Konten dari Pengguna

Kolaborasi Cegah Stunting: Program Makan Bergizi Gratis untuk Generasi Emas

Althof endawansa
Tenaga Ahli Anggota DPR RI Komisi XII
30 Juni 2025 10:47 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Kolaborasi Cegah Stunting: Program Makan Bergizi Gratis untuk Generasi Emas
Program Makan Bergizi Gratis hadir sebagai langkah konkret cegah stunting dan membangun generasi emas. Kolaborasi seluruh elemen bangsa jadi kunci mewujudkan Indonesia sehat dan maju.
Althof endawansa
Tulisan dari Althof endawansa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber: Dokumentasi Tim Media Putri Zulkifli Hasan, S.Mn., M.Bus.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumentasi Tim Media Putri Zulkifli Hasan, S.Mn., M.Bus.
Indonesia di ambang era baru. Agenda besar menuju Indonesia Emas 2045 menempatkan kualitas sumber daya manusia sebagai kunci peradaban dan kemajuan bangsa. Namun, cita-cita itu menghadapi tantangan nyata: fakta bahwa 1 dari 5 anak Indonesia masih mengalami stunting (Kementerian Kesehatan RI, 2024). Stunting bukan sekadar statistik; ia adalah ancaman riil bagi masa depan bangsa yang dapat menurunkan kualitas hidup, produktivitas, bahkan daya saing Indonesia di tengah percaturan global.
Program Makan Bergizi Gratis yang diluncurkan pemerintah, didorong langsung oleh visi Presiden, bukanlah sekadar program bantuan makanan. Program ini merupakan bentuk revolusi sosial—mengintegrasikan hak dasar anak, transformasi budaya sehat, dan strategi swasembada pangan dalam satu gerakan nasional yang inklusif dan berkelanjutan.
Dari aspek kebijakan, Badan Gizi Nasional (BGN) telah menetapkan arsitektur ekosistem program berbasis data dan evidence-based policy (BGN, 2025). Sasaran pemenuhan gizi kini bukan hanya peserta didik di semua jenjang pendidikan (TK/PAUD, SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA, SMK, SLB, hingga pesantren), tetapi juga kelompok rentan: ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Inklusivitas ini adalah lompatan besar yang menghadirkan akses gizi seimbang bagi seluruh lapisan masyarakat, tidak lagi bersifat charity semata, melainkan investasi sosial jangka panjang yang berdampak sistemik.
Dasar hukum yang kuat yairu Permenkes No. 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi menjadi rujukan dalam implementasi program (Kementerian Kesehatan RI, 2019). Tidak hanya menyasar kecukupan energi dan protein, program ini juga merinci kebutuhan karbohidrat, serat, dan air untuk setiap kelompok umur, memastikan tidak ada ruang bagi malnutrisi terselubung atau hidden hunger yang selama ini sering luput dari perhatian publik.
Di lapangan, model pengelolaan Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) telah berjalan efektif. Dengan lebih dari 1.800 SPPG nasional dan 65 di Lampung, layanan gizi menjadi semakin dekat, masif, dan terkoordinasi (BGN, 2025). Tak kalah penting, hadirnya menu makanan lokal yang diadopsi dari kearifan pangan daerah, tidak hanya menjawab kebutuhan gizi, tapi juga memberdayakan petani lokal, pelaku UMKM, dan rantai pasok desa yang mendorong efek ekonomi berganda yang berkelanjutan.
Sumber: Dokumentasi Tim Media Putri Zulkifli Hasan, S.Mn., M.Bus.
Sebagai tenaga ahli Ketua Fraksi PAN DPR RI, saya menyaksikan langsung komitmen Ibu Putri Zulkifli Hasan yang tidak sekadar mengawal kebijakan dari Senayan, tapi juga turun memastikan implementasi di dapil Lampung berjalan tepat sasaran. Di era pemerintahan saat ini, kolaborasi lintas sektor, dari pemerintah daerah, tenaga kesehatan, hingga masyarakat sipil dan pelaku usaha lokal, menjadi kunci keberhasilan.
Penurunan stunting bukan sekadar target angka, melainkan gerakan nasional yang menuntut partisipasi dan kepemimpinan kolektif. Indonesia membutuhkan anak-anak yang sehat dan cerdas, bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk menjemput bonus demografi dan memenangkan kompetisi global. Program Makan Bergizi Gratis harus menjadi warisan bangsa: menghapus kelaparan, memperkuat ketahanan pangan, dan menyiapkan generasi emas yang siap bersaing di kancah dunia.
Sudah saatnya kita bergeser dari sekadar slogan menuju aksi nyata. Mari kita kawal bersama, kolaborasi tanpa sekat, untuk Indonesia yang lebih sehat, kuat, dan berdaulat. Sebab masa depan negeri ini, ditentukan oleh kualitas gizi dan karakter generasi penerusnya—dan itulah pondasi sejati menuju Indonesia Emas 2045.
Sumber Referensi:
Trending Now