Konten dari Pengguna

Tsuda Umeko: Sosok Kartini Jepang

Areta Novia Diwati
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Jepang Universitas Airlangga
6 Oktober 2025 15:00 WIB
Β·
waktu baca 8 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Tsuda Umeko: Sosok Kartini Jepang
Dua tokoh perempuan yang menjadi simbol awal perjuangan gender di negara masing-masing adalah Umeko Tsuda di Jepang dan Raden Ajeng Kartini di Indonesia.
Areta Novia Diwati
Tulisan dari Areta Novia Diwati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Umeko Tsuda 5000 Yen. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Umeko Tsuda 5000 Yen. Foto: Shutterstock
Dua tokoh perempuan yang menjadi simbol awal perjuangan gender di negara masing-masing adalah Umeko Tsuda di Jepang dan Raden Ajeng Kartini di Indonesia. Melalui pendidikan dan pemikiran kritis Umeko Tsuda dan Raden Ajeng Kartini membantu wanita untuk mendapatkan pendidikannya dan memperjuangkan hak wanita dari ketidakadilan.
Tsuda Umeko atau yang biasa dikenal dengan Umeko Tsuda merupakan pelopor dalam bidang pendidikan wanita pada era Meiji (1868–1912). Alasan dikatakan pendidikan wanita adalah karena pada saat itu masyarakat Jepang masih sangat mendiskriminasi wanita, terutama dalam akses dunia pendidikan.
Karena kurangnya akses dalam dunia pendidikan, sulit bagi sebagian besar wanita untuk bisa terjun dalam dunia karier bahkan meskipun bisa mendapatkan pendidikan yang baik, dalam pekerjaannya wanita juga dipersulit untuk mencapai karier yang lebih tinggi. Sementara itu di Indonesia saat itu masih berada di bawah penjajahan Belanda, Raden Ajeng Kartini juga menghadapi situasi serupa. Wanita pribumi sangat dibatasi oleh adat dan sistem kolonial. Kartini lahir dari keluarga bangsawan Jawa, yang memungkinkannya mendapatkan pendidikan dasar, namun ia tetap dibatasi ruang geraknya oleh adat dan norma sosial saat itu.

Bentuk Diskriminasi di Jepang dan Indonesia

Salah satu bentuk diskriminasi yang dialami wanita adalah di dunia kerja, pekerjaan wanita dikategorikan menjadi dua yaitu ippanshoku (pekerja pendukung) dan sougoushoku (pekerja profesional). Meskipun Jepang saat itu sedang mengalami resesi ekonomi selama sepuluh tahun yang membuat Jepang memerlukan banyak pekerja. kebanyakan wanita masih tidak diberikan kesempatan untuk berkontribusi dalam peran sougoushoku dan hanya diberikan pekerjaan ippanshoku.
Salah satu bentuk pekerjaan ippanshoku Mereka biasanya mengenakan pakaian formal, dan tugas mereka mencakup kegiatan seperti menyambut tamu, mengarahkan mereka ke tempat tujuan, dan menyajikan teh. Karena peran gender tradisional yang mengharuskan perempuan menikah di usia muda dan akhirnya harus mengurus rumah tangga, banyak perusahaan menjadikan perempuan sebagai pekerja sementara, dengan anggapan bahwa mereka akan keluar setelah menikah.
Di Indonesia sendiri banyak pekerjaan yang masih dipisahkan secara tidak resmi menurut gender. Misalnya pekerjaan di bidang keperawatan, administrasi, asisten rumah tangga, dan penjahit lebih dianggap cocok untuk perempuan.

