Konten dari Pengguna

Israel Penebar Takut yang Selalu Ketakutan

Teuku Parvinanda Handriawan
Pemerhati Politik dan Kebijakan Publik
17 Juni 2025 12:15 WIB
Β·
waktu baca 6 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Israel Penebar Takut yang Selalu Ketakutan
Israel terus menunjukkan wajah aslinya: negara yang selalu ketakutan dan menyerang. Artikel ini membongkar motif agresi Israel dan cerminan ketakutan struktural Barat yang diwarisinya.
Teuku Parvinanda Handriawan
Tulisan dari Teuku Parvinanda Handriawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Warga Palestina melihat kendaraan militer Israel yang rusak menyusul gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Rafah, Jalur Gaza selatan, Rabu (22/1/2025). Foto: Hatem Khaled/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Warga Palestina melihat kendaraan militer Israel yang rusak menyusul gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Rafah, Jalur Gaza selatan, Rabu (22/1/2025). Foto: Hatem Khaled/REUTERS
Israel tak henti-hentinya menunjukkan jati dirinya. Wajah yang selalu mereka bantah. Keberadaan yang tak pernah mereka akui. Bahwa mereka adalah sumber ketakutan yang tak pernah membuat dunia bisa merasakan kedamaian.
Terbaru, dengan yakinnya Israel melancarkan serangan udara ke Iran yang diklaim sebagai langkah pencegahan terhadap potensi pengembangan senjata nuklir oleh Teheran. Tapi benarkah demikian, atau ini sekadar cara lama untuk mempertahankan posisi dominan di tengah komunitas internasional yang semakin tak percaya?.
Bukan sekali dua kali Israel menggunakan dalih keamanan nasional untuk menyerang negara lain. Suriah telah menjadi sasaran serangan udara berkali-kali dalam dekade terakhir. Bahkan, ketika dunia tengah sibuk menghadapi krisis kemanusiaan di Gaza, Israel masih meluaskan agresinya ke kawasan lain dengan narasi yang sama: melindungi diri dari ancaman.
Namun ironisnya, semakin Israel menunjukkan superioritas militernya, semakin pula terlihat inferioritas eksistensialnya. Di balik jet tempur, sistem pertahanan Iron Dome, dan aliansi erat dengan Amerika Serikat serta negara-negara Eropa, tersimpan ketakutan mendalam akan satu hal: tidak adanya legitimasi moral yang kuat untuk keberadaannya di kawasan yang terus menolaknya.
Israel, sejak awal berdirinya, lahir dari sebuah perjanjian politik internasional yang tidak pernah sepenuhnya diterima oleh wilayah tempat ia berada. Keberadaannya ditanamkan di tanah yang telah dihuni ribuan tahun oleh masyarakat Palestina dan bangsa-bangsa Arab lainnya. Klaim sejarah dan agama menjadi pondasi rapuh untuk sebuah negara modern yang hidup di wilayah masyarakat pemilik tanah sebenarnya.
Sikap ini adalah cerminan dari ketakutan yang akut. Negara yang percaya diri tak perlu membombardir. Negara yang yakin akan posisinya tak perlu memainkan propaganda setiap hari. Tapi Israel tak berhenti melakukan keduanya.
Agresi ke Iran, Suriah, Lebanon, bahkan kawasan-kawasan sipil di Gaza, adalah bentuk hiperkompensasi dari rasa insecurity tersebut. Mereka sadar, bahwa tanpa kekuatan militer dan perlindungan internasional, terutama dari Amerika dan Uni Eropa, Israel bisa runtuh hanya karena kehilangan kepercayaan dunia.
Jika kita mundur lebih jauh, pola ini bukan hal baru. Dalam sejarah panjang konflik Timur Tengah, agresi militer Israel tercatat sejak awal pembentukannya. Pada 1948, Perang Arab-Israel pecah hanya berselang sehari setelah negara ini diproklamasikan. Selanjutnya, Perang Enam Hari (1967) dan Perang Yom Kippur (1973) memperlihatkan bagaimana Israel bukan sekadar bertahan, tetapi aktif merebut wilayah, termasuk Tepi Barat, Jalur Gaza, Dataran Tinggi Golan, dan Sinai.
Memasuki abad ke-21, agresi itu berubah rupa namun tak berkurang tajamnya. Operasi di Lebanon (2006), Gaza (2008, 2014, 2021, 2023), hingga serangan terhadap Iran dan Suriah baru-baru ini, menegaskan satu hal: Israel tak hanya membangun tembok di sekelilingnya, tetapi juga dinding paranoia yang membuatnya merasa harus selalu menyerang terlebih dahulu.

