Konten dari Pengguna

OKR vs KPI: Menentukan Arah Kebangkitan Perusahaan

Anggit Pragusto Sumarsono
Praktisi Perbankan Syariah, Master of Science (M.Si) Islamic Economic And Finance Universitas Indonesia (UI)
4 Oktober 2025 22:04 WIB
Β·
waktu baca 7 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
OKR vs KPI: Menentukan Arah Kebangkitan Perusahaan
Kapan sebuah perusahaan membutuhkan KPI? Kapan ia harus berani melompat ke OKR?
Anggit Pragusto Sumarsono
Tulisan dari Anggit Pragusto Sumarsono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Foto : Anggit Pragusto Sumarsono
zoom-in-whitePerbesar
Foto : Anggit Pragusto Sumarsono
Di dunia bisnis, kejayaan bisa datang dan pergi. Ada masa sebuah perusahaan dipuja, dianggap pelopor, bahkan menjadi simbol keberhasilan suatu era. Namun, roda selalu berputar. Perubahan teknologi, selera konsumen, dan peta persaingan bisa menggeser posisi yang dulu begitu kokoh.
Kita sering mendengar cerita perusahaan besar yang jatuh. Nama-nama yang dulu mendominasi kini tinggal kenangan. Tetapi sejarah juga membuktikan bahwa banyak organisasi yang mampu bangkit kembali, bahkan lebih kuat dari sebelumnya. Kuncinya? Mereka menemukan cara baru untuk melihat arah, mengelola kinerja, dan menyatukan energi seluruh organisasi.
Di sinilah dua konsep manajemen modern sering dibicarakan: KPI (Key Performance Indicator) dan OKR (Objectives and Key Results). Sekilas keduanya sama-sama berbicara soal kinerja. Namun, pada hakikatnya, mereka ibarat dua alat berbeda. KPI menjaga ritme harian. OKR menatap horizon masa depan.
Keduanya sama-sama penting. Namun, kapan sebuah perusahaan membutuhkan KPI? Kapan ia harus berani melompat ke OKR? Dan yang lebih penting: bagaimana jika perusahaan pernah jaya, kemudian terpuruk selama satu dekade, lalu ingin bangkit kembali?

KPI: Detak Jantung Operasional

Bayangkan tubuh manusia. Untuk bertahan hidup, kita butuh detak jantung yang stabil. Begitu juga dengan perusahaan. KPI adalah detak jantung itu.
KPI berfungsi mengukur hal-hal penting yang memastikan organisasi tetap berjalan. Angka-angka yang dipantau setiap hari, minggu, atau bulan. Indikator yang jelas, terukur, dan biasanya stabil dalam jangka panjang.
Di dunia perbankan, KPI bisa berupa:
Rasio kredit bermasalah (NPL) di bawah 3%.
Waktu layanan nasabah di teller maksimal 3 menit.
Tingkat kepatuhan terhadap regulasi mencapai 100%.
Di industri manufaktur, KPI bisa berupa:
Tingkat cacat produk kurang dari 1%.
Kapasitas produksi tercapai sesuai target harian.
Efisiensi penggunaan bahan baku meningkat setiap tahun.
Sedangkan di rumah sakit, KPI dapat berupa:
Tingkat kepuasan pasien minimal 85%.
Waktu tunggu pasien maksimal 20 menit.
Tingkat keberhasilan operasi sesuai standar medis.
KPI memberikan kepastian dan kontrol. Ia memastikan perusahaan tetap disiplin. Tanpa KPI, organisasi bisa kehilangan arah di level operasional, membuang sumber daya, dan gagal memenuhi standar minimum.
Namun, KPI memiliki keterbatasan. Ia cenderung berfokus pada masa kini dan masa lalu: apakah target tercapai, apakah efisiensi terjaga, apakah layanan sesuai standar. KPI tidak menjawab pertanyaan paling penting: β€œKe mana kita akan melangkah selanjutnya?”

