Konten dari Pengguna

Nyawa Kalah oleh Waktu

Andrianto
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga bidang kegawatdaruratan jantung. Aktif sebagai pengajar dan peneliti di Universitas Airlangga serta klinisi kardiologi di RSUD Dr. Soetomo Surabaya
7 Januari 2026 19:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Nyawa Kalah oleh Waktu
Opini tentang kegawatdaruratan jantung di Indonesia, di mana keterlambatan respons, lemahnya layanan pra-rumah sakit, sistem yang tidak berpihak pada waktu membuat nyawa sering kalah sebelum ditolong.
Andrianto
Tulisan dari Andrianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
com-Ilustrasi seseorang terkena serangan jantung. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
com-Ilustrasi seseorang terkena serangan jantung. Foto: Shutterstock
Pak M, 51 tahun, buruh harian, merasakan nyeri dada hebat sejak subuh. Rasa sakit menjalar ke lengan kiri, disertai keringat dingin dan sesak napas. Ia memilih berbaring, mengira hanya kelelahan setelah bekerja keras. Istrinya menyarankan ke puskesmas terdekat, tetapi Pak M menolak. “Tunggu dulu,” katanya. Empat jam kemudian, ia pingsan di rumah. Ketika akhirnya tiba di rumah sakit rujukan, dokter hanya bisa berkata pelan: sudah terlambat.
Kisah Pak M bukan cerita tunggal. Ia mewakili ribuan pasien jantung yang datang terlambat ke layanan kesehatan. Serangan jantung sering kita anggap sebagai nasib buruk atau takdir. Padahal, dalam banyak kasus, kematian akibat gangguan jantung akut bukan semata karena penyakitnya, melainkan karena sistem yang gagal bergerak cepat dan tepat waktu.
Penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian nomor satu di Indonesia. Ironisnya, sebagian besar kematian itu terjadi pada fase gawat darurat, fase ketika waktu seharusnya menjadi penentu utama keselamatan. Dalam dunia medis, kegawatdaruratan jantung dikenal sebagai kondisi yang sangat bergantung pada waktu. Semakin lambat ditangani, semakin kecil peluang hidup pasien untuk bertahan.
Masalahnya, sistem kesehatan kita belum sepenuhnya berpihak pada waktu. Banyak pasien serangan jantung baru tiba di rumah sakit setelah berjam-jam sejak gejala pertama muncul. Nyeri dada sering disalahartikan sebagai masuk angin. Sesak napas dianggap kelelahan biasa. Budaya menunda, takut biaya, mencoba pengobatan sendiri, dan minimnya pemahaman membuat pasien kehilangan waktu emas tanpa sadar.
Keterlambatan ini diperparah oleh lemahnya layanan pra-rumah sakit. Pemanfaatan ambulans medis untuk kasus gawat darurat jantung masih rendah. Banyak pasien diantar menggunakan kendaraan pribadi, tanpa pertolongan medis selama perjalanan. Waktu respons ambulans pun sering kali terlalu lama, bahkan di kota besar dengan fasilitas kesehatan relatif lengkap.
Padahal, pada kondisi henti jantung, otak mulai mengalami kerusakan permanen hanya dalam empat hingga enam menit tanpa pertolongan. Setiap menit keterlambatan resusitasi atau penggunaan alat kejut jantung atau defibrilator, menurunkan peluang hidup secara drastis. Dalam situasi seperti ini, menunggu sama dengan menyerah pada keadaan.
Sayangnya, keterlambatan tidak berhenti di luar rumah sakit. Di dalam fasilitas kesehatan, pasien masih harus berhadapan dengan proses administratif, antrean pemeriksaan, dan pengambilan keputusan yang berjenjang. Pemeriksaan jantung yang seharusnya dilakukan dalam sepuluh menit pertama sering kali molor. Tindakan penyelamatan kalah cepat dari prosedur yang berbelit.
