Konten dari Pengguna

Refleksi Hari Pahlawan: Pemuda Sebagai Penggerak Etika Publik dan Demokrasi

Andi Maulana
Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan, Direktur Eksekutif Kamus Institute
11 November 2025 12:40 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Refleksi Hari Pahlawan: Pemuda Sebagai Penggerak Etika Publik dan Demokrasi
Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan sebagai bentuk penghormatan terhadap para pejuang yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan.
Andi Maulana
Tulisan dari Andi Maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Hari Pahlawan. Sumber: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Hari Pahlawan. Sumber: Unsplash
Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan sebagai bentuk penghormatan terhadap para pejuang yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan. Namun, memperingati Hari Pahlawan seharusnya tidak berhenti pada seremoni dan penghormatan simbolik semata.
Momentum ini justru harus menjadi refleksi mendalam tentang bagaimana nilai-nilai kepahlawanan dapat diterjemahkan dalam konteks kekinian, khususnya oleh generasi muda. Di tengah perubahan sosial dan politik yang cepat, kepahlawanan tidak lagi identik dengan mengangkat senjata, melainkan dengan keberanian moral dan intelektual untuk menjaga etika publik serta menegakkan demokrasi yang berkeadaban.
Kepahlawanan di era modern menuntut keberanian yang berbeda: bukan lagi melawan penjajahan fisik, melainkan melawan arus pragmatisme, korupsi nilai, dan degradasi moral yang menggerus sendi-sendi kehidupan berbangsa.
Tantangan terbesar generasi muda saat ini bukan hanya pada persoalan ekonomi atau teknologi, tetapi pada kemampuan menjaga nalar sehat, kejujuran, dan integritas di tengah derasnya arus informasi dan kepentingan politik yang sering kali menyesatkan. Dalam hal ini, pemuda dituntut tidak hanya menjadi penonton atau pengikut tren, melainkan pelaku aktif yang menegakkan nilai-nilai kepahlawanan dalam praktik sosial dan kebijakan publik.
Realitas demokrasi di Indonesia menunjukkan bahwa etika publik tengah menghadapi ujian berat. Maraknya praktik politik uang, penyalahgunaan kekuasaan, serta rendahnya akuntabilitas lembaga publik menjadi potret buram yang menodai cita-cita reformasi. Bahkan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dalam beberapa kesempatan menyoroti bahwa etika demokrasi Pancasila kini mulai tergerus oleh kepentingan politik jangka pendek.
Dalam situasi seperti ini, kehadiran generasi muda sebagai penjaga integritas dan moral publik menjadi sangat penting. Pemuda harus berani bersikap kritis, namun tetap konstruktif, terhadap arah kebijakan dan perilaku elite yang bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi.
Perkembangan teknologi digital telah memberi ruang baru bagi partisipasi pemuda dalam politik dan kebijakan publik. Media sosial menjadi medan baru bagi perjuangan ide dan nilai. Riset terbaru menunjukkan bahwa generasi muda kini aktif menggunakan media sosial seperti Instagram, TikTok, dan X untuk menyuarakan pendapat politik serta mengadvokasi isu-isu sosial.
Namun, di sisi lain, ruang digital juga menjadi lahan subur bagi disinformasi, polarisasi, dan ujaran kebencian yang justru menggerus kualitas demokrasi. Di sinilah pentingnya etika publik: kemampuan untuk menggunakan kebebasan berekspresi secara bertanggung jawab, dengan literasi digital yang matang dan orientasi moral yang kuat.
Momentum Hari Pahlawan seharusnya menjadi pengingat bahwa keberanian moral adalah inti dari setiap perjuangan. Di masa lalu, para pahlawan mempertaruhkan nyawa demi kebenaran dan keadilan.
