Konten dari Pengguna

Perempuan dan Sejarah Perang yang Melupakannya

Anisa Amanda
Seorang mahasiswa Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
26 November 2025 3:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Perempuan dan Sejarah Perang yang Melupakannya
Tulisan ini mengungkap bagaimana sejarah perang mengabaikan peran perempuan, padahal merekalah penopang utama kehidupan dan aktor penting yang jarang diakui dalam narasi konflik.
Anisa Amanda
Tulisan dari Anisa Amanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Siluet seorang perempuan yang sedang mengepalkan tangan ke atas. Foto: unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Siluet seorang perempuan yang sedang mengepalkan tangan ke atas. Foto: unsplash.com
Dalam cerita-cerita perang yang disampaikan di sekolah, diberitakan media, atau diabadikan film-film Hollywood, selalu ada sosok pahlawan gagah yang berdiri di garis depan: tentara laki-laki. Mereka yang memegang senjata, mengambil risiko, dan menyelamatkan negara.
Tetapi ada satu tokoh yang jarang sekali mendapat ruang dalam narasi besar ini perempuan. Padahal ketika bom meledak, ketika anak-anak berlari mencari perlindungan, ketika tubuh-tubuh terluka menunggu pertolongan, perempuanlah yang menjadi penopang kehidupan. Namun sayangnya, kontribusi mereka sering hanya dicatat sebagai pelengkap, bukan inti cerita.
Cynthia Enloe, tokoh sentral dalam teori feminisme internasional, sudah lama menggugat narasi tunggal ini. Di bukunya Bananas, Beaches and Bases (1989), ia melontarkan pertanyaan sederhana tapi dalam: “Where are the women in war?” Pertanyaan yang terdengar simpel, tapi memporak-porandakan cara kita melihat perang dan politik global. Enloe menunjukkan bahwa hubungan internasional dibangun dari kacamata maskulinitas keras, agresif, penuh kompetisi, seolah-olah dunia hanya digerakkan oleh laki-laki dan logika perang.

Militerisasi dan Maskulinitas: Dunia yang Didesain untuk Laki-Laki

Dalam budaya politik global, perang selalu diidentikkan dengan maskulinitas. Nilai seperti keberanian, kekuatan fisik, dan pengorbanan dijadikan standar moral tertinggi. Semua itu dilekatkan pada tubuh laki-laki. Mereka adalah pahlawan, pembela negara, simbol kejantanan nasional.
Sementara perempuan? Mereka dijadikan simbol emosional: ibu bangsa, penjaga rumah, perawat korban. Mereka boleh muncul dalam momen seremonial mengantar tentara pergi, menangis di pemakaman, atau menjadi ikon kesedihan tapi bukan aktor yang menentukan arah sejarah.
Ketika strategi disusun di meja militer, suara perempuan tidak diminta. Ketika perdamaian dirumuskan, mereka jarang diberi kursi. Dalam banyak konflik, perempuan sering digambarkan sebagai pihak yang harus dilindungi, bukan pihak yang memiliki kapasitas pengambilan keputusan.
Padahal kenyataannya jauh berbeda.

Perempuan yang Bertahan, Mengatur, dan Memastikan Hidup Terus Berjalan

Dalam situasi perang, perempuan bukan hanya merawat, tetapi mengelola kehidupan dari nol. Mereka mengatur dapur umum, memindahkan keluarga ke daerah aman, menjaga anak-anak tetap tenang, membangun jaringan solidaritas di tengah kehancuran, bahkan menjadi tulang punggung ekonomi ketika para laki-laki pergi ke medan perang.
Namun di banyak wilayah konflik, laporan UN Women (2023) menunjukkan bahwa perempuan di kamp pengungsian jarang dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan komunitas. Mereka dianggap penerima bantuan, bukan pemikir atau perancang solusi. Seolah-olah kemampuan perempuan hanya berhenti pada kerja-kerja perawatan, padahal merekalah yang paling memahami kebutuhan komunitas.
Sosiolog feminis Sylvia Walby menyebut kondisi ini sebagai “reproduksi patriarki modern.” Ini bukan patriarki yang keras dan gamblang, tapi patriarki yang lembut, halus, tapi mengukuhkan ketimpangan secara struktural. Perempuan ditempatkan dalam posisi aman tapi sekaligus disingkirkan dari ruang strategis.

Pendidikan: Ruang yang Lama Dikunci untuk Perempuan

Sebelum perempuan dapat duduk di meja perdamaian, mereka terlebih dahulu harus melawan pengucilan dari dunia pendidikan. Selama ratusan tahun, perempuan dilarang belajar tentang politik, strategi militer, atau diplomasi. Penghalangan ini bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena sistem takut kehilangan monopoli pengetahuan yang memihak laki-laki.
Bell hooks, pemikir feminis terkemuka, mengatakan bahwa pendidikan adalah bentuk feminist resistance senjata perlawanan yang memberikan perempuan ruang untuk berbicara, menulis, dan menentukan narasi sendiri. Ketika perempuan masuk ke dunia ilmu pengetahuan, mereka sedang mengguncang struktur lama yang selama ini mengabaikan mereka.

Ketika Dunia Perlu Diselamatkan, Perempuan Justru Mengisi Kekosongan

Menariknya, sejarah mencatat bahwa perempuan sering masuk ke politik internasional bukan karena “diundang,” tapi karena keadaan memaksa. Setelah Perang Dunia I dan II, saat laki-laki terserap militerisasi, banyak sektor sosial-politik yang kehilangan tenaga. Ruang itu kemudian diisi oleh perempuan yang sebelumnya tidak diberi kesempatan.
Salah satu contoh paling monumental adalah peran Eleanor Roosevelt dalam penyusunan Universal Declaration of Human Rights (1948). Ia memperjuangkan agar hak perempuan tidak hanya jadi lampiran, tetapi menjadi inti dari konsep kemanusiaan. Kontribusi ini menunjukkan bahwa ketika perempuan diberi ruang, standar moral dunia ikut berubah.
Cynthia Enloe menyebut ini sebagai “accidental feminism” feminisme yang lahir bukan dari kebijakan, tetapi dari kekacauan yang diciptakan sistem itu sendiri.
Jika sejarah adalah buku tebal umat manusia, maka selama ini perempuan hanya muncul di bagian pinggir. Ada, tetapi tidak dianggap penting. Padahal mereka adalah penopang keberlanjutan hidup di masa konflik. Mereka menjaga agar masyarakat tidak runtuh ketika negara runtuh.
Cynthia Enloe mengingatkan, “To study international politics is to study where the women are.”
Karena politik internasional yang tidak melibatkan perempuan bukan hanya timpang, tetapi tidak lengkap.
Maka tugas kita hari ini adalah menulis ulang Sejarah bukan dengan menghapus laki-laki, tetapi dengan memberi ruang pada cerita yang selama ini dikunci rapat. Kisah perempuan bukan pelengkap; mereka adalah aktor utama yang selama ini dilupakan narasi besar perang.
Pada akhirnya, dunia yang damai tidak hanya lahir dari kekuatan yang menang di medan perang, tetapi dari tangan perempuan yang menjaga kehidupan tetap berdenyut di tengah kehancuran.
Trending Now