Konten dari Pengguna

Aku, Nasi Goreng di Maxwell dan Mimpi Berkelana

Argya D Maheswara
Jurnalis di kumparan, tinggal di sudut timur Jakarta Raya.
5 Januari 2026 13:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Aku, Nasi Goreng di Maxwell dan Mimpi Berkelana
Sepiring nasi goreng di Maxwell dan pesan 'Selagi muda, pergilah kemanapun kau mau'.
Argya D Maheswara
Tulisan dari Argya D Maheswara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Nasi goreng ikan asin Somerset Delicacies. (Dok. Argya Maheswara)
zoom-in-whitePerbesar
Nasi goreng ikan asin Somerset Delicacies. (Dok. Argya Maheswara)
Ada salah satu menu makanan yang sebenarnya bukan makanan favorit saya namun saya merasa nyaman untuk terus memilih menu itu. Menu itu adalah nasi goreng yang akhirnya juga membangkitkan saya untuk terus semangat berkelana.
Baiklah, cerita ini saya tarik ke persinggahan saya ke ‘Temasik’ alias Singapura pada beberapa waktu lalu. Karena Singapura hanya menjadi tempat transit saya untuk melanjutkan penerbangan selanjutnya, saya memutuskan untuk mengeksplor ‘kecil-kecilan’ area Chinatown.
Secara tak sengaja, karena perut saya lumayan lapar jelang malam tiba, saya melipir untuk cari makan di salah satu Hawker yang banyak diperbincangkan di kalangan pelancong atau Singaporean itu sendiri, yap Maxwell tempatnya. Memang, Hawker satu ini lokasinya masih ada dekat area Chinatown.
Di sana, sebenarnya stall makanan yang paling diincar pelancong adalah Ah-Tai Hainanese Chicken Rice, tapi apa boleh buat, antriannya sepanjang kemacetan Sudirman-Thamrin. Alhasil saya malas dan mencari alternatif, tak lain tak bukan, nasi goreng.
Lapar perut dan mata yang tak terbendung akhirnya tertuju pada Somerset Delicacies, sebenarnya karena aroma minyak wijen yang digoreng bercampur dengan berbagai bahan lainnya itu saya tergoda. Alhasil, saya memesan menu yang cukup sederhana, nasi goreng ikan asin.
Stall Somerset Delicacies di Maxwell Food Centre, Singapura. Dok. Argya Maheswara
Hanya menunggu sekitar 10 menit, akhirnya pesanan saya jadi dan saya ambil, setelah itu saya duduk di suatu meja dengan 5 kursi yang kosong. Ah sialan, rasanya enak sekali apalagi saya lapar usai keliling Chinatown sendirian.
Tiba-tiba, seorang wanita paruhbaya menghampiri saya dan meminta izin untuk duduk. Dengan aksen Singlishnya saya tau bahwa ia Singaporean asli, bukan kw-kw. Akhirnya ia duduk dan membuka obrolan.
Oiya, Lina namanya, aku yang sok akrab langsung panggil ia ‘Aunty Lina’, awalnya obrolan kami hanya sekadar soal asal saya dari mana, mengapa saya makan di situ, saya sudah kemana saja di Chinatown dan hal-hal ringan yang nampak seperti basa-basi pada umumnya.
Namun ketika ia bertanya soal berapa usiaku dan aku menjawab dengan nada lantang ‘22!’, ia kaget dan menilai saya cukup berani untuk melakukan perjalanan sendirian. Ya, sebenarnya tujuan utama perjalanan ini adalah menghampiri kekasih di Puchong, Malaysia. Hal itu juga aku ceritakan kepada Aunty Lina.
Dari situ, ada satu kata yang masih terngiang dalam benak saya dan membuat saya punya semangat untuk terus berkelana.
‘You’re so young la, just go, go, go around the world! Just go anywhere you want, la,” ucap Aunty Lina dengan akses Singlishnya itu.
Di situ ia bercerita bahwa berkelana, mengunjungi tempat baru adalah anugerah yang menurutnya dimiliki anak muda. Karena usianya tak lagi muda, Aunty Lina mengaku iri denganku.
Ia mengenang masa mudanya dulu tak diwarnai dengan berkelana, untuk itu ia sedikit menyesal. Namun, hal itu menurutnya terbayar karena ia berhasil mendapat ‘menantu’ asal Indonesia, ya negara yang sama dengan tempat saya berasal.
Obrolan tak sepenuhnya tentang cerita perkenalanku dan pengalamannya, Aunty Lina juga memberi aku beberapa rekomendasi makanan enak yang ada di sekitar Chinatown khususnya stall-stall yang ada di Maxwell.
Oiya, di sana Aunty Lina juga sempat memfotokan aku bersama nasi goreng yang kupesan. Uniknya, ini bukan aku yang minta. Menurut Aunty Lina, momen aku mencoba makanan baru harus diabadikan, lucu sekali rasanya.
Aku difoto oleh Aunty Lina usai menghabiskan sepiring nasi goreng ikan asinku di Maxwell. Dok. Argya Maheswara
Sederhana rasanya, bukan cerita yang hebat namun dari satu pesan untuk terus berkelana, saya punya bara yang menyala.
Baiklah, saya akhiri ceritanya. Oh iya, di akhir perbincangan, ternyata Aunty Lina tidak sendiri, ia datang ke Maxwell bersama suami, anak, menantu dan cucunya. Senang sekali melihat momen itu, aku dikenalkan ke suami, anak, dan menantunya, merekapun berpesan sama, kurang lebih menyarankan untuk mengeksplorasi lebih banyak tempat di Singapura, Indonesia bahkan dunia.
Karena menantunya orang Indonesia, saya juga sempat berbincang kecil. Nyatanya, menantu Aunty Lina berasal dari Kalimantan Selatan, ia belum pernah ke Jakarta dan saya menceritakan bagaimana Jakarta berdasarkan pengalaman saya kepadanya.
Alhasil, malam itu saya menyelesaikan sepiring nasi goreng ikan asin, ditemani obrolan singkat dengan orang-orang asing yang terasa akrab. Dari Maxwell, saya pulang bukan hanya dengan perut kenyang tapi juga mimpi berkelana yang semakin kuat.
Trending Now