Konten dari Pengguna
IKN dan Risiko Perpecahan Sosial: Mendengar Suara dari Tanah Kalimantan
4 Agustus 2025 13:20 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
Kiriman Pengguna
IKN dan Risiko Perpecahan Sosial: Mendengar Suara dari Tanah Kalimantan
Tulisan ini mengulas potensi perpecahan sosial akibat pembangunan IKN dan pentingnya pelibatan masyarakat Kalimantan demi terciptanya pembangunan yang adil dan inklusif.Allizha Puti
Tulisan dari Allizha Puti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) ke Kalimantan Timur adalah proyek besar yang mencerminkan visi jangka panjang pembangunan Indonesia. Namun di balik semangat modernisasi dan pemerataan ini, ada satu sisi yang kerap luput dari sorotan: potensi perpecahan sosial di antara sesama anak bangsa.
Sebagian masyarakat lokal di Kalimantan merasa terpinggirkan oleh kebijakan ini. Mereka bukan sekadar kehilangan ruang hidup, tapi juga menghadapi tekanan identitas budaya yang mulai tergeser oleh pembangunan. Lahan-lahan adat yang dialihfungsikan, keputusan top-down yang minim partisipasi masyarakat lokal, hingga pergesekan antara penduduk asli dan pendatang, menjadi potret konflik sosial yang tidak bisa diabaikan.
Pemerintah memang menyampaikan bahwa IKN akan menjadi kota inklusif dan berkelanjutan. Namun, jika pendekatannya masih dominan teknokratis dan minim sensivitas budaya, bukan tidak mungkin masyarakat merasa terpinggirkan dan ketimpangan sosial pun makin terasa. Pembangunan ini bukan hanya memindahkan gedung tinggi, tapi juga soal membangun rasa memiliki di hati masyarakat yang terdampak langsung.
Oleh karena itu, proyek IKN harus dijalankan dengan pendekatan yang peka dan partisipatif. Dialog bersama tokoh adat, pengakuan atas wilayah-wilayah kelola masyarakat lokal, serta pelibatan mereka dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan, menjadi langkah penting. Pemerintah perlu lebih dari sekadar sosialisasi, yang dibutuhkan adalah keterlibatan nyata.
Di sisi lain, transparansi juga penting. Audit sosial terhadap proyek IKN sebaiknya dilakukan secara terbuka dan independen. Bukan untuk mencari kesalahan, melainkan memastikan bahwa proyek sebesar ini tetap berpijak pada keadilan sosial dan kesetaraan hak.
Tak kalah penting adalah inovasi dalam bidang pendidikan. Kota baru ini bisa menjadi laboratorium integrasi sosial, tempat lahirnya sekolah-sekolah multikultur yang mengajarkan nilai keberagaman kepada generasi baru, baik pendatang maupun warga lokal.
Memindahkan ibu kota bukan hal kecil. Ia mengubah peta sosial, budaya, dan politik bangsa. Maka, jika benar ingin menjadikan IKN simbol masa depan, mari kita pastikan ia dibangun dengan semangat kebersamaan, bukan ketimpangan. Pembangunan yang sejati bukan hanya mengangkat gedung tinggi, tapi juga menjunjung tinggi nilai-nilai hidup bersama.

