Konten dari Pengguna
Bonus Demografi Indonesia: Peluang Emas Menuju Pembangunan Ekonomi Inklusif
2 Agustus 2025 12:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Bonus Demografi Indonesia: Peluang Emas Menuju Pembangunan Ekonomi Inklusif
Bonus demografi Indonesia menjadi peluang emas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif. Bonus demografi bisa menjadi titik balik menuju visi Indonesia Emas 2045. #userstoryAndriani Endah Wahyuningtyas
Tulisan dari Andriani Endah Wahyuningtyas tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia saat ini memasuki era bonus demografi—sebuah fase penting di mana penduduk usia produktif (15–64 tahun) mendominasi struktur penduduk nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS, 2024), lebih dari 70% populasi Indonesia termasuk dalam kelompok usia produktif. Situasi ini menjadi peluang strategis untuk mempercepat pembangunan ekonomi, mendorong inovasi, dan meningkatkan kesejahteraan sosial secara inklusif dan berkelanjutan.
Namun, bonus demografi bukanlah jaminan otomatis kemajuan. Tantangan seperti pengangguran muda, kesenjangan keterampilan, dan tingginya jumlah pekerja di sektor informal perlu dijawab dengan kebijakan pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang adaptif dan menyeluruh.
Meningkatkan Produktivitas Usia Produktif
Laporan Kementerian PPN/Bappenas (2023) memperkirakan bahwa bonus demografi Indonesia akan berlangsung hingga 2045. Ini memberi waktu yang cukup untuk mengoptimalkan potensi generasi muda sebagai penggerak utama pembangunan nasional.
Meski tingkat pengangguran terbuka usia 15–24 tahun masih mencapai 17,4% (Sakernas, 2023), hal ini membuka ruang bagi penguatan pendidikan vokasi, pelatihan kerja yang relevan, serta kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta untuk menciptakan ekosistem kerja yang inklusif dan produktif.
Program seperti Kartu Prakerja, revitalisasi SMK, serta peningkatan kemitraan dunia usaha-dunia pendidikan menjadi pijakan penting untuk menjawab tantangan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri masa depan.
Pendidikan Berkualitas dan Relevan
Pendidikan tetap menjadi fondasi utama pembangunan SDM. Meski akses pendidikan dasar dan menengah terus meningkat, kualitas pembelajaran masih perlu ditingkatkan. Menurut Bank Dunia (2022), sekitar 53% anak usia 10 tahun di Indonesia masih mengalami learning poverty.
Peningkatan kualitas guru, pembaruan kurikulum berbasis kompetensi, serta penguatan literasi dan numerasi dasar perlu menjadi agenda utama. Di tingkat pendidikan tinggi, program magang industri, project-based learning, dan integrasi soft skills menjadi kunci, agar lulusan siap memasuki dunia kerja dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Mengembangkan Lapangan Kerja dan Wirausaha Muda
Mayoritas pekerja muda di Indonesia masih terserap di sektor informal, seperti pekerja lepas, pedagang kecil, dan layanan transportasi daring. Menurut data BPS (2024), sekitar 58% dari total pekerja muda berada di sektor informal. Hal ini menunjukkan adanya tantangan sekaligus peluang untuk mendorong formalitas pekerjaan dan memperkuat ekosistem wirausaha muda.
Dengan memperluas akses terhadap pelatihan, pembiayaan mikro, dan pendampingan usaha, pemerintah dapat mendorong anak muda menjadi pelaku utama di sektor ekonomi digital, ekonomi kreatif, dan ekonomi hijau. Sektor-sektor ini terbukti tahan terhadap krisis dan sangat relevan dengan karakteristik generasi muda saat ini.
Menjadikan Bonus Demografi sebagai Pilar Pembangunan Ekonomi
Bonus demografi Indonesia adalah aset strategis, bukan sekadar statistik. Seperti ditegaskan oleh Michael Todaro dan Stephen Smith dalam teori ekonomi pembangunan, peningkatan kesejahteraan hanya dapat dicapai melalui pembangunan kapasitas manusia dan perluasan akses ekonomi yang setara.
Kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, lembaga pendidikan, sektor swasta, dan masyarakat sipil, dibutuhkan untuk memastikan agar setiap daerah bisa mengembangkan potensi lokalnya dan menekan ketimpangan wilayah.
Bonus Demografi sebagai Momentum Indonesia Emas 2045
Dengan kebijakan pembangunan SDM yang terarah, investasi di bidang pendidikan dan ketenagakerjaan, serta penciptaan ekosistem ekonomi yang inklusif, bonus demografi bisa menjadi titik balik menuju visi Indonesia Emas 2045.
Generasi muda Indonesia bukan hanya tumpuan harapan, tapi juga kekuatan riil untuk mendorong kemajuan bangsa. Momentum ini hanya datang sekali. Maka, keberhasilan kita dalam mengelola bonus demografi akan menentukan arah masa depan Indonesia—apakah Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi, atau kembali terjebak dalam jebakan kelas menengah (middle income trap).

