Konten dari Pengguna

Menjelajahi Perut Kaligesing : Antara Keindahan dan Pentingnya Peran Gua

Andi Setianto
Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNY Madawirna UNY - B-1213
16 Juni 2025 13:15 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Menjelajahi Perut Kaligesing : Antara Keindahan dan Pentingnya Peran Gua
Catatan perjalanan mengeksplorasi gua Nguwik dan gua Sibodak, Purworejo, Jawa Tengah.
Andi Setianto
Tulisan dari Andi Setianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Foto : Madawirna UNY
zoom-in-whitePerbesar
Foto : Madawirna UNY
Saya menghadapkan cahaya senter kepala ke arah dinding gua. Saya terperangah saat melihat tempat ini sebagai rumah tinggal beratus โ€“ ratus kelelawar.
Pertengahan bulan April 2025 lalu, saya bersama kawan โ€“ kawan yang tergabung dalam organisasi Madawirna UNY, sebuah organisasi mahasiswa pecinta alam yang berada di Universitas Negeri Yogyakarta melakukan kegiatan eksplorasi gua Nguwik dan gua Sibodak. Dua gua ini berlokasi di Desa Donorejo, Kaligesing, Purworejo. Dengan bermodalkan beberapa kali materi ruang dan latihan, kami mengeksplorasi lorong โ€“ lorong gua untuk dapat melihat secara langsung serta mengenal lebih dekat ekosistem gua.
Gua Nguwik dan gua Sibodak berada dalam kawasan Perbukitan Menoreh yang ketinggian wilayahnya mencapai 800 โ€“ 900 mdpl yang membuat kawasan tersebut memiliki iklim bersifat basah sehingga membuat adanya kabut pada setiap pagi dan sore hari. Kondisi ini menambah keeksotisan gua Nguwik dan gua Sibodak.
Gua Nguwik menjadi destinasi pertama yang kami eksplorasi. Gua tersebut termasuk jenis gua horizontal yaitu gua yang memiliki lorong memanjang secara mendatar meskipun tidak sepenuhnya datar atau landai. Gua ini memiliki lorong yang cukup panjang dengan kondisi awal lorong sempit yang hanya dapat dilewati oleh satu orang dengan posisi badan sedikit menunduk serta keadaan samping kanan kiri lorong yang dilalui berupa lumpur kering. Namun sesudahnya lorong akan menjadi lebih lapang. Semakin jauh lorong gua Nguwik yang kami eksplorasi, kami menjumpai aliran air dan temuan ini menjadi jawaban atas pertanyaan kami, mengapa terdapat peralon di gua Nguwik. Ternyata air yang terdapat di gua Nguwik dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar sebagai sumber air untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain itu kami juga dikagumkan oleh beratus โ€“ ratus kelelawar yang menggantung di dinding atap gua ini.
Rasa penasaran akan ekosistem gua kami tuntaskan dengan mengeksplorasi gua Sibodak pada keesokan harinya. Gua dengan jenis gua vertikal ini tidak hanya menuntaskan rasa penasaran kami akan ekosistem gua namun mampu menghadirkan rasa adrenalin pada diri kami. Untuk mencapai ke dasar gua yang memiliki kedalaman belasan meter, kami harus melakukan single rope technique. Dikarenakan sebelumnya kami sudah berlatih diri, kelompok kami berhasil untuk mencapai dasar gua tanpa adanya kendala yang serius. Lorong gua Sibodak tidak seluas dan sepanjang gua Nguwik. Namun ada hal di gua Sibodak yang membuat saya takjub. Saya menghadapkan cahaya senter kepala ke arah dinding gua. Saya terperangah saat melihat tempat ini sebagai rumah tinggal beratus โ€“ ratus kelelawar.Lebih banyak daripada yang saya lihat di gua Nguwik. Selain itu saya juga melihat jangkrik yang mempunyai ukuran lebih besar daripada yang terdapat di gua Nguwik. Selepas eksplorasi gua Sibodak saya tersadar dibalik keindahan lorong โ€“ lorong gua itu ternyata menjadi tempat tinggal ribuan hewan.
Setelah mengeksplorasi gua Nguwik dan gua Sibodak, ada pemikiran yang terbesit dipikiran saya. Meskipun gua itu tersembunyi di perut bumi ternyata gua mempunyai fungsi bagi kehidupan ini. Gua menjadi tempat tinggal beratus bahkan beribu mahluk hidup selain itu beberapa gua juga dimanfaatkan sebagai sumber mata air bagi masyarakat di sekitarnya. Maka sepatutnya sesama mahluk hidup harus menjaga kelestarian gua.
Trending Now