Konten dari Pengguna
Refleksi Hari Sumpah Pemuda ke-97: Semangat Persatuan di tengah Perubahan Zaman
29 Oktober 2025 9:00 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Refleksi Hari Sumpah Pemuda ke-97: Semangat Persatuan di tengah Perubahan Zaman
Tanggal 28 Oktober selalu menjadi momentum berharga dalam perjalanan bangsa Indonesia. Hari Sumpah Pemuda bukan sekadar ritual tahunan, tetapi pengingat bahwa lahirnya kesadaran nasional. #userstoryAndi Maulana
Tulisan dari Andi Maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tanggal 28 Oktober selalu menjadi momentum berharga dalam perjalanan bangsa Indonesia. Hari Sumpah Pemuda bukan sekadar ritual tahunan, melainkan pengingat bahwa lahirnya kesadaran nasional berawal dari tekad para pemuda pada 1928 yang berani melampaui sekat kedaerahan dan menegaskan satu identitas, Indonesia. Kini, 97 tahun kemudian, semangat itu tetap menjadi fondasi moral dan ideologis dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.
Dalam konteks modern, peringatan ini tidak lagi berkutat pada perjuangan fisik melawan penjajahan, tetapi perjuangan melawan kemunduran moral, disinformasi digital, dan ketimpangan sosial-ekonomi. Refleksi Hari Sumpah Pemuda menjadi relevan untuk menilai sejauh mana bangsa ini tetap memelihara api persatuan dan semangat kebangsaan di tengah derasnya arus globalisasi dan teknologi.
Semangat Historis dalam Konteks Kekinian
Sumpah Pemuda adalah manifestasi kesadaran kolektif bahwa kemajuan bangsa tidak mungkin dicapai tanpa persatuan. Namun, dalam dunia yang serba terfragmentasi oleh media sosial dan kepentingan pragmatis, makna persatuan sering kali kabur. Generasi muda kini menghadapi paradoks: di satu sisi, memiliki akses tak terbatas terhadap informasi global; di sisi lain, rentan terhadap polarisasi dan disorientasi nilai.
Refleksi ke-97 tahun Sumpah Pemuda seharusnya mengajak kita untuk menegaskan kembali nilai dasar kebangsaan: gotong royong, integritas, dan kemandirian berpikir. Tantangan terbesar pemuda saat ini bukan pada kurangnya kecerdasan intelektual, melainkan pada lemahnya kesadaran moral dalam menggunakan kecerdasan itu untuk kemaslahatan bersama.
Antiklimaks dan Kontroversi sebagai Cermin Sosial
Fenomena antiklimaks dalam berbagai bidang, seperti olahraga dunia atau proyek-proyek besar nasional, dapat menjadi bahan refleksi bagi bangsa ini. Kegaduhan publik terhadap hasil Piala Dunia maupun kontroversi seputar proyek Danantara Whoosh memperlihatkan bahwa masyarakat kini semakin kritis terhadap makna kemajuan. Publik tidak hanya ingin βcepatβ, tetapi juga βtepatβ, yakni kemajuan yang selaras dengan keadilan dan transparansi.
Bagi pemuda Indonesia, situasi ini menjadi pelajaran penting bahwa kemajuan sejati tidak hanya diukur dari capaian fisik atau teknologi, tetapi dari kedewasaan berpikir dan etika sosial. Antiklimaks dan kontroversi bukanlah tanda kemunduran, melainkan refleksi bahwa bangsa sedang belajar memahami keseimbangan antara euforia dan tanggung jawab.
Pemuda dalam Arus Disrupsi dan Tantangan Moral
Era digital telah mengubah cara generasi muda berinteraksi, berpikir, dan menilai realitas. Akses terhadap informasi yang cepat dan terbuka memang memberi peluang besar, tetapi juga menciptakan ruang manipulasi opini. Di sinilah pentingnya literasi digital dan etika berpikir kritis. Pemuda Indonesia harus menjadi pengguna teknologi yang bijak, bukan sekadar konsumen algoritma.
Dalam konteks ini, Sumpah Pemuda ke-97 mengingatkan kembali bahwa kemerdekaan berpikir adalah bentuk tertinggi dari kebebasan. Kemerdekaan bukan hanya bebas dari penjajahan politik, tetapi juga dari belenggu kebodohan, intoleransi, dan apatisme. Bangsa yang kuat tidak dibangun oleh banyaknya sarjana, tetapi oleh banyaknya pemuda yang memiliki kesadaran etik dan intelektual.
Optimisme sebagai Jalan Kebangsaan
Optimisme menjadi benang merah dari setiap refleksi Sumpah Pemuda. Meski dunia tampak semakin rumit, selalu ada ruang bagi bangsa yang percaya pada kekuatan kolektifnya. Dalam kerangka pembangunan nasional, kritik dan harapan harus berjalan seiring. Pemuda tidak boleh terjebak dalam sinisme, tetapi menjadikan setiap krisis sebagai peluang untuk memperbaiki diri dan lingkungannya.
Optimisme yang sejati bukanlah sikap naif yang menutup mata terhadap persoalan, melainkan keberanian untuk mencari solusi. Di tengah isu ekonomi, politik, dan sosial yang kompleks, pemuda harus tampil sebagai jembatan, bukan jurang; sebagai penggerak dialog, bukan penyebar konflik. Inilah esensi optimisme kebangsaan yang harus terus dirawat.
Menjelang satu abad Sumpah Pemuda, bangsa Indonesia dituntut untuk memantapkan arah perjalanan menuju Indonesia Emas 2045. Refleksi ke-97 tahun ini menjadi momentum untuk menegaskan kembali bahwa persatuan, kerja keras, dan integritas adalah nilai-nilai abadi yang tidak lekang oleh waktu.
Pemuda Indonesia harus hadir bukan sekadar sebagai pewaris sejarah, melainkan juga sebagai pencipta masa depan. Di tangan merekalah bangsa ini akan menentukan wajahnya: Apakah menjadi bangsa yang hanya cepat tetapi rapuh, atau bangsa yang tangguh karena berakar pada nilai dan etika?
Pada akhirnya, semangat Sumpah Pemuda adalah semangat untuk terus memperbaiki diri, meneguhkan karakter bangsa, dan memelihara optimisme di tengah perubahan. Selama generasi muda masih memiliki keberanian untuk berpikir jernih dan bertindak jujur, Indonesia akan terus memiliki harapan untuk tumbuh menjadi bangsa yang besar, bermartabat, dan berperadaban.
Penulis: Andi Maulana (Anggota Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan/ Direktur Eksekutif Kamus Institute)

