Konten dari Pengguna
Menyoal Nasionalisme Pemain Naturalisasi Tim Nasional Indonesia
6 November 2025 12:30 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Menyoal Nasionalisme Pemain Naturalisasi Tim Nasional Indonesia
Naturalisasi di tim nasional Indonesia memantik tanya: siapa yang benar-benar “Indonesia”? Mereka yang lahir di sini, atau yang memilih berjuang untuknya?Andre Bramantya
Tulisan dari Andre Bramantya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kita sering mendefinisikan nasionalisme sebagai rasa cinta terhadap tanah kelahiran. Tetapi, ketika seorang pemain sepak bola lahir dan besar di negeri seberang, pertanyaan muncul: apakah nasionalisme hanya soal tempat lahir, atau soal kesediaan untuk berjuang bagi sebuah bangsa, apa pun latar belakangnya?
Dalam beberapa tahun terakhir, program naturalisasi pemain sepak bola Indonesia kembali marak dilakukan. Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) menggandeng sejumlah pemain keturunan yang berkarier di luar negeri untuk memperkuat tim nasional. Langkah ini disambut positif oleh banyak pendukung karena dinilai mampu meningkatkan daya saing tim nasional, namun di sisi lain memunculkan perdebatan tentang seberapa besar nasionalisme para pemain yang tidak lahir dan tumbuh di tanah air.

Mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Polandia, Peter F. Gontha, sempat menjadi sorotan karena mempertanyakan loyalitas para pemain naturalisasi yang dinilai masih menikmati privilese di negara asalnya, terutama mereka yang berasal dari Belanda. Menurutnya, sejumlah pemain tersebut tetap memperoleh hak-haknya ketika kembali ke Belanda karena faktor kelahiran dan keluarga, dan akan dengan mudah menanggalkan paspor Indonesianya setelah gantung sepatu.
Jejak Sejarah: Tim Nasional Hindia Belanda di Piala Dunia
Menariknya, perdebatan tentang “siapa yang pantas” mewakili Indonesia di kancah dunia bukanlah hal baru. Pada 1938, tim Hindia Belanda—cikal bakal tim nasional Indonesia—sempat berlaga di Piala Dunia di Prancis. Namun, pemilihan para penggawa tim tersebut tidak terlepas dari polemik.
Saat itu terdapat dualisme organisasi sepak bola di Hindia Belanda, yakni Nederlandsh Indische Voetbal Unie (NIVU) besutan pemerintah kolonial, dan PSSI. NIVU dikabarkan membentuk talent pool secara sepihak dan berhasil menjaring para pemain dari beragam latar belakang—pribumi, keturunan Tionghoa, hingga blijvers: orang asli Belanda yang memilih menetap di Nusantara.
PSSI yang mengutamakan pribumi dalam melakukan seleksi pemainnya menyayangkan keputusan itu, namun komposisi tim bentukan NIVU tersebut justru menunjukkan bahwa sejak awal, sepak bola Indonesia adalah cerminan keberagaman, bahkan sebelum republik ini berdiri.
Dampak bagi Pemain Naturalisasi dan Regenerasi
Salah satu hal yang penting untuk disorot adalah bagaimana menjadi warga negara Indonesia (WNI) kadang justru membuat para pemain naturalisasi menghadapi dilema karier. Di beberapa liga Eropa, mereka kini berstatus “pemain asing” karena paspornya bukan lagi dari negara Uni Eropa, sehingga harus berebut kuota pemain asing yang terbatas. Akibatnya, banyak dari mereka akhirnya memutuskan berkarier di klub-klub Indonesia. Ini menunjukkan bahwa keputusan menjadi WNI bukan hanya soal peluang, tetapi juga pengorbanan.
Di sisi lain, fenomena ini juga menimbulkan kekhawatiran baru. Jangan sampai program naturalisasi mengubur mimpi anak-anak muda Indonesia untuk berseragam tim nasional. Kompetisi usia muda dan liga lokal harus tetap menjadi ladang utama pencarian bakat. Naturalisasi seyogianya menjadi pelengkap, bukan jalan pintas.
Satu Harapan, Menuju Piala Dunia
Pada akhirnya, seleksi pemain tim nasional bukan soal siapa yang “lebih Indonesia”, melainkan bagaimana semua yang mengenakan lambang Garuda di dada bisa berjuang bersama. Mereka—baik yang lahir di tanah air maupun di luar negeri—sama-sama membawa harapan jutaan rakyat Indonesia untuk melihat Merah Putih berkibar di panggung Piala Dunia.
Mungkin, jika suatu hari Indonesia berhasil kembali ke Piala Dunia, tim kita akan kembali mencerminkan semangat 1938: perpaduan antara darah pribumi, keturunan, dan mereka yang memilih menjadi bagian dari Indonesia. Karena nasionalisme sejati bukanlah tentang di mana seseorang lahir, melainkan di mana hatinya berpihak.

