Konten dari Pengguna

Main Tua-Tuaan dalam Sejarah, Memangnya Perlu?

Galih Dien Fu'adi
Mahasiswa S1 Ilmu Sejarah di Universitas Airlangga. Fuad, merupakan nama akrab saya yang sering menjadi panggilan sehari hari. Sebagai seorang pelajar yang mempunyai ketertarikan mempelajari hal hal yang berkaitan dengan rumpun ilmu Humaniora.
15 Juni 2025 15:25 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Main Tua-Tuaan dalam Sejarah, Memangnya Perlu?
Dulu waktu sekolah kita diajarkan bahwa era sebelum manusia menemukan tulisan dinamakan era pra-sejarah. Kini, konsep itu terancam dihapus dan digantikan dengan istilah sejarah awal, apa dampaknya?
Galih Dien Fu'adi
Tulisan dari Galih Dien Fu'adi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apa benar sejarah kita dimulai 1,8 juta tahun lalu?

Sejak belajar dibangku sekolah saya pernah diajarkan bahwasannya bangsa Indonesia mulai memasuki era tulisan pada abad ke-5 Masehi. Yang menandakan pergantian dari era sebelumnya yaitu prasejarah, zaman di mana belum ditemukannya tulisan. Pada masa itu juga tak sedikit ditemukan berbagai prasasti yang menceritakan jasa para pemimpin atau raja setempat dalam mensejahterakan rakyatnya. Sebut saja itu Prasasti Yupa, di dalamnya mengisahkan seorang raja dari Kutai yang mendermakan ribuan ekor sapi kepada para brahmana.
Ilustrasi kehidupan manusia purba awal. Pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kehidupan manusia purba awal. Pixabay.com
Jauh sebelum periode itu, adalah masa di mana manusia belum mengenal tulisan yang sudah umum disepakati sebagai zaman prasejarah, dengan ranah disiplin ilmu arkeologi, bukan historiografi. Dalam konteks sejarah Indonesia, masa ini diisi dengan ditemukannya fosil Pitechantropus Erectus yang diperkirakan hidup 1,8 juta tahun yang lalu. Temuan inilah yang cukup menghidupkan kajian arkeologi di Indonesia sampai kita banggakan hingga saat ini.
Kini konsep tersebut terancam dihapus dalam buku-buku sejarah nasional dikarenakan wacana pemerintah yang mencanangkan proyek penulisan ulang sejarah Indonesia, dan didalamnya akan menggantikan istilah “prasejarah” dengan “sejarah asli”. Proyek yang digadang-gadang didanai oleh uang rakyat senilai 9M itu mengususngkan penekanan penulisan sejarah yang bercorak Indonesia-sentris.
Fadli Zon selaku menteri kebudayaan pada saat ini berasumsi, bahwasanya penulisan sejarah saat ini dinilai masih terdistorsi oleh bayang-bayang kolonialisme Belanda. Baginya cukup disayangkan apabila buku-buku sejarah yang saat ini menceritakan bahwa seolah-olah sejarah kita baru dimulai pada abad kelima. Dia melanjutkan bahwasanya sejarah Indonesia seharusnya dimulai pada 1,8 juta tahun lalu dengan dalih penemuan fosil Pitechantropus Erectus. Itu artinya disaat bangsa yang lain masih di era prasejarah, peradaban kita sudah masuk era sejarah.
Hal ini menuai berbagai kontroversi khususnya di kalangan sejarawan dan arkeolog yang menilai bahwa gagasan dibalik proyek ini rancu dan menyalahi konsep awal yang sudah paten disepakati oleh aturan internasional. Dalam konteks ini penggantian istilah “prasejarah” yang dihilangkan dan digantikan dengan sebutan “sejarah awal”. Poin ini lah yang banyak menuai penolakan dari berbagai pihak, seperti sejarawan senior Bonnie Triyana, yang menyatakan ketidaksetujuannya dalam rapat komisi X DPR. Selain itu ada juga tokoh-tokoh seperti Asisi Suhariyanto dalam kanal YouTube-Nya berbicara mengenai pentingnya membedakan istilah prasejarah dengan sejarah awal, agaknya ini juga sejalan dengan Truman Simanjuntak yang sempat bergabung dalam proyek tersebut, lalu memutuskan untuk mengundurkan diri.
