Konten dari Pengguna
Overconsumption: Ketika Tumpukan Barang Menjadi Standar Kebahagiaan yang Baru
10 Desember 2025 2:00 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Overconsumption: Ketika Tumpukan Barang Menjadi Standar Kebahagiaan yang Baru
Overconsumption: Ketika tumpukan barang menjadi standar kebahagiaan yang baru. Overconsumption juga perlu diatasi dari sisi produksinya dengan membuat produk dengan bahan daur ulang. #userstoryMumtaz Arafah
Tulisan dari Mumtaz Arafah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di belahan bumi mana pun, Anda akan menemukan setidaknya satu orang yang akan membeli barang baru tanpa alasan yang jelas, bahkan ketika ia sudah memiliki barang yang sama dengan kondisi baik. Tidak, bahkan tidak perlu orang lain. Lihatlah diri kita sendiri. Lemari pakaian, tumpukan barang di sudut ruangan, atau keranjang aplikasi belanja online, setidaknya ada barang-barang yang tidak begitu dibutuhkan, tetapi kita miliki atau kita inginkan.
Sebagai generasi yang lahir dan dibesarkan dalam dunia yang sudah mengenal digitalisasi dan globalisasi, hal ini natural terjadi. Iklan televisi atau youtube, billboard yang selalu menghiasi gedung-gedung besar, dan hadirnya aplikasi belanja online adalah beberapa bukti bahwa sejak kecil, Generasi Z (Gen Z) telah terpapar media yang mendorong sifat konsumtif. Perilaku konsumsi berlebihan ini merupakan fenomena overconsumption.
Laura Foxโpengacara lingkungan dan peneliti di Fakultas Hukum Yaleโmengatakan bahwa alasan terjadinya fenomena overconsumption dan mengapa isu ini memburuk setiap harinya adalah model ekonomi dunia. Konsumerisme didorong kuat oleh kapitalisme. Kemajuan teknologi juga berperan penting. Melalui kacamata produksi, mesin yang kini berkembang pesat membuat produksi barang-barang menjadi lebih mudah dan murah, menghasilkan lebih banyak lagi produk yang ditawarkan.
Iklan yang terus menerus dipaparkan di setiap kesempatan juga menjadi faktor kuat adanya overconsumption. Ditambah aplikasi belanja online yang memudahkan akses konsumen untuk membeli barang maupun jasa. Kilas balik, orang-orang mungkin akan berpikir dua kali untuk membeli barang yang tidak dibutuhkan jika aksesnya sulit. Namun dengan adanya teknologi, dengan beberapa kali klik, barang akan sampai di depan rumah Anda.
Fenomena overconsumption ini bukan isu biasa yang dapat diselesaikan dengan cepat; isu ini berlapis. Overconsumption berkaitan erat dengan fenomena doom spending. Mengonsumsi barang maupun jasa yang didasari oleh kecemasan dipengaruhi beberapa hal, contohnya media sosial atau ekonomi yang tidak menentu, sehingga cenderung memengaruhi individu menghabiskan uangnya untuk barang-barang yang dapat dijangkau dengan cepat dan mudah dengan budget yang sudah dimiliki, dibandingkan tujuan jangka panjang yang lebih penting.
Ironisnya, karakter-karakter yang dipertontonkan di media massa justru mendukung hal ini. Contohnya saja frasa YOLO (You Only Live Once) yang kini menjadi mentalitas dari banyak Gen Z, mendorong mereka mengejar kesenangan instan dengan memprioritaskan keinginan dibanding kebutuhan. Pemikiran ini dapat mengarah ke dampak negatif kepada lingkungan dan kesehatan.
Secara natural, overconsumption akan menghabiskan lebih banyak bahan produksi, yang tentunya diambil dari sumber daya alam. Dikutip dari Global Footprint Network, masyarakat dunia mengonsumsi sumber daya sebesar 1,7 kali kapasitas regenerasi bumi.
Hutan dikuras, ikan ditangkap secara berlebihan, bahan-bahan fosil dibakar tanpa henti, bumi ini tidak memiliki kapasitas yang cukup dibandingkan yang dikonsumsi manusia. Kemungkinan paling parahnya adalah kita tidak punya dunia yang layak untuk dihuni generasi muda di masa depan.
Overconsumption juga berdampak negatif pada ekonomi dan sosial. Pada masalah ekonomi, peningkatan produksi berlebihan, lalu dijual dengan harga yang murah memicu lebih banyak pekerja yang dieksploitasi, mendapat upah rendah dan standar kerja yang buruk. Selain itu, kebiasaan konsumsi berlebihan juga menjadi alasan setiap individu memiliki utang.
Dorongan membeli barang yang tidak diperlukan membuat mereka bergantung pada kredit atau pinjaman, sehingga finansial pribadinya menjadi tidak stabil. Pengaruh buruknya pada aspek sosial dapat dilihat dari kualitas hidup yang memburuk. Hal ini berkaitan dengan karakteristik Fear of Missing Out (FOMO) di mana masyarakat tertekan untuk membeli produk yang sedang trending hanya karena tidak ingin tertinggal.
Selain itu, banyak produk yang sudah dibeli akhirnya dibuang atau benar-benar tidak terpakai dalam hitungan bulan, bahkan ketika kondisinya masih baik, barang tersebut justru digantikan dengan barang baru.
Sampah dan polusi yang dihasilkan dari produksi dan konsumsi barang-barang ini sering kali dibuang jauh dari tempat produk itu digunakan. Banyak barang yang dibuang di tempat yang cenderung ditinggali oleh masyarakat marjinal. Hal ini menimbulkan ketidakadilan lingkungan sosial karena mengapa masyarakat miskin harus menanggung beban dari konsumsi masyarakat kaya.
Meskipun isu ini tidak dapat diselesaikan dengan cepat, tetapi kita harus mulai membuka mata atas dampak-dampak buruknya. Sebagai mahasiswa Universitas Airlangga, tentunya saya memiliki tanggung jawa untuk mengkritik sistem, tetapi tidak luput, saya juga perlu mengubah perilaku harian yang masih memicu overconsumption.
Sebagai starting point, buruknya overconsumption ini perlu diedukasi kepada masyarakat luas. Fokus utamanya adalah mengubah pola pikir masyarakat bahwa kebahagiaan tidak hanya dicapai dengan konsumsi berlebihan. Untuk mencegah pembelian impulsif, perlu adanya strategi pembelian.
Salah satu caranya adalah dengan mengatur daftar kebutuhan agar tidak membeli barang yang tidak diperlukan. Tidak hanya dari sisi konsumsi, overconsumption juga perlu diatasi dari sisi produksinya. Perusahaan dapat membuat produk dengan menggunakan bahan daur ulang dan mengurangi promosi konsumsi cepat seperti produk fast-fashion. Mari kita ciptakan dunia yang membebaskan kita dari siklus konsumsi dan tidak mengukur kebahagiaan dari kepemilikan.

