Konten dari Pengguna
Dunia Dalam Ancaman Perang yang Tidak Pernah Berakhir
28 November 2025 0:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Dunia Dalam Ancaman Perang yang Tidak Pernah Berakhir
Tulisan ini akan mengulas alasan di balik sulitnya dunia mencapai perdamaian karena paradoks keamanan, luka sejarah, dan ketimpangan global.Alviss Davie Hunafa
Tulisan dari Alviss Davie Hunafa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap kali dunia memasuki babak baru entah itu lewat perjanjian damai, perubahan rezim, atau kemajuan teknologi, selalu muncul harapan bahwa kali ini umat manusia akan belajar hidup berdampingan tanpa perang. Tapi entah kenapa konflik selalu menemukan jalannya. Dari perang antar negara, perang saudara, sampai perang dingin berbentuk ekonomi atau informasi. Semua seolah menunjukkan satu hal, bahwa perdamaian global adalah impian yang sangat susah dicapai.
Masalahnya bukan karena manusia secara alami suka perang, tapi karena sistem dunia dan dinamika sosial-politik yang berjalan sering kali justru memelihara ketegangan. Ada tiga hal besar yang membuat dunia terus sulit damai. Kepentingan nasional dan paradoks keamanan, luka sejarah dan identitas kolektif, serta ketimpangan global dan struktur ketidakadilan.
Paradoks Keamanan
Dalam buku Cooperation under the security dilemma, dijelaskan bahwa setiap negara pada dasarnya ingin aman. Tapi anehnya, upaya untuk menjadi aman sering justru menciptakan rasa tidak aman bagi negara lain, inilah yang disebut security dilemma atau paradoks keamanan. Misalnya, ketika satu negara memperkuat militernya untuk pertahanan, negara tetangga merasa terancam dan ikut memperkuat militernya juga. Akhirnya, semua merasa tidak aman dan kemungkinan konflik meningkat.
Contohnya jelas dalam hubungan Amerika Serikat dan Tiongkok. Ketika AS meningkatkan aliansinya di kawasan Indo-Pasifik melalui AUKUS atau Quad, Tiongkok menanggapinya sebagai ancaman terhadap kedaulatannya dan memperkuat kekuatan militernya di Laut Cina Selatan. Akibatnya, kawasan Asia Timur yang seharusnya bisa jadi pusat ekonomi dunia malah terjebak dalam ketegangan geopolitik.
Ironisnya dalam sistem internasional yang anarkis, yaitu sistem tanpa otoritas tertinggi yang bisa menjamin keamanan semua pihak, negara cenderung mengandalkan kekuatan sendiri seperti yang dijelaskan Kenneth Waltz dalam teori realisme struktural. Jadi, meskipun semua negara mengaku ingin damai, sistemnya sendiri tidak memungkinkan kepercayaan penuh antaraktor.
Luka Sejarah dan Identitas Kolektif
Selain kepentingan strategis, banyak konflik juga muncul dari luka sejarah dan identitas kolektif yang belum sembuh. Luka sejarah ini sering diwariskan lintas generasi dan membentuk cara suatu bangsa memandang diri mereka sendiri dan kelompok yang mereka anggap musuh.
Contohnya bisa dilihat dalam konflik Israel-Palestina yang terus berlangsung sejak pertengahan abad ke-20. The question of Palestine oleh Edward Said menjelaskan kompleksitas konflik Israel-Palestina yang tak kunjung usai. Bagi Israel, keamanan dan tanah air adalah kompensasi atas sejarah panjang diskriminasi dan Holocaust. Bagi Palestina, tanah itu adalah simbol kehilangan dan ketidakadilan kolonial. Kedua narasi ini sama-sama kuat secara emosional, sehingga kompromi menjadi sangat sulit.
Contoh lain adalah ketegangan antara Korea Selatan dan Jepang. Meski secara ekonomi dan diplomatik mereka sudah maju, isu sejarah seperti comfort women dan penjajahan Jepang masih menjadi batu sandungan dalam hubungan mereka. Luka sejarah semacam ini menciptakan ingatan kolektif yang terus mempengaruhi kebijakan luar negeri dan sikap publik tiap negara.
Pada akhirnya, konflik yang didorong oleh memori sejarah dan identitas nasional tidak selalu bisa diselesaikan dengan diplomasi rasional. Mereka butuh proses penyembuhan sosial, pendidikan lintas generasi, dan rekonsiliasi budaya yang dalam. Hal ini sering kali diabaikan dalam politik internasional yang serba cepat dan pragmatis.
Ketimpangan Global dan Struktur Ketidakadilan
Selain kepentingan dan sejarah, dunia juga sulit damai karena struktur ekonomi dan politik global yang timpang. Negara-negara maju sering memegang kendali atas sumber daya, teknologi, dan lembaga internasional, sementara negara berkembang terjebak dalam posisi yang lebih lemah.
Sistem ekonomi global yang dibangun sejak masa kolonial menciptakan ketergantungan, seperti yang dijelaskan oleh Andre Gunder Frank dalam dependency theory. Ketimpangan ini membuat banyak negara di Global South merasa bahwa aturan internasional sebenarnya dibuat untuk kepentingan negara-negara kaya.
Misalnya, konflik di Afrika atau Timur Tengah sering kali dipicu oleh perebutan sumber daya yang dikendalikan oleh korporasi multinasional. Negara-negara di kawasan itu bukan hanya berhadapan dengan lawan di dalam negeri, tapi juga dengan struktur ekonomi dunia yang tidak adil. Ketika kemiskinan, utang luar negeri, dan perubahan iklim memperburuk kondisi mereka, muncul siklus baru kekerasan dan instabilitas.
Selama sistem global masih menempatkan sebagian besar dunia dalam posisi subordinat, kedamaian akan tetap jadi kemewahan. Perdamaian sejati hanya mungkin kalau ada keadilan, bukan sekadar tidak adanya perang.
Kalau dilihat dari ketiga faktor di atas, kedamaian bukan cuma soal moralitas atau diplomasi, tapi soal struktur kekuasaan dan persepsi. Dunia mungkin sudah punya banyak lembaga internasional seperti PBB atau ASEAN, tapi selama kepentingan nasional, identitas sejarah, dan ketimpangan struktural masih mendominasi, konflik akan terus mencari bentuk baru.
Jadi, kenapa dunia sangat susah damai? Karena dunia ini belum benar-benar adil, belum bisa saling percaya, dan masih sibuk memperjuangkan narasinya masing-masing. Kedamaian global bukan sesuatu yang bisa dicapai dengan menandatangani perjanjian semata, ia harus dibangun lewat pemahaman, keadilan, dan keberanian untuk mengakui bahwa kita semua pernah, dan mungkin masih, menjadi bagian dari masalah.

