Konten dari Pengguna
Sudan dan Sunyinya Kepedulian Dunia
2 Desember 2025 10:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Sudan dan Sunyinya Kepedulian Dunia
Artikel ini membahas krisis kemanusiaan Sudan yang terabaikan dunia, serta bagaimana teori-teori Hubungan Internasional menjelaskan lambatnya respons global dan minimnya intervensi efektif.Anisa Amanda
Tulisan dari Anisa Amanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Konflik yang Terus Membesar, Perhatian yang Terus Mengecil
Sudan kembali berada dalam pusaran konflik yang membuat jutaan orang kehilangan rasa aman. Sejak bentrokan antara SAF dan RSF pecah, keadaan semakin memburuk, kota yang hancur, keluarga terpisah, bantuan terhambat, dan kehidupan sehari-hari menjadi perjuangan bertahan hidup. Namun, di tengah skala krisis yang sangat besar, perhatian global terasa jauh dari memadai. Sudan seperti terlupakan dalam hiruk-pikuk isu geopolitik yang dianggap lebih strategis. Padahal, penderitaan masyarakat sipil di sana bukan sema-mata hanyalah angka saja, melainkan tragedi kemanusiaan yang nyata. Krisis ini memunculkan pertanyaan penting: mengapa sebuah bencana sedalam ini tidak menjadi prioritas dunia?
Human Security: Ketika Keamanan Seharusnya Tentang Manusia, Bukan Militer
Dalam studi Hubungan Internasional, konsep human security mengingatkan bahwa keamanan sejati tidak diukur dari kekuatan senjata, melainkan dari rasa aman yang dirasakan warga. Jika konsep ini dijadikan kacamata untuk melihat Sudan, jelas bahwa negara kehilangan kemampuan melindungi rakyatnya, padahal tujuan dari suatu negara itu adalah menjamin keamanan setiap warga negarany dari ancaman luar. Akses terhadap makanan, air bersih, kesehatan, hingga tempat tinggal menjadi sangat terbatas. Konflik ini menunjukkan betapa rapuhnya definisi keamanan jika hanya dipahami dari sudut pandang militer. UNDP sejak 1994 menekankan bahwa keamanan manusia mencakup keselamatan ekonomi, kesehatan, lingkungan, dan perlindungan dari kekerasan. Namun di Sudan, hampir seluruh aspek itu runtuh bersamaan.
Mengapa Dunia Lambat Merespons? Teori Hierarki Keamanan Menjelaskan Banyak Hal
Dalam HI, Barry Buzan menjelaskan bahwa isu keamanan dibentuk oleh persepsi negara besar. Konflik yang menyentuh wilayah strategis atau menyangkut kepentingan ekonomi cenderung mendapat perhatian lebih cepat. Sudan tidak berada di pusat kompetisi geopolitik dunia, sehingga krisisnya tenggelam dalam hierarki perhatian global. Inilah yang disebut sebagai security hierarchy, sebuah fenomena ketika dunia memilih fokus pada isu yang dianggap lebih penting bagi stabilitas internasional meski secara kemanusiaan, krisis lain jauh lebih mendesak. Sudan menjadi contoh nyata bagaimana prioritas dunia internasional tidak selalu selaras dengan kebutuhan moral untuk melindungi manusia.
Sudan dalam Kompleks Keamanan Regional Afrika
Konflik di Sudan juga tidak berdiri sendiri. Dalam teori Regional Security Complex milik Buzan dan Waever, keamanan suatu negara terkait erat dengan negara-negara te
Upaya penyelesaian konflik sebenarnya telah dilakukan oleh PBB, Uni Afrika, dan IGAD. Namun prosesnya berjalan lambat, sering terhambat oleh perbedaan kepentingan negara anggota dan sulitnya akses di lapangan. Dalam teori liberalisme, institusi internasional dipercaya mampu memediasi konflik dan mendorong kerja sama. Namun Sudan memperlihatkan keterbatasan institusi tersebut. Ketika konflik melibatkan dua kelompok bersenjata dengan klaim legitimasi masing-masing, negosiasi formal sering kali tidak menjadi jalan keluar cepat. Kapasitas institusi global belum mampu mengejar kompleksitas konflik yang dinamis seperti yang terjadi di Sudan.
Diplomasi Multilapis: Pendekatan yang Terlambat Diterapkan
Sudan membutuhkan pendekatan yang lebih luas dari sekadar negosiasi antarpemerintah. Multitrack diplomacy konsep yang melibatkan pemerintah, organisasi kemanusiaan, masyarakat sipil, akademisi, dan komunitas lokal seharusnya menjadi strategi utama. Konflik yang berdampak pada kehidupan masyarakat sipil membutuhkan penyelesaian yang juga menyentuh akar sosial dan ekonomi. Pendekatan multilapis ini ideal, tetapi implementasinya masih minim di Sudan. Padahal banyak konflik di dunia yang terbukti lebih cepat stabil ketika masyarakat dilibatkan dalam proses perdamaian.
Kemanusiaan yang Tidak Boleh Lagi Diletakkan di Pinggir Meja
Sudan mengajarkan satu hal penting: sistem internasional masih jauh dari adil dalam memandang penderitaan manusia. Dunia bisa bergerak cepat ketika kepentingan strategis terancam, tetapi bergerak sangat lambat ketika masyarakat biasa menjadi korban utama. Dalam perspektif HI, Sudan menjadi cermin bahwa keamanan global belum benar-benar memprioritaskan manusia. Jika dunia ingin lebih stabil, perhatian terhadap krisis Sudan tidak boleh hanya muncul saat terjadi eskalasi besar, tetapi harus dibangun melalui komitmen kemanusiaan yang berkelanjutan.
Sudan mungkin jauh secara geografis, tetapi penderitaan manusia tidak pernah boleh jauh dari nurani kita. Konflik yang berkepanjangan bukan sekadar urusan politik, tetapi persoalan tentang siapa yang berhak hidup aman. Dan hingga hari ini, rakyat Sudan masih menunggu dunia untuk benar-benar peduli.

