Konten dari Pengguna

Sekolah Alam: Alternatif Pendidikan yang Tumbuh di Tengah Sistem Formal

Annisa Intan Maharani
Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta
19 Oktober 2025 8:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Sekolah Alam: Alternatif Pendidikan yang Tumbuh di Tengah Sistem Formal
Sekolah alam hadir sebagai alternatif pendidikan yang menekankan pembelajaran kontekstual, karakter, dan kepedulian lingkungan di tengah sistem formal yang seragam. #userstory
Annisa Intan Maharani
Tulisan dari Annisa Intan Maharani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi sekolah alam Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sekolah alam Foto: Shutterstock
Di tengah sistem pendidikan formal yang semakin berorientasi pada nilai dan ujian, sekolah alam muncul sebagai alternatif yang menawarkan pendekatan belajar yang lebih kontekstual dan menyenangkan. Konsep ini menekankan pengalaman langsung, kedekatan dengan lingkungan, dan pembentukan karakter melalui kegiatan nyata di alam terbuka.
Data dari Jaringan Sekolah Alam Nusantara (JSAN) mencatat bahwa hingga tahun 2024 terdapat lebih dari 200 sekolah alam yang tersebar di berbagai daerah Indonesia, mulai dari Jabodetabek, Yogyakarta, Bandung, hingga Kalimantan. Padahal, pada awal pembentukannya di tahun 2011, jaringan ini baru mencakup sekitar 57 sekolah.
Fasilitas Sekolah Alam Cikeas. Sumber: sekolahalamcikeas.sch.id

Filosofi Belajar dari Alam

Secara filosofi, sekolah alam berawal dari prinsip learning by doing, yaitu belajar melalui pengalaman langsung. Anak-anak tidak hanya mendengar atau membaca, tetapi juga melakukan. Mereka belajar sains sambil menanam, belajar matematika sambil mengukur luas lahan, dan belajar tanggung jawab melalui kegiatan merawat tanaman atau hewan. Pendekatan ini membantu anak memahami makna di balik pelajaran, bukan sekadar menghafal rumus atau definisi.
Sebagian besar sekolah alam di Indonesia kini menerapkan kurikulum tematik yang dikombinasikan dengan pendidikan karakter dan kewirausahaan lingkungan. Kegiatan belajar dilakukan sekitar 60–70% di luar ruangan, di kebun, sungai, atau hutan mini sekitar sekolah untuk menumbuhkan keterhubungan langsung dengan alam.

Jejak Sekolah Alam di Indonesia

Konsep sekolah alam pertama kali dikenal luas di Indonesia melalui Sekolah Alam Ciganjur, yang didirikan oleh Lendo Novo pada tahun 1998. Sekolah ini berdiri di atas lahan seluas 2.000 meter persegi di kawasan Jakarta Selatan; berawal dari hanya delapan siswa dan enam guru. Gagasannya sederhana, tetapi revolusioner, yaitu menghadirkan pendidikan yang membebaskan anak untuk bereksplorasi, berinteraksi dengan alam, dan mengenal nilai-nilai kehidupan melalui pengalaman langsung.
Ilustrasi anak belajar di sekolah alam Foto: Shutterstock
Dari sinilah filosofi learning by doing mulai dikenal luas dan menjadi inspirasi bagi banyak pendidik di Indonesia. Seiring waktu, gagasan ini berkembang pesat. Pada awal 2010-an, mulai bermunculan sekolah alam di berbagai daerah seperti Sekolah Alam Cikeas (Bogor), Sekolah Alam Bandung, Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya, dan Sekolah Alam Minasa Upa Makassar. Pertumbuhannya yang pesat menunjukkan meningkatnya kepercayaan publik terhadap pendidikan yang berakar pada kearifan lokal dan keberlanjutan lingkungan.

