Konten dari Pengguna
Prancis dan Seni Mengingat Kematian
21 Oktober 2025 9:15 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Prancis dan Seni Mengingat Kematian
Refleksi perjalanan di Prancis yang menyingkap sisi lain negeri seni—dari lukisan hingga tulang belulang—tentang bagaimana kematian justru mengajarkan makna kehidupan.Andre Bramantya
Tulisan dari Andre Bramantya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ketika berbicara tentang Prancis, yang pertama terlintas di benak kita pada umumnya adalah romansa, mode, dan keindahan: menara Eiffel, ingar bingar kawasan Champs-Élysées, dan aroma croissant hangat di pagi hari. Namun, di balik segala pesona itu, Prancis juga menyimpan wajah lain—wajah yang sunyi dan abadi: kematian. Saya baru benar-benar menyadarinya setelah beberapa tahun tinggal di sana, bahwa di negeri yang dikenal dengan filosofi joie de vivre, atau “kebahagiaan menjalani hidup”, seni dan sejarahnya justru mengajarkan kita untuk juga mengingat mati.
Di Museum Louvre Paris, saya berdiri lama di depan lukisan La Mort de Marat (Kematian Marat) karya Jacques-Louis David. Sosok Jean-Paul Marat, seorang revolusioner yang mati dibunuh di bak mandinya, digambarkan begitu tenang seakan tertidur, meski darah masih mengalir dari dadanya. Lukisan itu bukan sekadar kisah politik, tetapi juga merupakan refleksi tentang kefanaan manusia—bagaimana semangat, ide, dan perjalanan hidup bisa berakhir hanya dalam satu bingkai kanvas dengan goresan kuas. Di tengah ribuan karya yang memuliakan kehidupan, karya ini seolah menatap balik dan berbisik pelan: “ingat, semua akan berakhir.”

Sekira 30 menit perjalanan menggunakan transportasi umum dari Museum Louvre kita dapat menemukan Catacombs de Paris, jaringan terowongan bawah tanah sepanjang lebih dari 300 kilometer yang dulunya merupakan tambang batu kapur. Pada akhir abad ke-18, terowongan ini diubah menjadi tempat penyimpanan tulang belulang sekitar enam juta warga Paris, yang dipindahkan dari pemakaman-pemakaman kota yang sudah penuh dan saat itu menimbulkan masalah kesehatan pada penduduk.
Setibanya di sana, saya masih harus menuruni ratusan anak tangga sebelum menjumpai jutaan tengkorak dan tulang yang tersusun rapi membentuk dinding panjang dalam kegelapan, dengan papan batu pada pintu masuknya bertuliskan “Arrête ! C’est ici l’empire de la mort”—“Berhenti! Di sinilah kerajaan kematian.”
Yang paling membekas bukanlah rasa takut, melainkan kesadaran bahwa setiap tengkorak itu dulu pernah hidup—mereka memiliki nama, keluarga, kisah cinta, dan mungkin impian-impian yang tak pernah sempat diwujudkan. Kini mereka menyatu tanpa identitas, menjadi tumpukan yang sunyi namun sarat makna. Betapa tipis batas antara kehidupan yang kita rayakan hari ini dan keheningan yang menanti esok.
Prancis, dengan segala peradabannya, sebenarnya sudah lama hidup berdampingan dengan kematian. Memento mori—“ingatlah bahwa engkau akan mati”—bukan sekadar kalimat, tapi tema yang menjiwai banyak karya seni mereka. Dari lukisan Abad Pertengahan dan Renaisans yang menyelipkan tengkorak tersembunyi di sudut meja, hingga simbol jam pasir di patung-patung makam, semuanya seakan mengingatkan manusia untuk tidak terbuai dalam kesementaraan.
Paradoksnya, kesadaran akan mati justru membuat kehidupan terasa lebih penuh—bahwa setiap tawa, perjalanan, dan cinta menjadi lebih berarti karena suatu hari akan menemui akhir.
Tinggal di Prancis membuat saya memahami bahwa wisata tidak melulu soal melihat keindahan, tetapi juga merasakan hal-hal yang mendalam. Paris bukan hanya kota cinta, melainkan juga kota yang mengajarkan bagaimana menghadapi ketidakabadian dengan elegan.
Kematian, di sana, bukan hal yang ditakuti—melainkan diakui, dipahami, dan bahkan dirayakan melalui seni. Mungkin karena itulah, Prancis bisa tetap hidup begitu lama dalam ingatan dunia: karena ia tahu bagaimana berdamai dengan kematian.

