Konten dari Pengguna

Paradoks Nikel Raja Ampat: Antara Tambang dan Surga Laut

Althof endawansa
Tenaga Ahli Anggota DPR RI Komisi XII
6 Juni 2025 10:20 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Paradoks Nikel Raja Ampat: Antara Tambang dan Surga Laut
Raja Ampat bisa jadi New Caledonia berikutnya: indah, lalu rusak. Di balik kilau logam nikel, tersembunyi ancaman bagi laut, budaya, dan generasi mendatang.
Althof endawansa
Tulisan dari Althof endawansa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber: https://pixabay.com/photos/piaynemo-raja-ampat-indonesia-2614341/
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: https://pixabay.com/photos/piaynemo-raja-ampat-indonesia-2614341/
Raja Ampat di Papua Barat Daya kerap disebut sebagai surga bawah laut. Jantung Segitiga Terumbu Karang dunia ini menyimpan 75% spesies karang di planet ini. Wisatawan mancanegara berduyun-duyun menyelam di air jernih di antara gugusan terumbu karang warna-warni, sementara masyarakat adat lokal menggantungkan hidup pada hasil laut dan pesona ekowisata. Ironisnya, di balik keelokan alam bak lukisan tersebut, denting alat berat tambang nikel mulai terdengar. Pulau-pulau kecil seperti Gag, Kawe, dan Manuran mulai dikupas perut buminya demi bijih nikel, membawa serta ancaman kerusakan lingkungan yang nyata.

Tambang Nikel Mengancam Surga Karang Raja Ampat

Aktivitas pertambangan nikel di Raja Ampat ibarat api dalam sekam. Laporan Greenpeace Indonesia menemukan lebih dari 500 hektar hutan dan vegetasi alami di Pulau Gag, Kawe, dan Manuran telah dibabat untuk tambang. Hutan-hutan yang dulu lebat kini menyisakan tanah terbuka. Ketika hujan turun, lumpur dan limbah mengalir ke laut. Sedimentasi dari limpasan tambang mulai mengotori pesisir dan mengancam menutupi terumbu karang yang rapuh. Padahal, terumbu karang inilah fondasi ekosistem laut Raja Ampat. Kehilangan terumbu karang berarti lenyapnya habitat ikan dan musnahnya daya tarik wisata selam yang menjadi kebanggaan daerah.
Para pakar mengingatkan bahwa logam berat seperti nikel sangat beracun bagi terumbu. Ia mampu membunuh larva karang dan anemon laut. Perairan Raja Ampat yang tadinya jernih berkilau bisa berubah keruh kecokelatan jika sedimen tambang terus mengalir. Peringatan ini menghadirkan deja vu menyakitkan. New Caledonia, wilayah di Pasifik dengan produksi nikel raksasa, telah lebih dulu merasakan pahitnya. Puluhan tahun penambangan terbuka di sana meninggalkan bukit gundul dan limbah logam berat. Erosi dari lahan tambang menyebabkan sedimen tebal menyelimuti sungai dan terumbu karang lepas pantai, menghancurkan ekosistem laut dan mencemari sumber air. Apakah Raja Ampat akan mengekor jejak kelam itu?
Lebih mengkhawatirkan lagi, kerusakan alam Raja Ampat langsung mengancam sendi ekonomi dan sosial masyarakat adat setempat. Lebih dari 50.000 jiwa penduduk asli Papua di 117 kampung pesisir hidup bergantung pada laut, dari nelayan tradisional hingga pemandu wisata dan pemilik homestay. Laut bagi mereka bukan hanya pemandangan indah, tetapi "toko sembako" dan "bank" tempat mereka mencari nafkah dan protein harian. Bila terumbu karang rusak dan ikan menghilang, mata pencaharian tradisional hilang. Nelayan terpaksa alih profesi, pemasukan keluarga anjlok, dan mata rantai kearifan lokal terputus.
Pulau Gag seluruhnya masuk konsesi tambang, membuat warga cemas tentang masa depan tanah ulayat mereka. Seorang tetua adat Gag, Saharin Sidik, merasa "tertipu" telah menandatangani surat pelepasan tanah kepada perusahaan tanpa disadari. Lembar kosong yang kemudian hari baru ia tahu berarti menyerahkan hak mereka. "Di mana anak cucu kami nanti akan tinggal?" ujarnya pilu saat menyadari seluruh pulau terancam dikuasai tambang. Sekitar 1.000 penduduk Pulau Gag kini was-was akan kemungkinan terusir dari tanah leluhur mereka sendiri.