Kini, generasi muda dituntut untuk mempertaruhkan kenyamanan dan kepentingan pribadi demi menjaga kejujuran, menegakkan hukum, dan membangun kebijakan yang berpihak pada rakyat. Keberanian semacam ini bukan hal mudah di tengah budaya politik yang cenderung pragmatis. Tetapi, di sinilah makna kepahlawanan sejati diuji: berani jujur ketika mayoritas memilih kompromi, dan berani bersuara ketika banyak memilih diam.
Beberapa isu aktual memperlihatkan betapa pentingnya peran pemuda dalam menjaga moral publik. Kasus penyalahgunaan kekuasaan, pelanggaran etik pejabat publik, hingga kontroversi hukum yang tidak berpihak pada keadilan sosial, semuanya membutuhkan pengawasan moral dari masyarakat sipil, terutama generasi muda yang memiliki idealisme dan semangat perubahan.
Ketika mahasiswa turun ke jalan untuk menolak kebijakan yang dinilai tidak adil, atau ketika komunitas muda mendorong transparansi anggaran melalui inisiatif digital, mereka sedang menjalankan bentuk kepahlawanan baru: membela kepentingan publik dengan cara yang cerdas dan bermartabat.
Di ranah pendidikan, etika publik juga perlu diperkuat. Dunia kampus tidak boleh hanya menjadi menara gading yang sibuk dengan teori, tetapi harus menjadi laboratorium etika dan demokrasi yang hidup. Mahasiswa sebagai kelompok intelektual muda harus dilatih untuk berpikir kritis, berdebat dengan sopan, dan berpartisipasi dalam proses kebijakan tanpa kehilangan nilai kemanusiaan.
Kebijakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang menggalakkan hibah riset dan kolaborasi akademik antar mahasiswa serta dosen adalah langkah positif untuk menumbuhkan budaya intelektual yang berdaya guna. Ketika ilmu dan kebijakan bertemu dalam ruang etika, di situlah lahir generasi pahlawan baru yang berani berpikir dan bertindak untuk kebaikan bersama.
Namun, perjuangan menjaga etika publik tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada pemuda. Negara dan lembaga publik juga harus menegaskan komitmennya terhadap nilai-nilai integritas dan keadilan. Pendidikan karakter, penegakan hukum yang konsisten, serta keterbukaan informasi publik harus menjadi kebijakan nyata yang menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem demokrasi.
Jika negara abai terhadap nilai etika publik, maka idealisme pemuda akan layu dalam ketidakpercayaan dan sinisme terhadap politik. Karena itu, kemitraan moral antara pemuda dan negara menjadi syarat utama untuk melanjutkan perjuangan para pahlawan ke dalam konteks kontemporer.
Refleksi Hari Pahlawan 2025 juga menjadi momen untuk meninjau kembali arah demokrasi kita. Demokrasi yang sehat bukan hanya tentang kebebasan memilih, tetapi tentang keberanian untuk menjaga integritas dalam setiap aspek kehidupan publik.
Pemuda memiliki energi, kreativitas, dan kemampuan adaptif yang luar biasa untuk membawa perubahan ini. Mereka harus menjadi pionir dalam memperjuangkan kebijakan publik yang berkeadilan, dalam mendorong birokrasi yang bersih, dan dalam menjaga agar ruang publik tidak dikuasai oleh kepentingan pragmatis.
Akhirnya, kepahlawanan masa kini adalah tentang keberanian untuk hidup dengan nilai-nilai luhur di tengah dunia yang sering kali abai terhadap moralitas. Etika publik dan demokrasi yang beradab hanya dapat tumbuh jika generasi muda mengambil peran aktif sebagai penjaga nurani bangsa.
Refleksi Hari Pahlawan bukan hanya seruan untuk mengenang jasa para pendahulu, tetapi juga ajakan untuk menyalakan kembali api kepahlawanan dalam diri setiap pemuda Indonesia agar demokrasi kita bukan sekadar sistem, melainkan jiwa yang hidup dan berakar pada kejujuran, tanggung jawab, serta cinta terhadap kebenaran.
Trending Now