Konten dari Pengguna
Kurban: Darah Pembangun Peradaban
6 Juni 2025 14:06 WIB
Ā·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Kurban: Darah Pembangun Peradaban
Kurban bukan sekadar ibadah, tapi cermin ketaatan, solidaritas sosial, dan penggerak ekonomi umat. Ia mengajarkan keikhlasan memberi dan membangun peradaban lewat pengorbanan. Dr Andree Armilis
Tulisan dari Dr Andree Armilis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika Pengorbanan Menjadi Bahasa Cinta
Di sebuah pagi yang sunyi, ketika udara belum sempat dihangatkan mentari, seorang laki-laki tua berdiri dengan tangan gemetar. Di hadapannya, anak lelaki satu-satunya yang selama puluhan tahun dinanti, kini bersujud menanti takdirnya. Tidak ada teriakan. Tidak ada tangisan. Hanya ketaatan yang mengalir dalam diam.
Beginilah kisah Nabi Ibrahim dan Ismail dimulaiābukan sekadar kisah dua manusia, tapi kisah yang mengabarkan pada kita bahwa pengorbanan adalah bahasa paling jujur dari cinta sejati.
Kurban, dalam bentuk yang paling purba, adalah tentang menyerahkan yang paling kita sayangi kepada Dia yang paling layak disayangi.
Sebuah kalimat sederhana, tapi cukup untuk mengguncang langit dan membelah sejarah manusia. Sebuah jawaban yang tak muncul dari logika, tapi dari cahaya iman.
Kurban: Saat Jiwa Belajar Melepaskan
Dalam dunia yang menggenggam erat, kurban datang sebagai pelajaran tentang melepaskan. Melepaskan ego, merelakan kepemilikan, membuang rasa takut kehilangan.
Karena sejatinya, yang kita miliki bukan milik kita. Yang kita simpan tidak abadi. Tapi yang kita berikan dengan ikhlas, itulah yang kekal dalam catatan langit.
Kurban bukan sekadar tentang sapi, kambing, atau unta. Ia adalah tentang rasa memiliki yang dipersembahkan kepada Sang Pemilik Sejati. Kita tak diminta menyembelih anak, hanya diminta menyembelih sedikit rasa tamak yang diam-diam berakar dalam diri.
Darah yang Menghidupkan Ekonomi Umat
Saat kita turun dari langit spiritual ke tanah tempat kaki berpijak, ternyata kurban bukan hanya ibadah personal, tapi sistem sosial-ekonomi yang sangat kuat. Setiap hewan yang dibeli bukan datang dari langitāia dibesarkan oleh peternak-peternak kecil di desa-desa. Dari jerami yang dikumpulkan di pagi buta. Dari air minum yang ditimba saban hari. Dari upaya sederhana, tapi penuh cinta.
Lalu hewan itu dijual oleh pedagang. Diangkut oleh sopir. Dipotong oleh jagal. Dagingnya dibungkus oleh panitia. Diedarkan oleh relawan.
Kurban menggerakkan rantai ekonomi dari hulu ke hilir. Ia adalah rezeki yang turun dari langit, tapi disalurkan lewat tangan-tangan manusia.
Dalam sepekan menjelang Idul Adha, pasar hewan berubah jadi pusat denyut ekonomi rakyat. Tak sedikit keluarga peternak menggantung harapan hidup dan biaya pendidikan anak-anaknya dari musim kurban. Maka saat kita membeli hewan kurban, sesungguhnya kita sedang menyambung nyawa ekonomi umat.
Tiga Hari Penawar Rasa Memiliki
Kita hidup dalam zaman kepemilikan. Diukur dari rumah, kendaraan, gadget, bahkan followers. Kita mudah tersinggung saat merasa āhakā kita terganggu, bahkan oleh hal sepele.
Kurban datang sebagai koreksi terhadap semua itu. Ia memaksa kita untuk melepaskan. Mengingatkan bahwa yang kita punya, tak benar-benar kita miliki. Hanya titipan. Dan titipan itu bisa diminta kembali kapan saja.