Ketimpangan antarwilayah semakin memperburuk keadaan. Masyarakat di kota besar relatif memiliki akses lebih cepat ke layanan jantung. Namun di daerah terpencil dan kepulauan, pasien bisa membutuhkan waktu belasan hingga puluhan jam untuk mencapai rumah sakit rujukan. Dalam konteks kegawatdaruratan, jarak geografis berubah menjadi hukuman klinis yang tidak adil.
Semua ini menegaskan satu hal penting: kegawatdaruratan jantung bukan sekadar persoalan medis, melainkan persoalan sistemik. Kita tidak bisa terus berharap rumah sakit menyelamatkan nyawa ketika sistem di hulu dibiarkan lamban, terfragmentasi, dan tidak terintegrasi secara menyeluruh.
Pelayanan gawat darurat seharusnya dimulai sejak gejala pertama muncul. Di rumah, di jalan, di tempat kerja, atau di ruang publik. Masyarakat perlu dibekali literasi sederhana dan jelas: nyeri dada hebat, sesak mendadak, pingsan, atau kehilangan kesadaran adalah tanda bahaya. Jangan menunggu. Jangan menebak. Segera cari pertolongan medis.
Masyarakat juga harus dipandang sebagai bagian dari sistem penyelamatan. Dalam banyak kasus henti jantung, penolong pertama adalah orang terdekat, bukan tenaga kesehatan. Dengan pelatihan dasar yang tepat, orang awam dapat melakukan tindakan sederhana namun krusial sebelum bantuan profesional tiba di lokasi kejadian.
Di sisi lain, layanan pra-rumah sakit harus diperkuat secara serius dan berkelanjutan. Ambulans bukan sekadar alat angkut, melainkan unit perawatan bergerak. Petugasnya perlu dilatih, dilindungi secara hukum, dan diberi kewenangan melakukan tindakan awal, termasuk pemeriksaan jantung dan komunikasi langsung dengan rumah sakit tujuan. Prinsipnya bukan lagi antar cepat, melainkan tangani lebih dulu dan antar dengan cerdas.
Di rumah sakit, pendekatan berbasis waktu harus menjadi budaya kerja. Setiap menit dihitung, setiap keterlambatan dievaluasi. Alur birokrasi yang tidak berkaitan langsung dengan keselamatan pasien harus dipangkas. Keberhasilan layanan diukur dari kecepatan sistem, bukan dari kelengkapan administrasi semata.
Teknologi seharusnya menjadi akselerator, bukan sekadar pajangan. Dengan sistem digital dan pemetaan berbasis lokasi serta waktu tempuh, pasien dapat langsung diarahkan ke fasilitas yang paling mampu menolongnya dalam waktu tercepat. Bukan rumah sakit terdekat secara geografis, tetapi yang tepat secara klinis dan fungsional.
Pada akhirnya, kegawatdaruratan jantung adalah soal pilihan moral dan keberpihakan kebijakan. Apakah kita memilih bergerak cepat, atau membiarkan waktu berlalu sambil berharap segalanya baik-baik saja. Setiap menit yang terbuang bukan sekadar angka statistik, melainkan detik-detik kehidupan seseorang yang tak akan pernah kembali.
Sistem kesehatan yang baik bukan hanya yang canggih, tetapi yang hadir tepat waktu. Masyarakat yang peduli bukan hanya yang iba setelah tragedi, tetapi yang berani bertindak sebelum terlambat. Negara yang kuat bukan yang banyak membangun gedung, melainkan yang mampu menyelamatkan warganya pada saat paling genting.
Serangan jantung bukan takdir. Ia sering kali adalah akibat dari keterlambatan yang kita biarkan bersama. Selama kita terus menunda perubahan sistemik yang berpihak pada waktu dan keselamatan, nyawa akan terus kalah oleh waktu. Perubahan nyata menuntut keberanian bersama dari sistem kesehatan, pemerintah dan seluruh masyarakat.
Trending Now