapang terbuka. Sebab jika bumi telah rusak apa yang tersisa dari sebuah kemanusiaan? Ada pula ujar-ujar Jawa yang berkata:
Yang berarti hidup adalah pertukaran, apapun yang kita lakukan di masa sdekarang pasti ada konsekuensinya di masa depan. Hendaknya kita sadar bahwa alam merupakan tempat tinggal kita, yang sudah semestinya kita jaga dan kita rawat bersama. Melubangi alam ibarat membocorkan perahu yang kita tunggangi bersama.
Trending Now