Konten dari Pengguna

Di Tangan Asep, Limbah Kelapa Menjelma Kisah Hidup yang Menembus Benua

Amelia
Undergraduate Communication Science Student at Universitas Padjadjaran
14 Desember 2025 3:40 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Di Tangan Asep, Limbah Kelapa Menjelma Kisah Hidup yang Menembus Benua
Dari limbah kelapa, Asep Ali Imron menyulap kreativitas menjadi usaha yang menembus Afrika hingga Eropa. Saung Kalapa lahir dari hobi, ketekunan, dan cintanya pada Pangandaran.
Amelia
Tulisan dari Amelia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di sebuah sudut Desa Karangbenda, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, hidup seorang lelaki yang menjalani harinya dengan ritme tidak tergesa, ritme yang telah menyatu dengan hiruk-pikuk alami daerah asalnya. Namanya Asep Ali Imron, S.Sn. (50), alumni ISI Yogyakarta jurusan Kriya yang lulus pada tahun 1998. Setiap pagi ia memulai hari dengan beribadah, mengurus rumah, lalu bersiap menghadapi pekerjaannya, yaitu dunia kerajinan yang telah menjadi bagian dari dirinya. Dengan sebatang rokok yang sesekali ia hisap perlahan, ia bercerita tentang hidupnya yang berjalan tenang, tetapi penuh arah dan keteguhan.
(Foto: Amelia)
zoom-in-whitePerbesar
(Foto: Amelia)
Kecintaan Pak Asep pada seni muncul jauh sebelum ia memahami apa itu kriya secara akademik. Ia tumbuh dengan kegemarannya dalam melukis, hobi yang akhirnya mengantarkannya untuk memperdalam seni secara formal. Setelah menyelesaikan pendidikannya, ia pulang kampung dan menikah. Ia juga mulai bekerja sebagai pengajar di sekolah yang ada di Kabupaten Ciamis selama satu tahun, setelahnya ia bekerja selama tiga tahun sebagai HRD di Indofood. Ada masa ketika Pak Asep juga bekerja sebagai pelukis wallpaper, pengalaman yang memperkaya ketangkasannya dalam mengolah visual.
Suatu titik penting terjadi ketika ia memegang perusahaan kecap Cap Jago, usaha turun-temurun keluarganya. Namun di balik kesibukan itu, hatinya tetap terpaut pada seni dan keinginan untuk berkontribusi lebih besar bagi daerahnya. Pangandaran adalah kota wisata, dan ia melihat peluang untuk menciptakan sesuatu yang dapat menjadi bagian dari identitas daerah. Dari sinilah gagasan itu muncul, gagasan untuk memanfaatkan apa yang mudah ditemui di Pangandaran, yaitu kelapa.
Ia mulai menelaah potensi apa yang bisa dikembangkan dari batang dan batok kelapa. Bukan sekadar memanfaatkan bahan, ia ingin mengolah limbah menjadi sesuatu yang punya nilai. Pada tahun 2010, ia menciptakan sebuah merek, yaitu Saung Kalapa. Dari ruangan kerja yang sederhana, tumbuh sebuah usaha yang kemudian dilirik pemerintah, diundang mengikuti berbagai pameran, dan akhirnya dikenal hingga mancanegara. Ia mengisap rokok, melepaskan asapnya perlahan, lalu menyebut bahwa semuanya ia jalani dengan tenang, tanpa paksaan, “karena pekerjaan ini adalah hobi saya.”
Kini, produk Saung Kalapa telah menempuh perjalanan jauh. Karyanya pernah sampai ke Swiss, Afrika, Jepang, negara-negara Eropa, dan beberapa wilayah lain yang tak ia sebutkan satu per satu. Baginya, keberhasilan menembus pasar luar negeri bukan sesuatu yang harus diteriakkan. Ia justru menekankannya dengan nada sederhana: jika suatu karya benar-benar punya nilai, orang akan mencarinya. Pemerintah, perusahaan swasta, hotel-hotel, hingga media massa pernah menampilkan hasil karyanya. Ia sering mengikuti pameran dan aktif berkomunikasi dengan pihak-pihak luar negeri. Semua itu dilakukan secara konsisten.
