Konten dari Pengguna
Anak Dipaksa Ranking, Guru Dipaksa Patuh, Lalu Siapa yang Merdeka?
9 Mei 2025 19:09 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Anak Dipaksa Ranking, Guru Dipaksa Patuh, Lalu Siapa yang Merdeka?
Merdeka Belajar hanya jadi jargon ketika anak masih diburu ranking dan guru dibungkam sistem. Jika semua dikekang, siapa sebenarnya yang merdeka?Arsyad Sadewa
Tulisan dari Arsyad Sadewa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam dunia pendidikan kita, kata merdeka sering diucapkan, tetapi jarang diwujudkan. Anak-anak masih dijejali logika ranking yang menindas, sementara guru terus dipaksa patuh pada sistem yang tidak memberi ruang untuk berpikir, apalagi melawan. Di tengah hingar-bingar slogan Merdeka Belajar, kemerdekaan justru menjadi ilusi yang dipelihara.
Ranking Bukan Cerminan Kecerdasan, Melainkan Alat Penjinakan
Ranking masih dianggap tolok ukur utama keberhasilan, seakan kemampuan manusia bisa disusun dalam barisan angka yang kaku. Anak-anak tidak didorong untuk memahami, melainkan untuk mengalahkan. Yang lambat dianggap beban, yang tak cocok dengan sistem dianggap gagal.
Sekolah berubah menjadi arena kompetisi, bukan ruang pertumbuhan. Kita menciptakan generasi yang takut gagal, bukan yang berani mencoba. Anak-anak diajar untuk taat pada format, bukan untuk menantang ide. Maka jangan heran jika lulusan pendidikan kita pandai menghafal, tapi enggan bertanya.
Guru Bukan Mesin Kurikulum, Tapi Diperlakukan Seperti Itu
Guru sering dipuja dalam pidato, tapi diperas dalam praktik. Mereka dituntut kreatif, tetapi dicekik oleh dokumen dan laporan yang tak pernah selesai. Mereka diminta mendidik secara holistik, tetapi harus tunduk pada kurikulum yang seragam dan tak fleksibel.
Alih-alih menjadi subjek pendidikan, guru justru menjadi korban sistem yang birokratis dan hierarkis. Suara mereka tak didengar, gagasan mereka dibatasi. Ketika guru hanya menjadi pelaksana, bukan pengarah pembelajaran, maka pendidikan kehilangan arah.
Merdeka Belajar atau Merdeka Admin?
Pemerintah mengklaim telah memberi kebebasan. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Kebebasan belajar hanya diberikan dalam hal-hal teknis: memilih modul ajar, menyusun asesmen, atau menentukan projek. Tapi kebebasan berpikir? Itu tidak pernah benar-benar ada.
Siswa tetap diukur dengan standar seragam. Guru tetap dinilai berdasarkan kepatuhan terhadap perangkat formal. Kata merdeka akhirnya berubah menjadi soal teknis, bukan transformasi filosofis. Kita menyederhanakan kemerdekaan menjadi urusan template.
Sistem yang Merdeka, Bukan Manusia di Dalamnya
Dalam sistem seperti ini,
Pendidikan mestinya membebaskan, bukan melanggengkan penjinakan. Tapi yang terjadi justru sebaliknya: kita menciptakan generasi yang patuh sebelum kritis, yang takut salah sebelum berani mencoba.
Kemerdekaan Hanya Bisa Dicapai dengan Perlawanan
Jika kita sungguh ingin pendidikan yang memerdekakan, maka kita harus berani membongkar kerangka yang sudah dianggap lazim. Kurikulum harus dilihat ulang, bukan hanya diganti. Penilaian harus dievaluasi, bukan dihias. Posisi guru harus dikuatkan, bukan terus dikontrol.
Pendidikan tidak akan pernah menjadi alat pembebasan jika yang diajarkan hanyalah bagaimana menjadi "baik" menurut ukuran sistem. Merdeka belajar bukan soal memilih metode, tetapi soal menolak tunduk pada ketidakadilan yang disamarkan sebagai kebijakan.
Merdeka Tidak Diberi, Ia Harus Direbut
Kemerdekaan sejati tidak datang dari atas. Ia tidak lahir dari regulasi, melainkan dari kesadaran. Dan kesadaran hanya tumbuh jika kita berani bertanya, berani menggugat, berani mengatakan:
Selama anak masih dibentuk untuk bersaing, dan guru masih dilatih untuk tunduk, maka pendidikan bukanlah jalan menuju kemerdekaan, melainkan alat untuk memperpanjang penjajahan dalam bentuk baru.

