Konten dari Pengguna

Investasi di Sektor Manufaktur adalah Kunci Pertumbuhan 8%

Althof endawansa
Tenaga Ahli Anggota DPR RI Komisi XII
24 Mei 2025 11:45 WIB
ยท
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Investasi di Sektor Manufaktur adalah Kunci Pertumbuhan 8%
Peningkatan investasi manufaktur adalah prasyarat struktural bagi Indonesia untuk keluar dari middle income trap dan mencapai pertumbuhan ekonomi inklusif sebesar 8%.
Althof endawansa
Tulisan dari Althof endawansa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber: https://www.freepik.com/free-photo/automated-car-assembly-line-plant-automotive-industry-shop-production-assembly-machines-new-car-warehouse_26150997.htm#fromView=search&page=1&position=39&uuid=f17e4ed3-444a-404d-95e0-fabee11420b5&query=manufacture
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: https://www.freepik.com/free-photo/automated-car-assembly-line-plant-automotive-industry-shop-production-assembly-machines-new-car-warehouse_26150997.htm#fromView=search&page=1&position=39&uuid=f17e4ed3-444a-404d-95e0-fabee11420b5&query=manufacture
Indonesia tengah berada dalam momentum penting untuk mengubah arah ekonominya. Dengan bonus demografi yang masih berjalan hingga 2030-2040 dan ambisi menjadi negara maju, pertumbuhan ekonomi 8% bukan hanya sekadar harapan, melainkan kebutuhan strategis. Namun, pertumbuhan tinggi ini tidak mungkin tercapai tanpa fondasi industri yang kuat. Di sinilah sektor manufaktur memainkan peran sentral.
Sektor ini tidak hanya menciptakan barang, tetapi juga membuka lapangan kerja, memperkuat rantai pasok, menarik investasi asing, dan meningkatkan daya saing nasional. Jika Indonesia ingin mempercepat pertumbuhan ekonominya, investasi di sektor manufaktur harus menjadi prioritas utama.

Tantangan Struktural Sektor Manufaktur

Terlepas dari potensi besar yang dimiliki, sektor manufaktur di Indonesia masih menghadapi tantangan yang cukup kompleks. Pada tahun 2024, kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB sebesar 18,98%.Padahal pada tahun 2002 angkanya sempat menyentuh 32%. Salah satu hambatan terbesar adalah regulasi dan perizinan yang kerap membebani dunia usaha. Walaupun pemerintah telah menerapkan UU Cipta Kerja untuk menyederhanakan birokrasi, implementasi di lapangan masih belum optimal. Sering kali, perbedaan kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah menciptakan ketidakpastian bagi investor dan memperlambat realisasi investasi.
Selain itu, tingginya biaya logistik masih menjadi faktor yang mengurangi daya saing industri manufaktur Indonesia. Memang, berdasarkan data, dalam beberapa tahun terakhir ada penurunan biaya logistik dari 23,80% PDB tahun 2018 menjadi 14,29% PDB tahun 2023. Namun, angka ini masih lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara tetangga pada tahun 2023 seperti Malaysia sebesar 12,5% dan Thailand sebesar 13,2%. Infrastruktur transportasi yang belum sepenuhnya terintegrasi serta digitalisasi rantai pasok yang masih tertinggal menjadi tantangan yang harus segera diatasi.
Di sisi lain, tantangan terbesar mungkin datang dari kesiapan tenaga kerja. Revolusi industri 4.0 telah mengubah lanskap industri global, di mana keterampilan konvensional tidak lagi cukup untuk bersaing. Industri manufaktur modern semakin bergantung pada kecerdasan buatan, big data, dan otomasi. Sayangnya, kesenjangan keterampilan tenaga kerja Indonesia masih cukup lebar. Sistem pendidikan dan pelatihan vokasi perlu beradaptasi lebih cepat agar lulusan-lulusan baru siap memasuki dunia industri yang semakin berbasis teknologi.