Beberapa produk karya Pak Asep (Foto: Amelia)
Saung Kalapa menjual produk dengan harga yang bervariasi, mulai dari lima ribu rupiah hingga jutaan rupiah, tergantung tingkat kerumitan dan permintaan konsumen. Banyak diantaranya merupakan pesanan khusus. Konsumennya beragam, mulai dari wisatawan luar daerah hingga pengunjung mancanegara yang tertarik pada karya berbahan dasar kelapa. Ia memasarkan produknya secara offline dan online, tetapi lebih sering memenuhi permintaan custom yang memberi ruang luas bagi kreativitasnya.
Meski terlihat santai, ada bagian dari pekerjaannya yang menurutnya paling menantang, yaitu mempekerjakan orang. Ia menuturkan bahwa keterampilan orang awam perlu waktu dan kesabaran untuk dibentuk. “Skill harus diasah dulu,” katanya sambil mengetukkan abu rokok di ujung jari. Bagian tersulit lainnya pernah datang pada masa-masa COVID-19, usahanya menurun hingga 75 persen. Namun Pak Asep bertahan, sebab ia merasa pekerjaan ini bukan sekadar usaha, tetapi hobi yang sudah menjadi bagian dari hidupnya.
Ia menganggap persaingan sebagai sesuatu yang wajar. Cara menghadapinya sederhana tetapi kuat. Ia terus belajar, mengikuti tren, dan mencari referensi tidak hanya dari lokal, tetapi juga mancanegara. Pinterest menjadi salah satu sumber idenya. Ia percaya bahwa kreativitas harus diperbarui agar tetap relevan.
Ada satu pandangan yang ia sampaikan dengan penuh makna. Ia menganggap pekerjaan sebagai ibadah. Menurutnya, manusia ditugaskan untuk menghasilkan sesuatu: mencari makan, minum, dan memenuhi kebutuhan hidup. Uang hanyalah bonus. Bagian utama dari pekerjaan adalah berpikir, dan kemampuan berpikir itu sendiri adalah pekerjaan yang wajib dijalani manusia. Ia menghembuskan asap rokok dan tersenyum kecil ketika mengatakan hal itu.
Pencapaian terbesar baginya tidak diukur lewat negara mana saja yang telah mengenal produknya. Pencapaian itu terletak pada kemampuannya mencukupi kebutuhan keluarga dan tetap konsisten pada pekerjaan yang menjadi hobinya. Ia merasa hidupnya sudah cukup dan ingin menjalaninya dengan apa adanya.
Untuk Pangandaran, ia menyimpan harapan jangka pendek dan jangka panjang. Dalam waktu dekat, ia ingin ada peraturan bupati mengenai ciri khas cinderamata Pangandaran, sebuah langkah yang bisa menguatkan identitas daerah. Harapan jangka panjangnya ialah agar ilmu dan produknya dapat bermanfaat bagi masyarakat luas, bukan hanya dirinya.
Baginya, setiap orang memiliki kreativitas baik itu seni rupa, musik, atau bidang lainnya. Kreativitas harus digali, dipelajari, dan diperdalam hingga menjadi keahlian. Ia bahkan menanggapi anggapan bahwa seni adalah jurusan “kurang masa depan” dengan pandangan yang tegas: seni justru punya peluang yang sangat besar karena lahir dari karya orisinal. Ia meminta anak muda untuk mengabaikan pendapat mengecilkan semacam itu.
Di akhir ceritanya, dengan ketenangan yang konsisten sejak awal, ia berharap Saung Kalapa dapat bertahan lama, menjadi pionir kerajinan kelapa di Pangandaran, serta menjadi inspirasi bagi generasi muda bahwa limbah pun bisa berubah menjadi karya bernilai.
Dari kelapa yang sederhana, Pak Asep membuktikan bahwa sebuah karya dapat menempuh perjalanan jauh hingga benua lain asal dibuat dengan tekun, jujur, dan tanpa tergesa.
Trending Now