OKR: Kompas Masa Depan

Jika KPI adalah detak jantung, maka OKR adalah visi mata yang menatap jauh ke depan.
Konsep OKR diperkenalkan oleh Andy Grove di Intel pada 1970-an. Namun, dunia baru benar-benar mengenalnya ketika Google mengadopsinya sejak awal berdiri. Bagi Google, OKR menjadi cara untuk menyatukan ribuan karyawan di bawah satu arah besar, sambil tetap memberi ruang bagi inovasi.
Bedanya dengan KPI, OKR tidak hanya soal menjaga stabilitas. Ia tentang menetapkan arah baru dan ambisius.
OKR terdiri dari dua bagian:
Objective: tujuan besar yang jelas, singkat, dan menginspirasi.
Key Results: hasil kunci yang terukur, spesifik, dan memiliki batas waktu.
Contoh dari Google ketika ingin menjadikan Android sebagai sistem operasi nomor satu di dunia:
Objective: Android menjadi sistem operasi smartphone paling dominan.
Key Results:
Mencapai 100 juta pengguna dalam waktu tertentu.
Menjalin kerja sama dengan 10 produsen ponsel global.
Menyediakan 50 ribu aplikasi di Play Store.
OKR seperti ini memberi arah yang jelas. Tidak hanya ambisi, tetapi juga peta jalan menuju ambisi tersebut.
Banyak perusahaan besar lain menggunakan OKR. LinkedIn menggunakannya untuk mengembangkan jejaring profesional. Twitter mengandalkan OKR untuk mempercepat inovasi. Spotify menjadikannya sebagai alat agar tim musik digital mereka selalu kreatif.
Bahkan Microsoft, yang sempat dianggap tertinggal di era Steve Ballmer, kembali bangkit di bawah Satya Nadella dengan OKR besar: menjadikan cloud computing sebagai inti masa depan perusahaan. Hasil kunci mencakup pertumbuhan pengguna Azure, akuisisi perusahaan strategis, dan penetrasi ke berbagai sektor industri.
OKR memaksa organisasi untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga melangkah maju dengan berani.

KPI vs OKR: Seperti Rem dan Gas

Sebuah mobil tidak bisa hanya memiliki rem. Ia juga butuh gas. Begitu pula sebaliknya: gas tanpa rem bisa berbahaya.
KPI adalah rem yang memastikan perusahaan tetap terkendali. OKR adalah gas yang memberi percepatan dan arah.
Kapan sebuah perusahaan membutuhkan lebih banyak rem (KPI), dan kapan harus menekan gas (OKR)?
1. Perusahaan yang stabil dan mapan β†’ lebih cocok mengandalkan KPI. Misalnya perusahaan listrik, rumah sakit, atau pabrik yang fokus menjaga kualitas.
2. Perusahaan yang sedang bertransformasi atau bangkit kembali β†’ membutuhkan OKR. KPI saja tidak cukup untuk keluar dari jurang.
3. Perusahaan besar modern β†’ biasanya mengombinasikan keduanya. KPI menjaga mesin tetap hidup, OKR memastikan kapal melaju ke tujuan.
Microsoft adalah contoh klasik kombinasi ini. OKR membuat mereka fokus pada cloud, sementara KPI memastikan Windows dan Office tetap berjalan stabil.

Saat KPI Tak Lagi Cukup

Banyak perusahaan yang dulu berjaya kini menghadapi realitas pahit. Ada yang tergerus oleh startup, ada yang tertinggal dalam digitalisasi, ada pula yang gagal beradaptasi dengan regulasi baru.
Dalam kondisi seperti ini, KPI hanya membuat perusahaan β€œtetap bernapas”. Ibarat kapal yang diam di pelabuhan: meski utuh, ia tidak akan pernah sampai ke tujuan baru.
OKR hadir sebagai jawaban. Ia memberi arah, menyatukan energi, dan menyalakan kembali semangat perubahan.