Belajar dari Filipina dan New Caledonia

Pertarungan antara tambang nikel versus kelestarian alam bukan monopoli Indonesia. Filipina dan New Caledonia adalah contoh nyata bagaimana konflik serupa terjadi, dan bagaimana respons berbeda memberi pelajaran berharga.
Di Filipina, provinsi Palawan kerap disandingkan dengan Raja Ampat: sama-sama disebut last ecological frontier ataubenteng terakhir ekologi dengan hutan hujan lebat, laut kaya biodiversitas, dan masyarakat adat yang bergantung pada alam
Povinsi Palawan menghadapi invasi tambang nikel dalam dekade terakhir, memicu penolakan luas karena mengancam hutan dan terumbu karang setempat. Para pemimpin lokal Palawan mengambil langkah berani dengan melakukan moratorium 50 tahun tambang baru di seluruh provinsi tersebut. Kebijakan visioner ini dipuji sebagai langkah tepat untuk memastikan kelangsungan komunitas lokal di tengah krisis lingkungan global. Meskipun pemerintah pusat kerap berseberangan dengan kebijakan lingkungan lokal, ketegasan Palawan menunjukkan nilai keberpihakan pada lingkungan.
Sebaliknya, New Caledonia adalah contoh bagaimana dampaknya bila tambang digenjot tanpa ampun. Negeri kecil ini menyimpan cadangan nikel terbesar dunia dan selama puluhan tahun menjadi penyuplai utama pasar global. Penambangan terbuka besar-besaran mengoyak lanskap. Lumpur merah sisa tambang mengalir ke laut, menyelimuti terumbu karang dan membunuh ekosistem pesisir. Insiden besar terjadi pada tahun 2014 ketika kebocoran 100 ribu liter limbah asam ke sungai menewaskan ribuan ikan. Warga marah, protes massal terjadi, kendaraan dan fasilitas tambang dibakar, dan akhirnya operasi tambang dihentikan.

Menjaga Ekosistem, Menata Ulang Kebijakan

Raja Ampat adalah pusaka dunia. Terumbu karangnya yang megah, hutan dan budaya manusianya yang unik, tidak ternilai harganya. Sekali rusak, tidak ada tambal sulam teknologi yang mampu mengembalikan kemegahan ekosistem seperti sediakala. Nilai ekonomi jangka pendek tambang nikel tak sebanding dengan potensi jangka panjang pariwisata bahari dan perikanan berkelanjutan di Raja Ampat.
Saat ini, pemerintah pusat telah menunjukkan sinyal positif dengan menghentikan sementara tambang dan menjanjikan evaluasi menyeluruh. Ini momentum krusial untuk refleksi kebijakan. Sudah waktunya pemerintah mempertimbangkan moratorium tambang di kawasan berisiko tinggi ekologis. Penataan ulang tata ruang Papua Barat Daya juga mendesak. Area berstatus konservasi dan berdekatan dengan lokasi wisata dunia semestinya steril dari tambang.
Perusahaan tambang wajib diawasi ketat. Setiap pelanggaran harus ditindak tegas. Masyarakat adat pun perlu dilibatkan sebagai garda depan pengawasan. Transisi menuju ekonomi hijau tidak boleh mengorbankan emas hijau sejati kita: hutan tropis, laut kaya ikan, dan keanekaragaman hayati.
Raja Ampat adalah warisan dunia. Daripada menambang habis kekayaan alam yang tak tergantikan, lebih baik kita "menambang" kebijakan berkelanjutan dan inovasi. Jangan sampai generasi mendatang hanya bisa membaca keindahan Raja Ampat dari buku sejarah karena kelalaian kita hari ini. Sudah saatnya semua pihak berbenah, selamatkan Raja Ampat sekarang juga, sebelum surga itu benar-benar hilang tak bersisa.
Trending Now