AI Generated

Implementasi AI: Start Small, Scale Smart

Andrias Ekoyuono
Chief of AI & Corporate Strategy, kumparan
29 September 2025 13:29 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Implementasi AI: Start Small, Scale Smart
Setiap lompatan besar dalam implementasi AI selalu dimulai dari satu langkah kecil: quick wins. Apa itu dan mengapa penting di era AI? Simak kolom Andrias Ekoyuono, hanya di #kumPLUS.
Andrias Ekoyuono
Ilustrasi Implementasi AI. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Implementasi AI. Foto: Dok. Istimewa
Hari ini banyak perusahaan yang merasa harus segera melakukan β€œtransformasi AI” secara besar-besaran. Begitu hype tentang Artificial Intelligence semakin kuat, dorongan untuk bergerak cepat sering kali menimbulkan keputusan tergesa-gesa. Ada yang langsung membeli sistem canggih dengan biaya tinggi, ada pula yang menaruh harapan terlalu tinggi pada vendor eksternal. Semua ini dilakukan dengan keyakinan bahwa semakin cepat, semakin baik.
Padahal, strategi seperti itu justru bisa berbahaya. AI memang powerful, tetapi ia tidak pernah menjadi solusi instan. Sama seperti transformasi digital sebelumnya, perubahan besar memerlukan fondasi yang kuat dan proses yang bertahap. Di sinilah pentingnya strategi quick wins: memulai dari proyek-proyek kecil yang mampu menunjukkan dampak nyata dengan cepat, lalu menggunakan hasil itu sebagai pijakan untuk membangun nilai jangka panjang.
Quick wins bukan sekadar soal hasil cepat. Ia adalah cara untuk membangun momentum. Dalam organisasi, kepercayaan karyawan, manajemen, dan pemangku kepentingan lain terhadap teknologi baru, tidak datang dari presentasi atau janji vendor, melainkan dari bukti nyata. Sebuah chatbot sederhana yang berhasil menjawab 70 persen pertanyaan pelanggan misalnya, bisa lebih berpengaruh terhadap kepercayaan internal daripada rencana besar yang abstrak.
Mengapa quick wins penting? Pertama, karena setiap organisasi menghadapi keterbatasan resource. Tidak semua perusahaan memiliki dana besar untuk eksperimen jangka panjang. Dengan quick wins, investasi bisa difokuskan pada area yang paling menjanjikan hasil langsung. Kedua, quick wins menciptakan ruang pembelajaran. Dari proyek kecil, perusahaan bisa memahami tantangan implementasi AI di konteks nyata: bagaimana data harus dikelola, bagaimana karyawan berinteraksi dengan sistem, dan bagaimana hasilnya diukur. Dari sana, strategi untuk proyek yang lebih besar bisa disusun dengan lebih matang.
Tentu, quick wins bukan berarti asal coba. Justru sebaliknya, pemilihan proyek awal harus sangat selektif. Perusahaan perlu menanyakan: di mana ada masalah nyata yang bisa dipecahkan dengan AI? Apakah masalah itu cukup sederhana untuk ditangani dalam jangka waktu singkat? Apakah hasilnya bisa diukur secara jelas? Dan yang paling penting, apakah proyek itu bisa menjadi showcase untuk meyakinkan organisasi bahwa AI memang membawa manfaat?
Ambil contoh bagian customer service. Tak sedikit perusahaan yang menghabiskan banyak tenaga untuk menjawab pertanyaan dasar yang berulang. Implementasi chatbot berbasis natural language processing bisa menjadi quick win karena dampaknya jelas: volume pekerjaan manusia berkurang, respons pelanggan lebih cepat, dan kepuasan meningkat. Dari situ, perusahaan bisa melangkah ke tahap berikutnya, misalnya integrasi chatbot dengan analitik pelanggan untuk personalisasi layanan.
Contoh lain ada di divisi keuangan. Proses rekonsiliasi data transaksi yang biasanya memakan waktu lama bisa dipercepat dengan AI yang mendeteksi anomali secara otomatis. Hasilnya langsung terasa: efisiensi meningkat dan risiko kesalahan berkurang. Proyek kecil seperti ini bisa menjadi batu loncatan untuk membangun sistem fraud detection yang lebih kompleks di kemudian hari.
Ilustrasi Implementasi AI. Foto: Dok. Istimewa
Yang sering terlupakan, quick wins juga berperan penting dalam aspek budaya organisasi. Keberhasilan kecil menciptakan semangat positif. Karyawan melihat langsung bahwa pekerjaan mereka menjadi lebih mudah, beban berkurang, dan hasil lebih cepat tercapai. Hal ini membangun optimisme bahwa transformasi AI bukan sekadar jargon manajemen, tetapi sesuatu yang nyata. Sebaliknya, jika perusahaan memaksakan proyek raksasa sejak awal dan gagal, kepercayaan akan runtuh, dan setiap inisiatif berikutnya akan menghadapi resistensi.
Tentu, quick wins juga harus diukur dengan benar. Tidak cukup hanya melaporkan bahwa β€œAI sudah diterapkan.” Ukuran keberhasilan harus jelas, misalnya peningkatan produktivitas, penurunan biaya, waktu respons lebih cepat, atau tingkat kepuasan karyawan. Dengan ukuran ini, hasil quick wins bisa dipresentasikan sebagai bukti nyata bagi manajemen maupun investor.
Intinya, quick wins bukan sekadar strategi teknis, tetapi strategi politik dalam organisasi. Mereka adalah cara untuk menunjukkan nilai, membangun kepercayaan, dan menciptakan momentum. Dari sana, jalan menuju transformasi AI yang lebih luas akan terbuka dengan sendirinya.
Kesimpulannya, perusahaan sebaiknya tidak tergoda untuk langsung berlari terlalu jauh dalam mengadopsi AI. Yang lebih bijak adalah memulai kecil, membuktikan nilai, lalu membangun skala besar secara bertahap. Start small, scale smart. Dengan cara ini, AI tidak hanya menjadi tren sesaat, tetapi benar-benar menjadi bagian dari perjalanan panjang perusahaan menuju proses bisnis yang lebih efektif, karyawan yang lebih bahagia, dan hasil kerja yang lebih berkualitas.
Tulisan saya yang lain soal AI:
*Segera hadir kembali, kumparan AI for Indonesia. Forum diskusi perkembangan AI antara regulator, bisnis, komunitas, dan masyarakat.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Trending Now