Konten dari Pengguna

Lima Menit Lagi: Hubungan Biopsikologi di Balik Tidur Ulang Setelah Alarm Bunyi

Ardya Melia Syifania
Mahasiswi S1 Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
16 Oktober 2025 18:00 WIB
ยท
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Lima Menit Lagi: Hubungan Biopsikologi di Balik Tidur Ulang Setelah Alarm Bunyi
Lima menit lagi: Hubungan biopsikologi di balik tidur ulang setelah alarm bunyi. Kebiasaan tidur ulang setelah alarm berbunyi merupakan gambaran nyata dari hubungan biopsikologi. #userstory
Ardya Melia Syifania
Tulisan dari Ardya Melia Syifania tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Tidur Nyenyak. Foto: FeriDhaniHasri/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Tidur Nyenyak. Foto: FeriDhaniHasri/Shutterstock
Dalam kehidupan sehari-hari, hampir setiap orang pernah mengalami saat di mana alarm ponsel berbunyi di pagi hari, tetapi tangan secara otomatis menekan tombol "snooze" untuk menambahkan waktu tidur lima menit. Kebiasaan yang dikenal sebagai "tidur ulang" atau snoozing ini terasa seperti hadiah kecil bagi tubuh yang lelah. Namun, di balik kebiasaan sederhana ini, terdapat proses rumit yang berkaitan dengan biopsikologi, yaitu bidang ilmu yang memadukan aspek biologis dan psikologis dalam memahami perilaku manusia.
Kebiasaan tidur ulang setelah alarm berbunyi bukan hanya sekadar kemalasan, melainkan hasil interaksi antara jam biologis tubuh, reaksi otak terhadap stres, dan pola pikir yang terbentuk dari pengalaman sehari-hari. Esai ini akan mengulas fenomena tersebut dari sudut pandang biopsikologi, menjelaskan alasan di balik kecenderungan ini serta dampaknya bagi kesehatan, sehingga dapat membantu membentuk kebiasaan tidur yang lebih baik.
Ilustrasi tidur. Foto: Shutterstock
Bayangkan rutinitas pagi seorang mahasiswa atau pekerja kantoran: alarm berbunyi pukul 6 pagi, tetapi mata masih terpejam dan pikiran berkata, "Lima menit lagi." Fenomena ini umum dan dianggap sebagai hal yang wajar dalam kehidupan modern, terutama di masa sekarang saat jadwal padat dan paparan layar gawai mengganggu pola tidur. Berdasarkan survei National Sleep Foundation (2020), sekitar 57% orang dewasa kerap menggunakan fitur snooze pada alarm mereka. Di Indonesia, kebiasaan ini semakin meluas di kalangan generasi muda yang terbiasa begadang untuk belajar atau bermain media sosial, sehingga pagi hari menjadi pertarungan antara keinginan beristirahat dan kewajiban rutin.
Secara biologis, fenomena ini terjadi karena tubuh belum siap sepenuhnya untuk bangun. Selama tidur, kita melewati siklus yang terdiri dari tahap non-REM (tidur ringan dan dalam) dan REM (tidur mimpi). Ketika alarm membangunkan kita di tengah tahap non-REM yang dalam, muncul kondisi yang disebut "inersia tidur" (sleep inertia), yakni rasa bingung dan lelah sementara yang membuat kita ingin kembali tidur.
Dari sisi psikologis, snoozing memberikan kenyamanan instan, seolah menjadi pelarian dari tekanan hari baru. Inilah contoh nyata bagaimana suatu kejadian sehari-hari dapat dilihat dari sudut biopsikologi di mana faktor biologis (seperti kelelahan fisik) bersinggungan dengan faktor psikologis (seperti motivasi menghindari ketidaknyamanan).
Ilustrasi tidur Foto: Shutterstock
Dari sudut pandang biologis, kebiasaan tidur ulang dipengaruhi oleh sistem homeostatis tidur dan ritme sirkadian yang dikendalikan otak. Suprachiasmatic nucleus (SCN) pada hipotalamus berfungsi sebagai "jam biologis" utama yang mengatur siklus tidur-bangun berdasarkan cahaya dan waktu.
Ketika alarm berbunyi di luar ritme alami, misalnya saat tidur kurang dari 7-9 jam yang direkomendasikan, tubuh melepaskan adenosin, zat kimia yang menumpuk selama kita terjaga dan menimbulkan rasa kantuk. Snoozing memungkinkan adenosin tetap tinggi, sehingga kita merasa lebih lelah daripada sebelumnya.
