Konten dari Pengguna

Memahami Seorang Wanita, Antara Hati, Logika, dan Harapan

Ardinos Aritonang
Saya Ardinos Aritonang, saya mahasiswa di Universitas Katolik Santo Thomas
23 Desember 2025 9:14 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Memahami Seorang Wanita, Antara Hati, Logika, dan Harapan
Artikel ini mengulas anggapan perempuan sulit dipahami. Dengan melihat hati, logika, dan harapan sebagai satu kesatuan, pemahaman lahir dari empati, bukan asumsi.
Ardinos Aritonang
Tulisan dari Ardinos Aritonang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
sumber dari AI
zoom-in-whitePerbesar
sumber dari AI
Tidak sedikit hubungan baik di ruang privat maupun publik retak hanya karena satu kalimat sederhana, “Perempuan itu sulit dipahami.” Kalimat ini terdengar ringan, namun menyimpan cara pandang yang telah lama mengendap dalam budaya kita. Setiap kali terjadi perbedaan pendapat, luapan emosi, atau keputusan yang tak sejalan dengan ekspektasi, perempuan kerap ditempatkan sebagai pihak yang dianggap paling rumit, sensitif, dan tak rasional. Padahal, yang sering terjadi bukanlah kegagalan perempuan dalam menjelaskan dirinya, melainkan kegagalan kita untuk benar-benar mendengar.
Di balik ekspresi perasaan yang kerap disorot, perempuan sesungguhnya menjalani pergulatan batin yang kompleks. Ada hati yang peka, logika yang bekerja senyap, serta harapan yang dibentuk oleh pengalaman hidup dan tekanan sosial. Namun, ketiganya jarang dilihat sebagai satu kesatuan. Perasaan dipertentangkan dengan nalar, harapan disalahartikan sebagai tuntutan, dan empati dianggap kelemahan. Akibatnya, perempuan lebih sering dihakimi daripada dipahami.
Dalam keseharian, perasaan memang menjadi medium utama perempuan dalam berkomunikasi. Emosi bukan sekadar luapan sesaat, melainkan cara menyampaikan kepedulian, kekecewaan, dan kebutuhan yang sering kali tidak tertampung dalam bahasa yang kaku. Ketika seorang perempuan berbicara dengan emosi, ia tidak selalu meminta jawaban atau solusi. Ia ingin didengar. Sayangnya, dalam banyak relasi, perasaan justru dipatahkan dengan logika yang tergesa-gesa, seolah emosi adalah kesalahan yang harus segera diperbaiki.
Padahal, menyederhanakan perempuan sebagai makhluk perasaan semata adalah bentuk ketidakadilan lain. Di balik kepekaan emosional, terdapat proses berpikir yang rasional dan penuh pertimbangan. Perempuan terbiasa menimbang banyak hal sekaligus: dampak keputusan terhadap dirinya, orang lain, dan masa depan. Logika mereka kerap bekerja berdampingan dengan empati, bukan berdiri sendiri. Inilah yang sering luput disadari bahwa rasionalitas tidak selalu harus dingin untuk disebut logis.
Lebih jauh, perempuan juga hidup di bawah bayang-bayang ekspektasi sosial yang berlapis. Mereka diharapkan kuat namun tetap lembut, mandiri namun tidak melampaui batas yang ditentukan, vokal namun tidak dianggap berlebihan. Dalam ruang publik maupun domestik, standar ini terus direproduksi, sering kali tanpa disadari. Harapan yang dipikul perempuan bukan hanya milik mereka sendiri, tetapi juga titipan masyarakat yang jarang memberi ruang kompromi.
Dalam relasi personal, harapan perempuan sering kali sederhana, dihargai, didengar, dan diperlakukan setara. Namun, kesederhanaan ini kerap disalahpahami sebagai tuntutan. Ketika harapan tidak terpenuhi, perempuan dianggap terlalu banyak meminta. Padahal, yang mereka suarakan sering kali adalah kebutuhan dasar dalam hubungan manusiawi pengakuan dan pengertian.
Kesalahpahaman demi kesalahpahaman inilah yang membuat mitos “perempuan sulit dipahami” terus bertahan. Padahal, persoalannya bukan pada kompleksitas perempuan, melainkan pada keengganan untuk memahami secara utuh. Mendengar tanpa menghakimi, memahami tanpa merasa terancam, serta berdialog tanpa merasa paling benar adalah langkah-langkah kecil yang justru paling sulit dilakukan.
Memahami perempuan, pada akhirnya, bukan soal menguasai psikologi atau membaca tanda-tanda tersembunyi. Ia adalah soal kesediaan untuk melihat manusia secara lengkap dengan hati yang bisa terluka, logika yang bekerja, dan harapan yang ingin dihargai. Ketika ketiganya diberi ruang yang seimbang, relasi tidak lagi dipenuhi asumsi, melainkan pengertian.
Di situlah mungkin kita akan sampai pada kesadaran sederhana namun penting, perempuan bukan makhluk yang rumit. Mereka hanya terlalu lama diminta menyesuaikan diri, sementara upaya untuk memahami mereka kerap setengah jalan.
Penulis Adalah Mahasiswa Universitas Katolik Santo Thomas, Fakultas Ilmu Komputer.
Trending Now