Jikalau kita menyoal sekaligus mengkritisi masalah ini, dari tokoh-tokoh kontra yang disinggung di atas sama-sama menyepakati prinsip perbedaan antara istilah sejarah awal dan prasejarah. Dua hal itu merupakan poin yang berbeda, seperti yang kita ketahui prasejarah adalah zaman di mana tulisan belum ditemukan, sehingga didalamnya tidak ada semacam cerita, narasi atau kejadian yang tercatat dan terdokumentasikan dengan jelas. Itu jelas berbeda dengan sejarah awal yang di mana sudah memasuki era tulisan, sehingga manusia di zamannya bisa mengabadikan peristiwa walau dengan media tulisan yang terbatas. Jelas, mencampur adukan keduanya adalah hal yang tidak bisa diterima.
Ilustrasi historiografi. Pixabay.com
Munculnya kekhawatiran dari kalangan sejarawan dan akademisi bukan hanya sekadar persoalan istilah belaka. Fenomena ini di samping memunculkan kerancuan fakta, juga berpotensi melahirkan pemikiran yang bombastis serta menyuburkan konspirasi liar yang tengah berkembang. Seperti klaim bangsa Indonesia memiliki hubungan dengan Atlantis sebagai peradaban tertua, dan klaim-klaim lainnya yang memperkeruh ruang narasi. Pada puncaknya narasi-narasi tersebut juga bisa disalahgunakan bagi pihak tertentu untuk kepentingan mereka. Apalagi penyusunan penulisan ulang sejarah ini juga dinilai terburu-buru dan tidak transparan bagi semua pihak.
Bonnie Triyana juga menyarankan agar penulisan ini mempunyai kolom paper terbuka bagi para sejarawan untuk bisa memberikan masukan dan diskusi. Bonnie juga berharap agar proyek ini tidak tergesa-gesa dan sebisa mungkin melibatkan sumber-sumber primer yang otentik. Karena jika tidak proyek penulisan ini akan dinilai mubadzir jika rujukan utamanya hanya kompilasi sumber-sumber sekunder, mengingat anggaran yang digelontorkan tidaklah main-main. Dalam kacamata Gramschi sejarah bisa berpotensi menjadi alat hegemoni untuk kepentingan kelompok yang berkuasa. Jika sejarah mulai diarahkan pada siapa yang lebih tua atau lebih mulia, maka tidak menutup kemungkinan sejarah hanya digunakan sebagai tunggangan politis para penguasa.
Pada kesimpulannya, penting bagi kita menegaskan batas-batas keilmuan antara sejarah awal dan prasejarah. Sejarah harus dibangun melalui metode ilmiah yang pasti, bukan karena ambisi untuk menjadi yang tertua, apalagi untuk membenarkan klaim fiksi. Karena sebuah bangsa tidak dinilai dari seberapa tua peradabannya berdiri, tapi dari nilai-nilai yang bisa dipelajari. Indonesia tidak perlu memaksakan diri untuk menjadi pusat peradaban, apalagi jika sejarahnya harus dimulai 1,8 juta tahun yang lalu di mana bangsa-bangsa lain masih dalam tahap prasejarah. Sejarah tidak membutuhkan hiasan apalagi pengakuan, melainkan kejujuran dan kepastian.
Alih-alih mencari validasi dari ribuan abad lalu yang belum terabadikan dalam catatan, bukannya lebih baik menghidupkan kembali nilai-nilai klasik dari sejarah lokal yang kaya akan serat makna. Bukankah lebih membanggakan apabila sejarah kita diawali dengan jasa-jasa para penguasa yang mensejahterakan rakyat seperti yang disinggung dalam Prasarti Yupa tadi, atau Prasasti Tugu yang mengisahkan seorang raja dari Tarumanegara yang membangun saluran air untuk rakyatnya. Atau juga Ratu Sima yang membuktikan kejujuran leluhur Nusantara dengan menaruh emas di tengah kota.
Pada akhirnya yang membuat besarnya suatu bangsa bukan dari siapa yang tertua peradabannya, tapi siapa yang bisa benar-benar belajar dari sejarahnya.
Trending Now