Stigma Wanita di Jepang dan Indonesia

Di Jepang terdapat stigma dan pandangan terhadap wanita yaitu seorang wanita harus menikah sebelum usia 25 tahun, jika tidak dia akan dianggap seperti γ‚―γƒͺγ‚Ήγƒžγ‚Ήγ‚±γƒΌγ‚­ (kurisumasu keeki) (christmas cake). Mereka memberikan perumpamaan tersebut karena seperti christmas cake yang sudah kedaluwarsa atau tidak menarik setelah tanggal 25 desember, wanita yang belum menikah setelah usia 25 tahun juga dianggap tidak menarik lagi. Karena itu pula wanita karir yang usianya sudah mendekati 25 didorong oleh stigma sosial ini untuk menikah. Tapi setelah menikah dan punya anak mereka harus memilih antara karir dan keluarganya.
Di Indonesia juga Raden Ajeng Kartini menikah saat usianya 24 tahun dimana pada usia itu dianggap terlambat oleh masyarakat. Wanita yang belum menikah di usia 20-an maka akan dianggap perawan tua, hal ini sama seperti istilah christmas cake di Jepang.
Salah satu bentuk stigma lain adalah masyarakat Jepang menganggap wanita yang menjadi ibu rumah tangga lebih terhormat dibandingkan menjadi wanita karir. Banyak ibu rumah tangga di jepang, pencapaian pribadi mereka seringkali diukur melalui keberhasilan pendidikan anak-anak mereka.
Ada istilah yang disebut Ryousai Kenbo dan Kyouiku Mama. Ryousai Kenbo berarti istri yang baik dan ibu yang bijaksna. Kyouiku Mama berarti ibu pendidik. Istilah ini di Indonesia sering disalah pahami sebagai hal yang positif padahal istilah itu lebih mengarah kepada sindiran atau back handed compliment jika diucapkan langsung untuk ibu rumah tangga di Jepang.
Asal mula istilah Rsyousai Kenbo muncul saat Jepang memasuki masa Industri. Saat itu muncul kurikulum Ryousai Kenbo yang digunakan di sekolah elit khusus wanita bernama Ochanomizu University. Kurikulum itu dibentuk karena orang Jepang meyakini bahwa agar terbentuk negara yang tertata dan modern maka harus dimulai dari sosok ibu dalam keluarga.
Salah satu sosok ibu yang paling berpengaruh di Jepang adalah Hatoyama Haruko, yang merupakan ibu dari perdana menteri Hatoyama Ichiro. Dengan kata lain, di Jepang memenuhi peran ibu rumah tangga sangat dihargai dan dianggap penting dalam kesuksesan keluarga dan masyarakat Jepang.
Di Indonesia, meskipun tidak ada istilah khusus yang persis sama, terdapat nilai-nilai tradisional yang serupa, terutama dalam budaya Jawa dan berbagai suku lainnya. Perempuan ideal digambarkan ibu yang sabar, serta pengelola rumah tangga yang cekatan. Pendidikan perempuan pada masa lalu pun banyak diarahkan untuk mempersiapkan mereka menjalankan peran tersebut.

