Konten dari Pengguna

Koleksi Ilmiah Ikan : Masa Depan di Dalam Botol

Andina Ramadhani Putri Pane
Peneliti ahli Madya bidang Perikanan, saat ini berkerja di Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah (DPKI) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan tupoksi Fungsi Verifikasi, Validasi dan Valuasi Koleksi Ilmiah
26 November 2025 9:00 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Koleksi Ilmiah Ikan : Masa Depan di Dalam Botol
Koleksi Ilmiah ikan sebanyak puluhan ribu tersimpan rapi di koleksi Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) BRIN dalam botol-botol kaca berisi cairan pengawet.
Andina Ramadhani Putri Pane
Tulisan dari Andina Ramadhani Putri Pane tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Koleksi Ilmiah ikan yang tersimpan rapi di koleksi Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) BRIN mencapai puluhan ribu dalam botol-botol kaca berisi cairan pengawet. Bagi sebagian orang mungkin hanya menganggapnya sekadar koleksi masa lampau dan yang hanya menarik bagi peneliti-peneliti taksonomi. Namun, di balik tampilan sunyi itu koleksi ikan memegang peranan strategis yang sering kali luput dari perhatian publik. Koleksi-koleksi tersebut menjadi sumber data yang tak tergantikan bagi perkembangan ilmu ikhtiologi—cabang ilmu biologi yang mempelajari ikan dan dunia perairan.
Di tengah ancaman penurunan kualitas lingkungan, eksploitasi sumber daya perikanan, dan perubahan iklim global, keberadaan koleksi ilmiah ikan semakin penting. Ia bukan hanya menyimpan masa lalu, tetapi juga menjadi kunci memahami masa kini dan memprediksi masa depan ekosistem perairan.
________________________________________
Koleksi Ilmiah Ikan sebagai Rekam Jejak Keanekaragaman
Indonesia adalah negara megabiodiversitas dengan lebih dari 17.000 pulau dan ribuan sungai, danau, serta kawasan pesisir. Perairan kita dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman ikan terbesar di dunia, dengan estimasi lebih dari 8.500 spesies di perairan tawar dan laut (Kottelat et al., 1993; Allen & Erdmann, 2012). Namun identifikasi dan dokumentasi tentang keanekaragaman ini belum lengkap, sehingga koleksi ilmiah ikan akan menjadi salah satu untuk menyediakan rekam jejak tak tergantikan tentang kehadiran spesies pada tempat dan waktu tertentu.
Menurut Suarez & Tsutsui (2004), “tanpa koleksi ilmiah, sejarah alam akan sulit direkonstruksi karena tidak ada data fisik yang dapat diverifikasi.” Koleksi menjadi bukti bahwa suatu spesies benar-benar pernah ditemukan di lokasi tertentu, bahkan jika spesies tersebut kini telah langka atau menghilang.
Koleksi ilmiah berfungsi sebagai arsip biologis yang menyimpan informasi detail tentang keberadaan spesies pada waktu dan lokasi tertentu. Setiap spesimen adalah bukti fisik yang tidak dapat digantikan oleh foto atau catatan lapangan. Dari koleksi tersebut, peneliti dapat menelusuri perubahan distribusi ikan, mempelajari hilangnya populasi lokal, hingga mendeteksi munculnya spesies invasif dari masa ke masa.

Tanpa koleksi ilmiah ikan, sejarah keanekaragaman akan mudah terputus, menyulitkan ilmuwan memahami dinamika ekosistem yang terus berubah.