Itulah mengapa, setiap daging kurban harus dibagikan. Bahkan ada ulama mengatakan: yang terbaik adalah jika daging itu tidak dinikmati sama sekali oleh orang yang berkurban. Karena yang utama bukanlah rasa kenyang, melainkan ketundukan.
Sebagaimana firman Allah:
Saat Darah Menjadi Doa
Tak banyak yang menyadari bahwa saat pisau mengalirkan darah dari leher hewan kurban, yang terserak di bumi bukan hanya darahātapi juga doa.
Doa dari mereka yang menerima daging dan tersenyum. Doa dari keluarga peternak yang melunasi hutang. Doa dari relawan yang merasa bermanfaat walau sekadar membagi kupon. Dan tentu, doa dari malaikat penghuni langit, yang menyaksikan satu demi satu manusia melepaskan eginkepemilikannya, demi sang Khalik.
Kurban: Investasi Sosial Umat
Jika kita bicara pembangunan umat, kita sering bicara infrastruktur besar: sekolah, rumah sakit, kampus, ekonomi mikro. Tapi di antara semua itu, kurban adalah proyek sosial yang paling mengakar dan merata. Ia menjangkau kampung-kampung yang tak terjamah. Ia mendatangi rumah-rumah yang bahkan tak bisa beli daging dalam setahun. Ia menyapa dengan lembut: "Ini bagianmu. Allah tidak melupakanmu."
Bayangkan kekuatan sosial dari sebuah ibadah ini. Setiap kepala hewan membawa harapan. Setiap kilogram daging membawa senyum. Jika dikelola dengan profesional dan terdistribusi merata, kurban bisa menjadi sistem bantuan pangan tahunan paling efektif.
Menghidupkan Jiwa Umat: Dari Ritual ke Peradaban
Kurban bukan hanya kisah hidup Ibrahim a.s. Ia adalah ajaran tentang bagaimana peradaban dibangun dari pengorbanan.
Apa yang kita lihat dari sejarah umat bukan semata pencapaian. Tapi jejak-jejak orang yang rela memberi tanpa mengharap kembali. Nabi Muhammad SAW membangun Madinah dengan darah, keringat, dan harta. Para sahabat menginfakkan seluruh kekayaan mereka. Mereka semua mengerti bahwa kemajuan umat bukan dilahirkan oleh kemewahan, tapi oleh pengorbanan.
Setiap kita yang berkurban, sesungguhnya sedang ikut menulis ulang sejarah. Membangun kembali fondasi jiwa umat yang mulai rapuh: dari kepedulian, ketundukan, dan keberanian melepaskan.
Sebuah Tanya untuk Jiwa Kita
Maka di tengah gema takbir yang mengalun, dan aroma daging kurban yang mengepul, mari kita bertanya pada diri sendiri:
Apa yang paling aku cintai, dan apakah aku rela melepasnya jika Allah meminta?
Apakah aku masih punya bagian untuk mereka yang lapar?
Sudahkah aku berkurbanābukan hanya di Idul Adha, tapi dalam hidup keseharian?
Karena sejatinya, kurban bukan hanya di pekan kedua Dzulhijjah. Ia adalah cara hidup. Sebuah ritme memberi, dan jiwa yang tak berhenti melepasādemi Dia.
Kurban adalah Kita
Idul Adha boleh usai. Sapi-sapi boleh kembali sunyi. Tapi semangat kurban harus tetap menyala.
Dan kurbanāyang mengajarkan keikhlasan dan keberanian melepaskanāadalah secercah cahaya yang selalu relevan di zaman yang semakin gelap.
Maka jadikan kurban bukan hanya ritual, tapi gaya hidup. Bukan hanya ibadah, tapi strategi peradaban. Karena tak ada kemajuan tanpa pengorbanan. Dan tak ada peradaban tanpa cinta yang rela kehilangan.
Semoga kita termasuk dalam orang-orang yang bukan hanya menyembelih hewan, tapi juga menyembelih ego. Bukan hanya memberi daging, tapi juga memberi harapan. Dan bukan hanya mengenang kisah kurban, tapi menjadikannya jalan hidup.