Peran Umeko Tsuda

Tsuda Umeko lahir di Edo (sekarang Tokyo) pada tahun 1864, putri dari petani Tsuda Sen dan istrinya Hatsuko. Pada tahun 1871, ia pergi ke Amerika Serikat dan menjadi salah satu pelajar perempuan Jepang pertama yang belajar di luar negeri. Karena usianya baru enam tahun, ayahnya tidak diragukan lagi memainkan peran utama dalam keputusan tersebut.
Sen adalah kenalan lama Kuroda Kiyotaka, direktur Kantor Kolonisasi Hokkaidou, yang percaya pada pentingnya pendidikan perempuan, dan yang mengajukan petisi kepada pemerintah untuk mengizinkan perempuan belajar di luar negeri. Kuroda-lah yang merekomendasikan putri Sen dan Hatsuko sebagai calon mahasiswa. Sen sendiri pernah belajar di Amerika Serikat pada akhir periode Edo (1603–1868), dan percaya bahwa Jepang harus mencontoh Amerika untuk mengejar ketertinggalan dari Barat. Tampaknya ia menanamkan pandangan ini kepada putrinya.
Tsuda menetap di Washington, D.C. bersama sekretaris kedutaan Jepang, Charles Lanman, dan istrinya Adeline, tempat ia bersekolah. Berkat usahanya, ia menguasai bahasa Inggris dan mata pelajaran dasar lainnya. Selama berada di Amerika Serikat, Tsuda memeluk agama Kristen dan dibaptis. Meskipun ia berharap dapat masuk universitas, setelah 10 tahun di luar negeri dan menghadapi tekanan keuangan, ia memilih untuk kembali ke Jepang dan mencoba membagikan sebagian ilmunya di sana.
Kedua sahabat Ume menikah segera setelah kembali ke Jepang, karena alasan keuangan dan sosial yang rumit dan hampir tak terelakkan. Namun, Ume tidak pernah ingin menikah. Ia pikir hal itu akan mengganggu mimpinya untuk berkontribusi pada pendidikan dan budaya Jepang dengan mendirikan sekolah. Ia benar. Namun, tetap melajang di Jepang pada akhir abad ke-19 jauh lebih sulit daripada yang ia kira. Bahkan rekan-rekan Ume yang pindah ke Amerika, Sutematsu Yamakawa dan Shige Nagai, mencoba meyakinkannya untuk menikah, seperti yang telah mereka lakukan. Namun, Ume melihat hidup mereka diliputi oleh kewajiban kepada suami dan lingkungan sosial suami mereka, serta kepada anak-anak dan anak tirinya. Ia lebih memilih untuk fokus mendirikan sekolahnya.
Ume sangat ingin mendirikan universitas karena saat itu, satu-satunya lembaga pendidikan tinggi untuk wanita di Jepang adalah Sekolah Normal Wanita Tokyo (sekarang Universitas Ochanomizu), sebuah universitas nasional. Tsuda berharap untuk mendirikan universitas swasta khusus wanita, tetapi menghadapi banyak rintangan untuk mencapainya.
Kendala terbesarnya adalah mendapatkan dana, karena ia terhambat oleh rendahnya kemampuan menghasilkan uang sebagai seorang wanita. Namun, tidak mudah bagi Tsuda untuk menarik dukungan finansial. Hal terbaik yang dapat ia lakukan adalah mengumpulkan sumbangan dari Amerika Serikat melalui koneksi gerejanya. Akhirnya dia berhasil mendirikan sekolah yang sukses bernama joshi eigaku juku dan beberapa kali bertemu dengan permaisuri. Namun dia tidak bisa menghilangkan stigma status lajangnya, terutama jika dikombinasikan dengan fakta bahwa dia adalah wanita.
Pada usia 53 tahun, Tsuda jatuh sakit, yang memaksanya pensiun dari jabatannya sebagai kepala sekolah selama 20 tahun dua tahun kemudian. Setelah pensiun, ia terus berjuang melawan penyakit selama bertahun-tahun. Setelah ia meninggal pada tahun 1929, pada usia 64 tahun, sekolah tersebut berganti nama menjadi Tsuda Eigaku Juku untuk menghormatinya. Kemudian menjadi Tsuda Juku Senmon Gakko, lalu menjadi Tsuda Juku Daigaku (Tsuda College) pada tahun 1948, serta mulai April 2017 Tsuda diubah namanya, dalam bahasa Inggris, menjadi Universitas Tsuda
Universitas Tsuda, seperti yang dikenal sekarang, tetap menjadi kekuatan terkemuka dalam pendidikan wanita di Jepang. Meskipun universitas tersebut sebelumnya mengajarkan ekonomi rumah tangga, seperti yang umum di sekolah-sekolah wanita, namun sejak saat itu hal tersebut tidak lagi diajarkan. Sekarang, universitas tersebut menjadi institusi unik yang mengkhususkan diri dalam pengajaran dan penelitian dalam studi pendidikan, khususnya bahasa Inggris.
Kerja keras Umeko Tsuda membawa pengaruh kemajuan terhadap pandangan masyarakat Jepang terhadap wanita, serta banyak membantu wanita Jepang untuk mendapatkan pendidikan yang layak untuk mendapatkan ilmu dan karir yang layak pula. Pada tanggal 3 Juli tahun 2024 gambar Umeko Tsuda juga terdapat di uang 5000 yen untuk mengenang jasa pahlawan emansipasi wanita Jepang ini.

Peran Raden Ajeng Kartini

Ilustrasi RA Kartini. Foto: Shutterstock
Raden Ajeng Kartini lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah, dalam keluarga bangsawan priyayi. Karena lahir di keluarga bangsawan maka pendidikan kartini juga lebih baik dibanding kebanyakan wanita lain saat itu. Ayahnya juga walaupun menjodohkannya Kartini sejak kecil namun tetap mendukung pendidikan Kartini. Sehingga walaupun Kartini terikat peraturan pinggitan namun Kartini masih bisa memanfaatkan waktu pingitan untuk belajar secara mandiri dan berkorespondensi dengan teman-temannya di Belanda. Dari surat-surat itulah muncul pemikirannya tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan dan kritiknya terhadap tradisi yang membatasi hak-hak perempuan. Pada usia 24 tahun, Kartini menikah dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat. Tidak seperti Umeko Tsuda yang wafat setelah melihat hasil kerja kerasnya, sayangnya Kartini tidak dapat melihat hasil dari usahanya. Kartini hanya hidup sekitar setahun setelah menikah karena meninggal dunia setelah melahirkan anak pertamanya pada tahun 1904. Meskipun hidupnya singkat, perjuangan dan pemikiran Kartini tetap menjadi inspirasi bagi gerakan emansipasi perempuan di Indonesia hingga kini.
Trending Now