Konten dari Pengguna
Negara, Narkoba, dan Tentara yang Turun Tangan
27 Mei 2025 16:05 WIB
·
waktu baca 3 menitTulisan dari Dr Andree Armilis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kadang kita baru tersadar betapa dalam luka bangsa ini, bukan dari pidato pejabat atau siaran rapat komisi, tapi dari satu berita pembakaran sabu: dua ton barang haram dimusnahkan oleh TNI Angkatan Laut. Tujuh triliun rupiah hangus jadi asap. Bukan uang kecil. Tapi negeri ini memang sedang tidak main-main.
Masalah narkoba bukan lagi urusan polisi yang menyamar jadi pembeli di gang-gang sempit, atau sekadar operasi penggerebekan di rumah kos yang jadi laboratorium kecil. Ini sudah masuk ke wilayah pertahanan. Negeri ini sedang digerogoti dari dalam, dan tentara mulai turun tangan. Itu bukan pertanda baik, tapi juga bukan pertanda buruk. Itu pertanda bahwa negara sedang gelisah.

Narkoba Itu Senyap, Tapi Melumpuhkan
Ada lima juta lebih anak bangsa yang kini hidup dalam bayang-bayang sabu dan ekstasi. Umurnya 15 sampai 30 tahun. Mereka bukan preman atau kriminal jalanan. Banyak di antaranya adalah pelajar, mahasiswa, pekerja, anak guru, anak petani. Tapi sistem sosial kita yang rapuh, ekonomi yang tak merata, dan harapan yang makin tipis jadi lahan subur bagi candu modern ini.
Tentara di Pelabuhan, Jenderal di Bea Cukai
Kini kita melihat tentara ada di garis depan, bukan di perbatasan perang, tapi di pelabuhan kecil yang jadi jalan masuk narkoba. Bukan cuma patroli laut biasa. Ini adalah perang hening yang butuh intelijen, strategi, dan ketegasan. Karena penyelundupan narkoba hari ini bukan kerja kelompok kecil. Ia digerakkan oleh jaringan internasional yang lebih rapi dari perusahaan multinasional.
Lalu datanglah Letjen (Purn.) Djaka Budhi Utama, bukan ke medan perang, tapi ke kantor Bea Cukai. Banyak yang bingung. Apa urusan tentara pensiunan jadi bos di lembaga sipil? Tapi mungkin justru itu jawabannya: negara sedang mengganti kunci gembok dengan tangan yang terbiasa membaca peta musuh.
Di zaman seperti ini, bea cukai bukan cuma soal tarif dan pajak. Ia jadi gerbang antara negara dan sindikat. Maka tak cukup lagi ditempati birokrat biasa. Harus ada orang yang paham bahwa musuh hari ini tak selalu datang dengan senjata. Kadang ia datang dalam bentuk kontainer dari luar negeri yang isinya bisa merusak satu generasi.
Jangan Bergerak Sendiri-sendiri
Masalahnya, kita masih sering lihat lembaga negara bergerak seperti solo karier. Polisi jalan sendiri. Bea cukai punya agenda sendiri. Imigrasi sibuk dengan urusannya. Lalu publik bertanya: kenapa narkoba masih bisa masuk begitu bebas?
Jawabannya sederhana: kita kurang percaya satu sama lain. Padahal sindikat narkoba itu terorganisir seperti orkestra. Kalau negara melawannya dengan kerja yang terputus-putus, kita akan terus tertinggal.
Teori network governance bilang, kunci sistem yang kuat itu bukan kekuasaan tunggal, tapi jaringan kerja yang saling percaya. Negara yang ingin menang dari sindikat narkoba harus bersatu seperti tubuh yang bekerja serempak. Tentara, polisi, intelijen, sampai petugas pelabuhan, semua harus bicara bahasa yang sama: jaga negeri ini.
Ini Bukan Soal Gagah-gagahan
Kita tak butuh banyak jargon. Kita butuh sistem yang tanggap. Pengawasan yang jujur. Penindakan yang tegas. Dan di atas semuanya: keberanian untuk mengakui bahwa narkoba bukan lagi musuh yang jauh. Ia ada di sekitar kita, di celah sistem yang lemah, di titik lengah negara.
Jika kita gagal bersinergi, narkoba tak perlu menembak. Ia cukup menunggu kita saling curiga dan berjalan sendiri-sendiri.
Dan ketika itu terjadi, negara ini tak akan runtuh dengan dentuman, tapi akan lapuk pelan-pelan. Seperti candu yang merasuk tubuh: senyap, tapi mematikan.
***

