Konten dari Pengguna

Hanandjoeddin: Persepsi dan Kesaksian Tokoh-tokoh Masyarakat di Pulau Belitung

Ares Faujian
Guru Inovatif Nasional 2020 (KEMDIKBUD) & 2023 (Penerbit Erlangga) - Agen Pusat Penguatan Karakter (PUSPEKA) KEMDIKBUDRISTEK - Fasilitator Literasi Regional Sumatra BADAN BAHASA - Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran Sosiologi Kab. Belitung Timur
13 Juli 2025 15:18 WIB
·
waktu baca 7 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Hanandjoeddin: Persepsi dan Kesaksian Tokoh-tokoh Masyarakat di Pulau Belitung
Sosok H.AS. Hananjoeddin: Persepsi dan kesaksian tokoh-tokoh masyarakat di Pulau Belitung. Figur pahlawan, pelopor penerbangan, dan pemimpin rendah hati yang menyemai semangat kemerdekaan yang abadi!
Ares Faujian
Tulisan dari Ares Faujian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Sosok H.AS. Hanandjoeddin Versi Karikatur (Sumber: Ilustrasi ChatGPT)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Sosok H.AS. Hanandjoeddin Versi Karikatur (Sumber: Ilustrasi ChatGPT)
Pulau Belitung (Belitong), selain dikenal lewat keindahan pantainya, menyimpan kisah nyata tentang sosok yang berjasa dalam membangun semangat kebangsaan dan persatuan. Dia adalah Letkol (Purn) H.AS. Hananjoeddin. Berbagai tokoh masyarakat dari beragam latar, yaitu ulama, pegiat sejarah, tokoh adat, hingga sesepuh perantau, menyampaikan pandangan serupa tentang keistimewaan beliau.
Persepsi-persepsi ini merupakan kumpulan pendapat tertulis dari beberapa tokoh masyarakat di Pulau Belitung, yang dikumpulkan oleh Tim Pengkaji dan Peneliti Gelar Daerah (TP2GD) Kab. Belitung Timur tahun 2017-2018. Tokoh-tokoh masyarakat dari berbagai latar belakang ini sepakat menyanjung dan mendukung sosok H.AS. Hananjoeddin sebagai tokoh yang pantas diangkat menjadi Pahlawan Nasional. Tak hanya karena kiprahnya dalam perjuangan fisik melawan penjajah, melainkan juga sikapnya yang rendah hati, taat beragama, serta dekat dengan rakyat kecil. Semua aspek ini tercermin dalam pendapat dan kesaksian mereka.
Tokoh-tokoh masyarakat di Pulau Belitung ini antara lain:
Sebagian besar tokoh masyarakat di Pulau Belitung menyoroti konsistensi Hananjoeddin sejak muda hingga akhir hayat. Sosok Hananjoeddin disebut selalu taat menjalankan ibadah, bahkan ketika kondisi sakit sekalipun (Anwar D.M., 2017). Keseriusan beliau dalam mendalami ajaran agama ini juga tercermin sejak pendidikan dasar hingga di Ambacht School Manggar, meski pada masa itu akses pendidikan tinggi sangat terbatas (Sadi Suharto, 2017). Beliau sosok taat beribadah dan dicintai oleh masyarakat Belitung (Retno Supriyanti, 2017). Ihwal ini menegaskan bahwa sikap disiplin beragama dan pendidikan adalah fondasi kuat kepemimpinan beliau.
Hanandjoeddin tidak membeda-bedakan suku atau agama dalam interaksi sosialnya (Anwar D.M., 2017; Ayie Gardiansyah, 2017). Esensi pendapat ini merupakan kesamaan yang selalu diulang oleh semua tokoh masyarakat mengenai figur Hanandjoeddin. Beliau adalah putra Belitung yang tak asing bagi warga perantau, selalu ramah kepada siapa saja (Nazmawati, 2017). Tokoh Hananjoeddin ini dapat bergaul dengan siapa saja, mulai dari remaja sampai ke orang tua (Salim YAH., 2017). Sosok ini memandang sesama (semua orang) tanpa membedakan suku, agama, atau ras dan patut dijadikan wajah persatuan dari berbagai kalangan masyarakat di Pulau Belitung. Sikap inklusif ini mencerminkan persatuan nasional yang sangat dibutuhkan dalam masa transisi kemerdekaan. Termasuk juga sikap dan karakter yang dijadikan pedoman generasi muda. Generasi muda Pulau Belitung perlu tokoh panutan untuk dijadikan inspirasi keteladanan, seperti provinsi-provinsi lainnya di Indonesia yang sudah memiliki pahlawan nasional (Thalma Butar-Butar, 2017).