Studi Kasus: Sebuah Bank yang Ingin Bangkit

Mari kita lihat contoh dari industri perbankan Indonesia. Ada sebuah bank yang dulu dikenal sebagai pelopor. Pada masanya, bank ini menjadi pilihan utama, karena menghadirkan konsep dan pendekatan yang berbeda dari kompetitornya.
Namun, lebih dari satu dekade terakhir, posisinya kian merosot. Persaingan semakin ketat. Perubahan perilaku nasabah membuat cabang-cabang fisik kurang relevan. Generasi muda lebih memilih layanan yang serba digital dan cepat.
Apa yang terjadi jika bank ini hanya mengandalkan KPI? Ia bisa bertahan. Rasio pembiayaan bermasalah dijaga tetap rendah. Kepatuhan regulasi selalu terpenuhi. Layanan di cabang tetap berjalan sesuai standar. Tetapi semua itu hanya membuat bank ini bertahan hidup, bukan bangkit kembali.
Untuk kembali relevan, bank ini harus berani menetapkan OKR yang ambisius. Misalnya:
Objective: Menjadi bank digital pilihan utama dalam tiga tahun.
Key Results:
1. Mengakuisisi sepuluh juta nasabah baru, khususnya generasi muda.
2. Mencapai minimal 70% transaksi nasabah melalui aplikasi mobile.
3. Meningkatkan kepuasan nasabah hingga melampaui rata-rata industri.
Namun, OKR tidak bisa berdiri sendiri. KPI tetap dibutuhkan: menjaga NPL di bawah batas aman, SLA layanan pelanggan tetap cepat, efisiensi biaya operasional terus ditingkatkan.
Dengan kombinasi OKR sebagai kompas strategis dan KPI sebagai kontrol operasional, bank ini tidak hanya bisa bertahan, tetapi juga kembali merebut hati pasar.

Pelajaran dari Perusahaan Dunia

Cerita kebangkitan perusahaan bukan monopoli luar negeri. Namun, ada baiknya kita belajar dari kisah-kisah besar:
Apple: sempat hampir bangkrut di akhir 1990-an. Di bawah Steve Jobs, Apple menetapkan arah baru lewat produk revolusioner. OKR mereka sederhana: menciptakan produk yang β€œinsanely great”. Hasil kunci diwujudkan melalui peluncuran iMac, iPod, iPhone, dan iPad. KPI tetap dijaga, tetapi OKR yang membawa lompatan.
IBM: pernah terpuruk ketika dunia beralih dari mainframe ke PC. Namun, IBM berhasil bangkit dengan mengubah arah menjadi perusahaan jasa dan solusi teknologi.
Toyota: setelah krisis besar akibat penarikan massal kendaraan, Toyota tidak hanya memperbaiki KPI kualitas, tetapi juga menetapkan OKR untuk menjadi pelopor mobil ramah lingkungan.
Semua contoh ini menunjukkan hal yang sama: KPI menjaga kestabilan, tetapi OKR memberi arah kebangkitan.

Tantangan di Indonesia

Di Indonesia, banyak perusahaan menghadapi dilema serupa. Apalagi dengan munculnya generasi muda yang lebih digital, kompetisi dengan startup, dan tekanan regulasi.
Perusahaan mapan sering kali terjebak pada KPI: menjaga efisiensi, mengurangi pembiayaan bermasalah, memenuhi kepatuhan. Semua penting, tetapi itu saja tidak cukup. Tanpa OKR yang ambisius, perusahaan bisa terjebak di zona nyaman.
Sebaliknya, startup sering kali penuh semangat OKR, tetapi melupakan KPI. Akibatnya, mereka bisa cepat tumbuh tetapi juga cepat tumbang karena operasional berantakan.
Kombinasi keduanya menjadi kunci.

Refleksi: Bertahan atau Bangkit?

Ada perbedaan besar antara bertahan hidup dan bangkit kembali. Bertahan hidup artinya memastikan mesin tetap menyala. Bangkit kembali artinya berani menetapkan tujuan baru, keluar dari zona nyaman, dan membangun masa depan.
KPI membuat kita disiplin. OKR membuat kita berani. KPI memastikan langkah kita rapi. OKR memastikan arah kita benar.

Penutup

KPI dan OKR bukanlah pilihan biner. Mereka adalah pasangan yang saling melengkapi. KPI ibarat detak jantung yang memastikan tubuh tetap hidup. OKR adalah visi yang membuat hidup terasa bermakna.
Perusahaan yang stabil cukup dengan KPI. Tetapi perusahaan yang pernah besar lalu terpuruk membutuhkan lebih dari sekadar KPI. Mereka butuh OKR sebagai kompas kebangkitan.
Sejarah sudah membuktikan: dari Apple hingga Microsoft, dari Google hingga Toyota, kombinasi keduanya mampu melahirkan kebangkitan spektakuler. Dan di Indonesia, perusahaan yang berani menetapkan OKR sambil menjaga KPI, akan punya peluang untuk menulis kisah kebangkitan berikutnya.

Anggit Pragusto Sumarsono, S.E., M.Si

Islamic Banking & Finance Specialist | Magister UI Cumlaude | 16+ Years in Consumer, Micro, SME, Retail Funding| Leadership & Business Growth
Trending Now