Ciri Khas dan Metode Pembelajaran

Dalam praktiknya, sekolah alam memiliki beberapa ciri khas utama yang membedakannya dari sekolah konvensional. Guru berperan sebagai fasilitator, bukan pemberi instruksi tunggal. Proses belajar lebih banyak berlangsung di ruang terbuka, seperti kebun, hutan mini, sungai, atau halaman sekolah. Kurikulumnya bersifat tematik dan fleksibel, disusun berdasarkan minat anak serta konteks lingkungan sekitar.
Menurut data Jaringan Sekolah Alam Nusantara (JSAN), sekitar 60–70% kegiatan belajar di sekolah alam dilakukan di luar ruangan, dengan fokus pada tiga pilar utama yaitu akademik, karakter, dan kepemimpinan. Pendekatan ini biasanya menggunakan model project-based learning (pembelajaran berbasis proyek) yang menggabungkan ilmu pengetahuan dengan keterampilan hidup.

Tantangan dalam Pengakuan dan Aksesibilitas

Suasana pembelajaran jelajah Rimba Sekolah Alam Kampung Baca Taman Rimba (Batara) di Papring, Kalipuro, Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu (7/3/2021). Foto: Budi Candra Setya/ANTARA
Meski menawarkan konsep yang inovatif dan humanis, sekolah alam masih menghadapi sejumlah tantangan penting, terutama dalam hal pengakuan formal dan aksesibilitas pendidikan. Tidak semua sekolah alam di Indonesia berada di bawah sistem pendidikan formal yang diakui oleh Kemendikbudristek. Beberapa di antaranya hanya terdaftar sebagai satuan pendidikan nonformal atau komunitas belajar, sehingga ijazah dan hasil belajarnya sering kali harus disetarakan melalui program Pendidikan Kesetaraan (Paket A, B, atau C).
Selain itu, masalah biaya dan aksesibilitas juga menjadi sorotan. Karena kegiatan belajar banyak dilakukan di alam terbuka dan berbasis proyek, biaya operasional sekolah alam cenderung lebih tinggi dibandingkan sekolah negeri.
Berdasarkan laporan CNN Indonesia (2023), biaya pendidikan di sekolah alam kawasan Jabodetabek berkisar antara Rp13 juta hingga Rp29 juta per tahun, tergantung pada lokasi, fasilitas, dan intensitas kegiatan di lapangan. Faktor seperti keterbatasan guru pendamping, kebutuhan alat praktik, dan pengelolaan lahan belajar turut berkontribusi pada tingginya biaya tersebut. Akibatnya, sekolah alam masih lebih banyak diakses oleh keluarga menengah ke atas, sedangkan kelompok masyarakat lain belum banyak tersentuh.
Ilustrasi anak bermain di alam atau menanam pohon Foto: A3pfamily/Shutterstock
Di balik keterbatasan akses dan pengakuan formal, sekolah alam menawarkan nilai tambah yang sulit ditemukan dalam sistem pendidikan formal. Pendekatannya menekankan keseimbangan antara pengetahuan akademik, pembentukan karakter, dan empati terhadap lingkungan.
Sekolah alam bukan hanya tempat belajar akademik, melainkan juga ruang untuk mengasah rasa ingin tahu, kepedulian terhadap lingkungan, dan kemampuan berpikir kritis. Anak-anak belajar bahwa mereka adalah bagian dari alam yang harus dijaga, bukan sekadar penikmatnya.

Alternatif yang Mengembalikan Esensi Pendidikan

Kehadiran sekolah alam memberi warna baru dalam dunia pendidikan Indonesia. Ia menjadi pengingat bahwa belajar tidak selalu harus terjadi di dalam kelas dan tidak harus diukur dengan angka.
Di tengah sistem pendidikan formal yang cenderung seragam, sekolah alam tumbuh sebagai alternatif yang menawarkan pembelajaran yang lebih bermakna, pembelajaran yang dekat dengan kehidupan nyata dan alam tempat kita berpijak.
Trending Now