Konten dari Pengguna

Ibrahim, Berhala dan Merdeka Kita yang Tertunda

Dr Andree Armilis
Sosiolog dan Analis Stratejik
2 Juni 2025 12:48 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Ibrahim, Berhala dan Merdeka Kita yang Tertunda
Refleksi spiritual-sosiologis tentang Nabi Ibrahim sebagai simbol perlawanan terhadap berhala zaman: dari totalitarianisme kuno hingga oligarki modern dan krisis identitas bangsa hari ini.
Dr Andree Armilis
Tulisan dari Dr Andree Armilis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dalam setiap masa genting peradaban, selalu muncul tokoh yang tidak hanya memimpin umatnya keluar dari krisis, tetapi terlebih dahulu memimpin dirinya keluar dari gelapnya keterikatan batin terhadap berhala zaman. Nabi Ibrahim a.s. adalah sosok itu. Seorang revolusioner spiritual, yang keberaniannya menolak arus dan membongkar sistem kemapanan, menjadi teladan bagi siapa pun yang ingin membangun sejarah, bukan hanya sekadar mencatatnya.

Kisah Ibrahim dan Logika Ketundukan

Al-Qur’an menggambarkan Ibrahim bukan sebagai nabi yang sekadar waras akal, tapi juga berani dalam menyusun strategi pembebasan. Ia hidup di tengah masyarakat yang nyaris totaliter dalam keimanan kepada berhala dan tunduk pada otoritas Raja Namrud. Tapi Ibrahim memilih jalan sepi: mengkritisi Tuhan-tuhan buatan itu melalui eksperimen mental dan dialog publik. Ketika ia menghancurkan berhala-berhala itu dan menyisakan yang terbesar, ia sedang menggugat akal sehat publik yang dibius oleh ideologi lama.
Maqam Ibrahim, Mekkah. Gambar dari Pixabay.
Dalam tafsir-tafsir klasik, Mafatih al-Ghaib misalnya, ditekankan betapa Ibrahim tidak memulai perjuangan dengan kekerasan, tetapi dari argumentasi dan demonstrasi simbolik. Sementara dalam perspektif sosiologis, aksi Ibrahim adalah bentuk perlawanan terhadap hegemoni ideologis, semacam "berhala kolektif" yang hari ini bisa kita namai sebagai korporatisme, neoliberalisme, bahkan birokrasi yang menyimpang.

Inspirasi Ibrahim dan Situasi Indonesia Hari Ini

Indonesia hari ini berada di persimpangan jalan: antara menjadi bangsa besar dengan misi global atau sekadar menjadi pasar yang dikendalikan kekuatan modal internasional. Di sini, sosok Ibrahim hadir sebagai inspirasi. Ia tidak sekadar membantah, tapi membangun narasi tandingan. Kita butuh keberanian seperti Ibrahim untuk menyebut “berhala-berhala baru” kita: oligarki yang menyamar jadi demokrasi, pembangunan yang menyingkirkan rakyat, atau hukum yang menjadi alat kekuasaan.
Berhala masa kini tidak lagi hanya berupa patung, tapi berupa sistem dan kebijakan. Bahkan dalam konteks global: perang, pengungsian, ekologi yang rusak, dan krisis pangan adalah simbol dari kezaliman yang terstruktur.

Strategi Ibrahim dan Manajemen Perubahan

Ibrahim tidak sekadar berdoa dan bersabar. Ia membuat strategi perubahan. Pertama, ia membentuk kesadaran individual (eksperimen iman di langit malam). Kedua, ia membuat aksi publik yang simbolik (penghancuran berhala). Ketiga, ia membangun komunitas alternatif (hijrah ke Palestina dan Mekkah). Ini adalah model manajemen perubahan strategik yang bisa dijadikan rujukan bagi gerakan sosial atau bahkan strategi nasional.
Maka, seperti Ibrahim, bangsa ini perlu menjadikan visi transenden sebagai landasan strateginya, bukan sekadar target lima tahunan. Ibrahim mengajarkan bahwa perubahan besar hanya mungkin jika dimulai dari satu keberanian untuk berjalan sendirian. Ketakutanterhadap sistem lama harus dilawan dengan mentalitas hanif.

Pelajaran untuk Dunia Global

Dunia sedang terpecah antara teknologi yang pesat dan moralitas yang stagnan. Krisis ekologi, perang, dan krisis identitas mencerminkan bahwa dunia memerlukan “Ibrahim-Ibrahim baru” — yang berani menyusun ulang nilai dasar peradaban. Bukan sekadar mengejar efisiensi, tetapi juga keadilan dan keberlanjutan.
Perspektif Ibrahim membebaskan kita dari realitas palsu yang dibentuk media dan kekuatan pasar. Ia menunjukkan bahwa iman bukan hanya urusan batin, tapi juga tindakan sosial yang konkret.

Penutup: Teladan Ibrahim untuk Indonesia Baru

Ibrahim pernah berdoa agar tanah Mekkah diberi keamanan dan rezeki dari segala penjuru. Maka pertanyaan hari ini: apakah kita sudah menjadi bangsa yang aman bagi semua, dan menjadi pusat rezeki yang adil, bukan hanya bagi investor tapi juga petani dan nelayan kita?
Jika Ibrahim bisa meninggalkan istri dan anak di padang gersang demi visi peradaban, apakah kita tak sanggup meninggalkan kenyamanan sesaat demi memperjuangkan masa depan bangsa?
***
Trending Now