Konten dari Pengguna

Tarot, Manifesting, dan Rasa Kendali Gen Z

Alyssa Fathiah Rahmah
Mahasiswa Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
24 Desember 2025 8:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Tarot, Manifesting, dan Rasa Kendali Gen Z
Fenomena tarot dan manifesting di kalangan Gen Z sebagai cara mencari rasa kendali dan ketenangan di tengah kecemasan hidup, ditinjau dari sudut pandang psikologi populer.
Alyssa Fathiah Rahmah
Tulisan dari Alyssa Fathiah Rahmah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi kartu tarot. Foto oleh petr sidorov di Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kartu tarot. Foto oleh petr sidorov di Unsplash
Pernahkah kamu menonton konten tarot di media sosial lalu merasa seolah pesan yang disampaikan sedang berbicara langsung tentang hidupmu? Padahal, pembaca tarot tidak mengenalmu secara personal. Namun entah mengapa, narasi yang muncul terasa relevan dan menenangkan.
Fenomena ini cukup dekat dengan keseharian Gen Z. Di tengah kecemasan akan masa depan, relasi, dan pencarian arah hidup, tarot dan manifesting kerap menjadi tempat singgah emosional. Bukan semata karena ramalannya, melainkan karena ada rasa dipahami dan diberi pegangan, meski hanya sesaat.

Tarot sebagai Simbol Diri

Dalam salah satu diskusi yang diunggah melalui YouTube, Drs. Hisyam A. Fachri, seorang psikolog yang juga mengembangkan Tarot Nusantara, menjelaskan bahwa tarot tidak dipahami sebagai alat untuk meramal masa depan secara mutlak, melainkan sebagai media simbolik. Kartu-kartu tarot berisi gambar yang dapat memancing refleksi terhadap pikiran dan perasaan yang sebenarnya sudah ada dalam diri seseorang.
Secara psikologis, simbol visual sering digunakan sebagai sarana refleksi diri. Ketika seseorang merasa pesan tarot “kena”, bisa jadi itu bukan karena kartu tersebut mengetahui masa depannya, melainkan karena simbol yang muncul selaras dengan kondisi emosional yang sedang dialami.

Ilusi Kendali dalam Tarot

Gen Z tumbuh di era yang penuh perubahan cepat dan ketidakpastian. Tekanan akademik, tuntutan sosial, hingga kecemasan ekonomi membuat banyak anak muda merasa hidupnya sulit diprediksi. Dalam kondisi seperti ini, manusia cenderung mencari sesuatu yang memberi rasa kendali.
Psikologi mengenal konsep illusion of control, yaitu kecenderungan individu merasa memiliki kendali atas situasi yang sebenarnya tidak sepenuhnya bisa dikontrol. Tarot dan manifesting, dalam konteks ini, menawarkan narasi yang menenangkan: seolah ada arah dan makna di balik ketidakpastian yang sedang dihadapi.

Mengapa Tarot Terasa Relevan

Konten tarot umumnya disampaikan dengan bahasa yang luas dan terbuka, sehingga mudah dikaitkan dengan berbagai pengalaman hidup. Fenomena ini dikenal sebagai Barnum Effect, ketika pernyataan umum terasa sangat personal bagi banyak orang.
Selain itu, manusia memiliki kecenderungan untuk mencari pola dan makna dalam stimulus yang ambigu. Saat berada dalam kondisi emosional tertentu, otak akan lebih mudah mengaitkan simbol atau pesan dengan pengalaman pribadi. Hal inilah yang membuat tarot terasa “mengerti”, meskipun maknanya dibentuk oleh pembaca itu sendiri.

Dampak pada Regulasi Emosi

Ilustrasi respon emosional. Foto oleh Anthony Tran di Unsplash
Tarot dan manifesting dapat berfungsi sebagai sarana refleksi dan penenang emosi, selama tidak dijadikan satu-satunya penentu keputusan hidup. Ketika rasa kendali sepenuhnya diserahkan pada simbol di luar diri, individu berisiko kehilangan kemampuan untuk mengenali dan mengelola emosinya secara mandiri.
Namun jika disikapi dengan kesadaran, tarot dapat membantu seseorang berhenti sejenak, mengenali perasaan, dan memikirkan kembali langkah yang akan diambil. Dalam batas tertentu, simbol-simbol ini menjadi alat refleksi, bukan penentu masa depan.
Di tengah kecemasan hidup yang nyata, wajar jika Gen Z mencari pegangan. Tarot dan manifesting, jika dilihat dari sudut pandang psikologi, bukan sekadar tren spiritual, melainkan cerminan kebutuhan manusia untuk merasa aman dan memiliki arah. Selama disikapi secara kritis, rasa kendali yang muncul dapat menjadi titik awal untuk memahami diri—bukan menggantikan kendali atas hidup itu sendiri.
Trending Now