________________________________________
Pondasi Taksonomi dan Identifikasi Spesies
Salah satu peran paling mendasar dari koleksi ilmiah ikan adalah mendukung taksonomi, disiplin yang menjadi landasan seluruh studi biologi. Identifikasi spesies ikan membutuhkan pengamatan rinci terhadap ciri morfologi seperti bentuk sirip, pola sisik, ukuran tubuh, dan struktur tulang. Koleksi ilmiah menyediakan standar pembanding yang memungkinkan ilmuwan membedakan spesies dengan akurat. Menurut Hubbs & Lagler (2004), “tidak ada kajian taksonomi yang dapat dilakukan tanpa merujuk pada koleksi tipe atau spesimen museum.”
Koleksi ilmiah memungkinkan ilmuwan:
• memastikan identitas spesies secara akurat,
• membedakan spesies yang mirip,
• meninjau ulang deskripsi lama, dan
• menetapkan spesies baru berdasarkan type specimen.
Tidak jarang, spesimen dari koleksi lama menjadi kunci dalam penemuan spesies baru. Banyak spesies yang pernah dikumpulkan puluhan tahun lalu baru disadari keunikannya ketika penelitian taksonomi modern dilakukan. Selain itu, koleksi menyimpan type specimen, yaitu spesimen acuan resmi untuk setiap spesies yang baru dideskripsikan—dokumen ilmiah yang nilainya tak ternilai.
Di Indonesia, banyak spesies “baru” yang terungkap justru dari koleksi lama yang diteliti ulang menggunakan metode modern (Allen & Erdmann, 2012). Fakta ini menegaskan bahwa koleksi ilmiah selalu relevan, bahkan ketika sudah berusia puluhan tahun.
________________________________________
Lebih dari Sekadar Morfologi: Menyelami Genetika dan Evolusi
Perkembangan teknologi biologi molekuler membuka peluang baru dalam pemanfaatan koleksi ilmiah. DNA dapat diekstraksi dari spesimen yang telah diawetkan puluhan bahkan ratusan tahun. Hal ini memungkinkan peneliti menelusuri hubungan evolusi antarspesies, memetakan keragaman genetik, hingga membandingkan populasi masa lalu dengan populasi masa kini. Menurut Holmes et al. (2016), “koleksi spesimen menjadi tambang data genetik yang dapat menggambarkan dinamika evolusi jangka panjang.”
Dengan cara ini, koleksi ilmiah akan memberikan jawaban atas berbagai pertanyaan penting:
Bagaimana spesies ikan berevolusi?
Apa yang memengaruhi perubahan genetik populasi dari waktu ke waktu?
Adakah pola yang dapat digunakan untuk memprediksi ketahanan suatu spesies terhadap perubahan lingkungan?
Koleksi ilmiah menjadi jembatan antara ilmu masa lalu dan teknologi masa kini—kombinasi yang menghasilkan pemahaman lebih dalam tentang kehidupan di perairan.
________________________________________
Dasar Penting untuk Konservasi dan Pengelolaan Perikanan
Dalam konteks konservasi, koleksi ilmiah berfungsi sebagai indikator perubahan ekosistem dari waktu ke waktu. Menurut Rocha et al. (2014), “koleksi spesimen adalah bukti paling kuat untuk menilai pergeseran distribusi spesies dan potensi kepunahan lokal.”
Koleksi ilmiah dapat membantu menjawab pertanyaan penting:
• Apakah ukuran ikan menurun akibat penangkapan berlebih?
• Apakah populasi lokal menghilang?
• Adakah spesies invasif yang muncul dalam dekade terakhir?
Data seperti ini sangat penting bagi penyusunan kebijakan konservasi berbasis bukti (evidence-based conservation).
________________________________________
Laboratorium Edukasi dan Inspirasi Generasi Mendatang
Selain untuk riset, koleksi ilmiah merupakan media pembelajaran yang sangat efektif. Melihat spesimen asli membantu mahasiswa memahami anatomi, keragaman morfologi, dan karakter diagnostik yang sulit dijelaskan melalui gambar.
Seperti yang ditulis oleh Simmons (2015), “koleksi ilmiah adalah ruang belajar yang hidup, menghubungkan teori dengan realitas biologis.” Keberadaannya berperan dalam menumbuhkan minat generasi muda pada ilmu kelautan dan konservasi.
Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) menyediakan berbagai koleksi ikan yang dapat diakses oleh internal maupun eksternal BRIN dalam kegiatan identifikasi baik secara morfologi maupun genetika.
Koleksi Ilmiah Ikan Milik Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) BRIN, Dok. Milik Pribadi
Koleksi Ilmiah Ikan Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) BRIN yang sudah melalui proses verifikasi dan validasi untuk mendapatkan nomor koleksi ilmiah, Dok. Milik Pribadi
________________________________________
Penutup: Menjaga Koleksi, Menjaga Pengetahuan
Merawat koleksi ilmiah membutuhkan sumber daya, tenaga ahli, dan komitmen. Namun manfaat jangka panjangnya bagi sains, konservasi, dan pendidikan tidak ternilai. Koleksi ilmiah ikan adalah investasi peradaban, bukan sekadar kumpulan botol di rak.
Dalam kondisi perubahan lingkungan global yang semakin cepat, memperkuat koleksi ilmiah sama artinya dengan memperkuat kemampuan kita memahami, melindungi, dan mengelola kehidupan akuatik Indonesia di masa depan.
________________________________________
Daftar Pustaka
Allen, G. R., & Erdmann, M. V. (2012). Reef fishes of the East Indies. Vol. I–III. Tropical Reef Research.
Holmes, M. W., Hammond, T. T., Wogan, G. O. U., et al. (2016). Natural history collections as windows on evolutionary processes. Molecular Ecology, 25(4), 864–881.
Hubbs, C. L., & Lagler, K. F. (2004). Fishes of the Great Lakes region (Revised Ed.). University of Michigan Press.
Kottelat, M., Whitten, A. J., Kartikasari, S. N., & Wirjoatmodjo, S. (1993). Freshwater fishes of Western Indonesia and Sulawesi. Periplus Editions.
Rocha, L. A., Aleixo, A., Allen, G., et al. (2014). Specimen collection: An essential tool. Science, 344(6186), 814–815.
Simmons, J. E. (2015). Heritage, archives, and collections in natural history museums. Johns Hopkins University Press.
Suarez, A. V., & Tsutsui, N. D. (2004). The value of museum collections for research and society. BioScience, 54(1), 66–74.
Wheeler, Q. D. (2004). Taxonomic triage and the poverty of phylogeny. Philosophical Transactions of the Royal Society B, 359, 571–583.
Trending Now