Salim YAH. (2017) dan Destika Efenly (2017) mendeskripsikan bahwa sebagai perintis BKR Divisi VIII Jawa Timur dan Komandan BKR Udara Malang, Hananjoeddin memainkan peran penting dalam operasi udara melawan agresi militer Belanda. Mereka menyebutkan bahwa kemampuan teknisnya dalam merawat dan menerbangkan pesawat peninggalan Jepang membantu misi diplomasi dan militer Republik pada masa sulit. Dalam hal ini, pengakuan negara pun diberikan berupa Bintang Gerilya, Bintang Garuda, dan Bintang Jasa Suprabhujana yang menandai jasa besar beliau dalam mempertahankan kemerdekaan. Beliau mempunyai jiwa heroik, pemberani dan nasionalisme yang sangat tinggi, untuk berjuang demi kemerdekaan Republik Indonesia (Sarjano, 2017).
Sebagai Bupati Belitung (1967–1972), Hananjoeddin digambarkan menggenjot pembangunan infrastruktur, seperti pendirian dermaga nelayan di Tanjungpandan, peningkatan produksi perikanan, hingga perbaikan fasilitas pendidikan yang kini menjadi warisan berharga (Yulius Belung, 2017; Talafuddin Marjai, 2018). Rumah Dinas Bupati, gedung sekolah dan asrama pelajar di Bandung dan Yogyakarta sebagai bukti nyata komitmen beliau memajukan SDM (Lalu Hairun, 2017). Tidak hanya berjuang demi kemerdekaan di Malang dan Yogyakarta, putra asli Belitung ini juga mampu berkontribusi postif dan merintis berbagai pembangunan di tanah kelahirannya. Beliau juga berupaya membuka akses kemajuan ekonomi Belitung, termasuklah aspek pariwisata di dalamnya (Ayie Gardiansyah, 2017).
Dari seluruh kesaksian dari berbagai tokoh masyarakat di Pulau Belitung, dapat ditarik beberapa kesamaan mengenai sosok H.AS. Hanandjoeddin. Beliau memiliki jiwa kepahlawanan dan pengorbanan, yaitu berani mempertaruhkan jiwa dan raga untuk kemerdekaan. Beliau mengajarkan untuk selalu bersikap ikhlas dan tidak menyombongkan diri atas apa yang telah dikerjakan (M. Umar Hasan, 2017). Beliau memiliki sikap disiplin dan baik dalam keimanan. Konsisten dalam ibadah dan pendidikan, menjadikan agama sebagai pijakan moral. Hal ini juga ditunjukkan melalui hibah tanah almarhum ayahnya di Badau untuk membangun masjid di sana (Ilyas Makruf, 2017).
Selain itu, sosok Hanandjoeddin memiliki kepemimpinan yang inklusif, yaitu mengedepankan persatuan tanpa diskriminasi suku, agama hingga ras. Beliau juga memiliki inovasi teknis penerbangan dan berani dalam pembangunan. Beliau merupakan pelopor penerbangan militer serta pemacu kemajuan infrastruktur dan SDM, baik sebagai AURI maupun Bupati Belitung. Sosok yang dekat dan rendah hati ini mudah memahami kebutuhan masyarakat, termasuk kelas paling bawah.
Persepsi dan kesaksian tokoh-tokoh masyarakat di Pulau Belitung menunjukkan bahwa sosok H.A.S. Hananjoeddin adalah figur teladan bagi masyarakat. Beliau merupakan sosok nasionalis sejati, pelopor kemajuan teknis, sekaligus seorang agamis pekerja sosial yang merakyat. Oleh karena itu, seruan untuk menetapkan beliau sebagai "Pahlawan Nasional" bukan sekadar bentuk penghargaan historis, melainkan juga kebutuhan untuk mengabadikan nilai-nilai perjuangan, persatuan, dan dedikasi yang beliau wariskan. Bak sungai yang tak pernah kering membasahi hamparan tanah air, warisan nilai dan keteguhan hatinya akan terus mengalir dalam nadi perjuangan generasi penerus. Amin.
Oleh: Ares Faujian
Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah Kab. Belitung Timur (TP2GD Beltim) Pengusulan H.AS. Hanandjoeddin sebagai Pahlawan Nasional
Referensi
Trending Now