Bermain Polisi Dunia, Tanpa Moral

Lucunya, dalam skenario ini, Israel tak sendiri. Ia seperti β€œpolisi cilik” dari skema kekuatan global yang telah lama dimainkan oleh Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Negara-negara Barat yang kerap mengeklaim diri sebagai penjaga demokrasi dan hak asasi manusia, ternyata juga pelaku kekerasan internasional yang paling besar.
Para sekutu Israel ini terus memperburuk keadaan. Alih-alih menjadi pihak yang mengedepankan penyelesaian damai, negara-negara Barat justru mempertahankan peran lama mereka sebagai pewaris kolonialisme: menggunakan kekuasaan untuk mengatur siapa yang boleh hidup, siapa yang boleh mati.
Amerika Serikat, misalnya, selama puluhan tahun menempatkan dirinya sebagai polisi dunia. Tapi catatan historisnya menyedihkan. Dari Vietnam, Irak, Afghanistan, hingga Libya dan Suriah, yang ditinggalkan hanya kehancuran. Amerika Serikat menyerang Irak pada 2003 dengan dalih keberadaan senjata pemusnah massal (WMD). Tapi seperti yang kini kita ketahui, senjata itu tak pernah ditemukan. Afghanistan dibombardir untuk mengejar Osama bin Laden, tapi yang terjadi justru pendudukan dua dekade yang berakhir sia-sia. Libya, Suriah, Yaman, daftarnya terlalu panjang. Lalu kini, Israel mewarisi watak dan strategi itu.
Sejarah kolonialisme pun mencerminkan hal serupa. Eropa dulu menjajah separuh dunia, mengeruk rempah, emas, dan tenaga kerja dari Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Ketika akhirnya mereka pergi, yang tertinggal hanyalah garis batas artifisial, konflik etnis, dan ketimpangan ekonomi. Seragam kolonial berganti menjadi jas diplomatik dan kebijakan luar negeri Tak ada permintaan maaf global. Tak ada rekonstruksi yang tulus. Seolah-olah, kehancuran itu adalah bagian dari takdir, bukan konsekuensi dari keserakahan.
Eropa ikut menjaga Israel bukan karena kemanusiaan, tetapi karena kepentingan: minyak, geopolitik, dan rasa bersalah yang belum selesai akibat Holocaust. Tapi apakah kejahatan masa lalu bisa ditebus dengan menciptakan kejahatan baru?
Ketika kekuasaan menjadi ukuran kebenaran, maka kebenaran itu sendiri kehilangan makna. Dunia menjadi milik mereka yang bersenjata, bukan mereka yang benar. Dalam kondisi inilah, pertanyaan besar muncul: apakah ada tempat bagi keadilan di dunia yang dikendalikan oleh para penguasa dengan sejarah tangan berlumur darah?.
Dalam dunia seperti ini, kita layak bertanya: apakah hukum internasional dan perdamaian hanya berlaku bagi mereka yang tak bersenjata? Apakah dunia ini milik mereka yang punya kekuatan dan kepentingan?.
Mahatma Gandhi pernah berkata, β€œBumi menyediakan cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap orang, tetapi tidak untuk memenuhi keserakahan setiap orang.” Bahkan, dalam bentuk lain ia juga menyatakan bahwa dunia ini terlalu luas untuk dihuni tujuh generasi, namun menjadi terlalu sempit bila dipenuhi oleh satu generasi yang tamak dan haus kuasa.
Teori hubungan internasional realisme mengajarkan bahwa negara-negara bertindak berdasarkan kepentingan dan kekuatan, bukan nilai moral atau hukum. Namun pertanyaan besarnya adalah: apakah kita masih mau terus hidup dalam dunia yang tunduk pada logika itu?.
Mengutip Profesor Jeffrey D. Sachs, seorang ekonom ternama dan tokoh kebijakan internasional yang menyebut PM Benjamin Netanyahu sebagai sosok yang β€œobsesif” dan bertanggung jawab atas tekanan agar AS turun tangan dalam konflik di Timur Tengah. Menurutnya perang-perang di Irak, Suriah, dan Iran dimotori atau dipengaruhi oleh ambisi Netanyahu. Ini kata seorang profesor di Columbia University yang notabene berkebangsaan Amerika.
Israel, Amerika, dan para pendukung kolonialisme modern lainnya telah menjadikan dunia ini ruang sempit penuh bom, drone, dan blokade. Mereka menciptakan peta-peta baru tanpa pernah mendengarkan suara dari tanah yang dipijak. Mereka mengatur tatanan global, membentuk narasi kebaikan dan kejahatan, hanya berdasarkan keuntungan strategis.
Tapi sejarah selalu menunjukkan satu hal: kekuatan tanpa dasar moral akan runtuh. Kolonialisme Eropa tak bisa bertahan selamanya. Uni Soviet, dengan semua senjatanya, juga tumbang. Amerika sendiri kini sedang goyah, bukan karena diserang dari luar, tetapi karena gelombang dari dalam. Israel, sekuat apa pun militernya, tak akan bisa bertahan selamanya jika terus melandaskan dirinya pada rasa takut, kekerasan, dan dukungan eksternal yang rapuh.
Dunia memang sedang kehilangan arah. Tapi bukan berarti kita harus berhenti melawan kebohongan. Kebenaran, kadang memang kalah oleh peluru. Tapi ia tak pernah mati. (tph)
Trending Now