Konten dari Pengguna

Dunia Terbentuk dari Cara Kita Saling Memandang

Anisa Amanda
Seorang mahasiswa Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2 Desember 2025 11:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Dunia Terbentuk dari Cara Kita Saling Memandang
Artikel ini membahas bagaimana dunia politik internasional dibentuk oleh persepsi, identitas, dan interaksi sosial antarnegara, bukan hanya kekuatan material.
Anisa Amanda
Tulisan dari Anisa Amanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Gambar peta dunia di dinding. Foto: unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Gambar peta dunia di dinding. Foto: unsplash.com
Dunia Itu dibentuk lewat konstruksi sosial
Dalam banyak perdebatan mengenai hubungan antarnegara, kita sering mendengar klaim bahwa dunia ini kacau karena negara saling curiga satu sama lain. Negara dianggap selalu siap bersaing, siap berperang, dan siap mempertahankan diri dari ancaman yang entah berasal dari mana. Namun perspektif konstruktivisme khususnya dari Alexander Wendt menawarkan cara pandang yang lebih menyadarkan kita: anarchy is what states make of it. Intinya begini: dunia internasional tidak otomatis kacau. Kekacauan itu lahir dari cara negara-negara mengkonstruksi hubungan mereka sendiri.
Menurut Wendt, tidak ada “takdir” bagi hubungan internasional. Negara tidak otomatis menjadi musuh atau teman hanya karena sistem internasional itu anarki. Justru interaksi negara-lah yang membentuk pola hubungan itu. Negara A bisa memandang Negara B sebagai ancaman, tapi menganggap Negara C sebagai sahabat meski ketiganya hidup di lingkungan anarki yang sama. Dengan kata lain, bukan anarki yang menentukan perilaku negara, tetapi negara yang menentukan makna anarki itu.
Tiga Budaya Anarki: Hobbesian, Lockean, Kantian
Hal ini tercermin dalam tiga budaya anarki yang dikenal dalam konstruktivisme: Hobbesian, Lockean, dan Kantian. Dalam budaya Hobbesian, negara melihat pihak lain sebagai musuh; dalam Lockean, negara adalah rival yang tetap punya batasan moral; dan dalam Kantian, negara lebih cenderung memandang satu sama lain sebagai teman. Menariknya, ketiga budaya ini bukan bawaan lahir sistem internasional. Semua itu muncul dari sejarah interaksi, persepsi, dan identitas kolektif yang dibentuk negara-negara itu sendiri.
Realitas Politik Tidak Hanya Ditentukan Material
Jika kita melihat dunia sebagai sekumpulan hubungan yang dikonstruksi, kita sekaligus memahami bahwa realitas politik tidak hanya dibentuk oleh militer, teknologi, atau kekuatan ekonomi. Faktor-faktor nonmaterial seperti ide, norma, budaya, dan identitas sering justru lebih menentukan. Konstruktivisme percaya bahwa siapa kita dan bagaimana kita memaknai dunia memengaruhi bagaimana kita bertindak. Negara, sama seperti manusia, punya “self-image” yang membentuk kebijakan mereka.
Contoh Kasus: Amerika Serikat dan Kanada
Contohnya bisa dilihat dari hubungan Amerika Serikat dan Kanada. Secara geografis, keduanya adalah tetangga dekat. Jika mengikuti logika realisme, kedekatan geografis seharusnya memicu rasa waspada atau bahkan ancaman. Tetapi kenyataannya, Amerika dan Kanada justru menjadi sekutu setia. Perbatasan mereka adalah salah satu perbatasan paling damai di dunia. Mengapa? Karena mereka berbagi identitas historis yang mirip, budaya politik yang kompatibel, dan norma demokrasi liberal yang sama. Faktor-faktor nonmaterial inilah yang membuat keduanya tidak melihat satu sama lain sebagai ancaman. Dalam pandangan konstruktivis, identitas bersama menciptakan kepercayaan dan kerja sama.
Hal yang sama juga terlihat dalam hubungan beberapa negara Eropa di bawah Uni Eropa. Setelah berabad-abad saling berperang, mereka kini beroperasi dalam budaya Kantian, di mana integrasi, solidaritas, dan rasa bertetangga menjadi fondasi utama. Ini adalah bukti bahwa bahkan musuh pun bisa menjadi teman ketika identitas dan norma bersama direkonstruksi.
Hubungan Politik Domestik dan Tatanan Internasional
Konstruktivisme juga membantu kita membaca hubungan antara tatanan internasional dan politik domestik. Bagi konstruktivis, apa yang terjadi di dalam negeri tidak bisa dilepaskan dari pengaruh norma internasional. Misalnya, tekanan global terhadap hak asasi manusia memengaruhi kebijakan domestik banyak negara bahkan ketika negara tersebut semula tidak terlalu peduli. Begitu pula sebaliknya: politik domestik dapat membentuk bagaimana sebuah negara menginterpretasikan atau merespons norma global. Ada hubungan timbal balik antara keduanya.
Contoh paling jelas dapat dilihat dalam isu perubahan iklim. Negara-negara maju awalnya sangat lambat dalam merespons krisis ini. Namun norma global mengenai sustainability, green policy, dan tanggung jawab moral perlahan-lahan memengaruhi arah kebijakan domestik mereka. Perubahan itu bukan hanya soal teknologi atau uang, tetapi mengenai identitas baru yang ingin diklaim: “negara hijau”. Sekali lagi, ide mengubah tindakan.
Implikasi Besar bagi Cara Kita Melihat Politik Dunia
Dalam konteks yang lebih luas, konstruktivisme mengajak kita memahami bahwa dunia tidak netral. Dunia adalah hasil dari apa yang kita percaya, apa yang kita anggap normal, dan bagaimana kita menarasikan hubungan antarnegara. Jika negara melihat dunia sebagai arena pertarungan, maka konflik akan lahir. Jika negara melihat dunia sebagai peluang kerja sama, maka kolaborasi yang tumbuh. Dan jika dunia terasa semakin tidak aman, mungkin itu bukan salah anarki. Itu bisa jadi salah cara kita membangun makna anarki.
Pada akhirnya, konstruktivisme memberi pesan sederhana namun penting: dunia adalah cermin dari keputusan kita bersama. Kita bisa memilih budaya permusuhan, rivalitas, atau persahabatan. Kita bisa memilih melihat tetangga sebagai ancaman atau kawan. Kita bisa membiarkan identitas saling menjauhkan, atau justru menggunakannya untuk membangun kepercayaan. Dunia internasional bukan sesuatu yang ditakdirkan ia dibangun, dinegosiasikan, dan bisa diubah kapan saja. Dan perubahan itu selalu dimulai dari cara kita memaknai satu sama lain.
Trending Now