Jalan Keluar: Hilirisasi dan Industri Berbasis Nilai Tambah

Di tengah berbagai tantangan yang ada, peluang besar justru terbuka lebar bagi sektor manufaktur Indonesia. Keberhasilan hilirisasi nikel yang mendorong pertumbuhan industri baterai menunjukkan bahwa Indonesia bisa lebih dari sekadar eksportir bahan mentah. Model ini bisa diperluas ke sektor lain seperti petrokimia, farmasi, dan elektronik. Hilirisasi bukan hanya memberikan nilai tambah yang lebih besar, tetapi juga mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap volatilitas harga komoditas global.
Selain itu, dunia saat ini tengah bergerak menuju ekonomi hijau, dan ini bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi investor. Industri berbasis energi terbarukan serta konsep circular economy semakin dilirik oleh investor global yang ingin berkontribusi dalam keberlanjutan lingkungan. Jika Indonesia mampu menawarkan regulasi dan insentif yang menarik untuk industri hijau, bukan tidak mungkin manufaktur berkelanjutan akan menjadi keunggulan baru bagi ekonomi nasional.

Menangkap Peluang Manufaktur Hijau dan Pasar Ekspor

Di sisi ekspor, peluang semakin terbuka dengan adanya perjanjian Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). Kesepakatan ini memberikan akses yang lebih luas ke pasar Asia Pasifik. Jika dimanfaatkan secara optimal, sektor manufaktur Indonesia bisa lebih agresif dalam menembus pasar global dan meningkatkan ekspor produk bernilai tambah tinggi.
Untuk menjadikan manufaktur sebagai pilar utama pertumbuhan ekonomi, dibutuhkan strategi yang terukur dan berkelanjutan. Salah satu langkah krusial adalah memperkuat insentif bagi investasi, terutama bagi sektor-sektor berorientasi ekspor dan teknologi tinggi. Tax holiday, super tax deduction untuk riset dan pengembangan (R&D), serta berbagai insentif berbasis produktivitas bisa menjadi magnet bagi investor.
Di saat yang sama, pengembangan kawasan industri yang lebih modern dan terintegrasi harus dipercepat. Kawasan yang memiliki akses mudah ke pelabuhan, energi hijau, serta infrastruktur logistik yang efisien akan meningkatkan daya saing manufaktur Indonesia. Tidak kalah penting, digitalisasi industri harus menjadi prioritas dalam pengembangan kawasan industri agar Indonesia tidak tertinggal dari negara-negara lain yang sudah lebih dulu menerapkan konsep smart manufacturing.
Peningkatan kualitas tenaga kerja juga harus dilakukan secara menyeluruh. Pendidikan vokasi perlu bertransformasi agar selaras dengan kebutuhan industri 4.0. Pelatihan berbasis teknologi seperti robotics, artificial intelligence, dan data analytics harus mulai diperkenalkan di berbagai tingkat pendidikan. Dunia usaha juga harus dilibatkan dalam pengembangan kurikulum agar lulusan yang dihasilkan benar-benar siap kerja dan mampu bersaing di era industri digital.
Selain itu, UMKM di sektor manufaktur perlu mendapat dukungan finansial yang lebih kuat. Banyak UKM memiliki potensi besar untuk tumbuh, tetapi terbatas oleh akses modal. Skema kredit berbasis kinerja ekspor bisa menjadi solusi agar UKM lebih mudah mendapatkan pembiayaan dan berkontribusi dalam rantai pasok industri manufaktur nasional.

Saatnya Manufaktur Menjadi Mesin Pertumbuhan Nasional

Tidak ada jalan pintas untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8%. Dibutuhkan kebijakan yang konsisten, investasi yang berkelanjutan, serta sinergi yang erat antara pemerintah, dunia usaha, dan akademisi. Jika strategi yang tepat diterapkan, manufaktur bisa menjadi mesin utama bagi transformasi ekonomi Indonesia.
Sejarah membuktikan bahwa negara-negara maju tidak mencapai kejayaannya hanya dengan mengandalkan ekspor komoditas. Mereka membangun industri yang kuat, menciptakan ekosistem yang kompetitif, dan terus berinovasi dalam teknologi. Indonesia memiliki potensi besar untuk mengikuti jejak tersebut.
Kini, pilihan ada di tangan kita. Apakah kita akan tetap bergantung pada sektor berbasis komoditas, ataukah kita berani mengambil langkah besar untuk menjadi pusat manufaktur unggulan di kawasan dan dunia? Jika kita ingin melihat Indonesia sebagai negara maju dalam dua dekade mendatang, maka investasi di sektor manufaktur harus menjadi prioritas utama mulai dari sekarang.
Trending Now