Selain itu, hormon juga memegang peranan penting. Melatonin, hormon pengatur tidur yang dihasilkan oleh kelenjar pineal, masih tinggi di pagi hari jika tidur terganggu, sementara kortisol (hormon stres dan kewaspadaan) belum mencapai puncaknya. Snoozing yang berulang memengaruhi lonjakan kortisol sehingga menyebabkan ketidakseimbangan yang berpotensi menimbulkan pola tidur yang terputus-putus.
Mematikan alarm di pagi hari. Foto: Thinkstock
Penelitian biopsikologi oleh Roehrs dan Roth (2008) dalam jurnal Sleep Medicine Reviews menunjukkan bahwa kebiasaan snooze yang sering dapat menurunkan kualitas tidur karena tubuh terjebak dalam siklus tidur ringan yang tidak memberi pemulihan optimal. Itu sebabnya, setelah berhenti menekan snooze, seseorang justru merasa lebih mengantuk dan kurang bertenaga sepanjang hari.
Biopsikologi tidak hanya fokus pada aspek biologis, tetapi juga bagaimana otak memproses pengalaman secara psikologis. Korteks prefrontalโ€”bagian otak yang bertugas dalam pengambilan keputusan dan kontrol impulsโ€”sering kali kurang aktif saat kita baru bangun, terutama di bawah pengaruh sleep inertia.
Akibatnya, kita lebih mudah mengambil keputusan impulsif, seperti menekan tombol snooze, yang memberikan reward dopamin, neurotransmiter yang berkaitan dengan kesenangan sebagai imbalan atas penundaan bangun. Mekanisme ini mirip dengan kecanduan di mana otak mengaitkan snoozing dengan rasa aman dan nyaman, lalu kebiasaan ini terbentuk melalui penguatan positif.
Alarm bangun tidur. Foto: Thinkstock
Dari sudut pandang psikologi perilaku, kebiasaan ini diperkuat oleh conditioning klasik: alarm menjadi rangsangan yang dikaitkan dengan ketidaknyamanan, sedangkan menekan snooze adalah respons untuk menghindarinya. Teori biopsikologi, seperti model dual-process (sistem otomatis dan sistem sadar), menjelaskan bahwa di pagi hari, sistem otomatis (insting bertahan hidup untuk terus beristirahat) lebih dominan daripada sistem sadar yang menyadari bahwa tidur ulang sebenarnya merugikan.
Penelitian dari University of Colorado (2019) mengungkapkan bahwa orang yang sering menekan snooze menunjukkan tingkat stres lebih tinggi dan performa kognitif lebih rendah akibat fragmentasi tidur yang mengganggu proses konsolidasi memori di hipokampus.
Integrasi biopsikologi dalam fenomena snoozing terlihat jelas ketika kita menyadari bahwa kebiasaan ini bukan sekadar pilihan sadar, melainkan hasil interaksi antara faktor genetik, lingkungan, dan pengalaman. Contohnya, perbedaan genetik pada reseptor adenosin dapat membuat seseorang lebih mudah merasa mengantuk di pagi hari, sementara faktor psikososial seperti stres kerja bisa memperburuk kebiasaan ini.
Ilustrasi perempuan stres di tempat kerja. Foto: Shutterstock
Pendekatan biopsikologi menekankan pentingnya tindakan yang menyeluruh, yaitu secara biologis menjaga ritme sirkadian lewat paparan cahaya alami dan secara psikologis membangun rutinitas seperti meditasi pagi untuk mengaktifkan korteks prefrontal. Dengan demikian, analisis ini menunjukkan bagaimana peristiwa sehari-hari seperti snoozing mencerminkan hubungan erat antara pikiran dan tubuh.
Kebiasaan tidur ulang setelah alarm berbunyi merupakan gambaran nyata dari hubungan biopsikologi di mana dorongan biologis untuk beristirahat bertemu dengan tuntutan psikologis untuk disiplin. Meskipun menggoda, snoozing dapat mengganggu kualitas tidur dan produktivitas, seperti yang dibuktikan oleh berbagai penelitian.
Untuk mengatasi hal ini, penting memahami faktor-faktor biologis seperti hormon dan siklus tidur sekaligus membangun kebiasaan psikologis yang positif, misalnya mengatur alarm sesuai ritme alami tubuh atau menerapkan teknik relaksasi. Kesadaran akan aspek biopsikologi ini tidak hanya mempermudah pengelolaan aktivitas sehari-hari, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan jangka panjang. Dengan mengaplikasikan pemahaman ini, kita dapat menggantikan "lima menit lagi" dengan pagi yang lebih segar dan bermakna.
Trending Now