Konten dari Pengguna
Alhamdulillah Ada Cak Nun, Kalau Tidak Saya Sudah Atheis
4 Juni 2025 10:19 WIB
·
waktu baca 6 menit
Kiriman Pengguna
Alhamdulillah Ada Cak Nun, Kalau Tidak Saya Sudah Atheis
Perjalanan spiritual dengan berguru pada Cak Nun lewat jalan Maiyah utamanya di forum Kenduri Cinta.Argya D Maheswara
Tulisan dari Argya D Maheswara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika saya berbicara apa agama saya saat ini tentu hal tersebut tak lepas dari perkenalan saya dengan Maiyah, Emha Ainun Nadjib secara imajiner dan tentu Kenduri Cinta di Jakarta. Panjang sekali jalan yang saya tempuh dengan bekal ‘sinau bareng’ di sana sampai saat ini. Bahkan saya menganggap Cak Nun, CN, Emha Ainun Nadjib dan Mbah Nun adalah kado besar dalam hidup saya.
Perkenalannya dimulai di masa akhir saya duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah, saat itu saya memiliki gejolak hati dan berbagai pertanyaan soal manusia, agama, Tuhan dan banyak variabel turunan lainnya.
Selama duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah, saya mengenal Islam dengan model padatan-padatan dan baku. Sederhananya, saya mengenal Islam bukan dalam bentuk yang cair dan bisa masuk ke segala lini kehidupan. Beberapa hal di bangku madrasah justru membawa saya kepada pemahaman Islam yang kaku kepada sesuatu di luarnya.
Islam yang saya kenal saat itu juga lebih berbentuk hukum-hukum karena banyak orang memperkenalkan Islam terhadap saya justru dengan lebih menonjolkan aspek fikih sebagai sesuatu yang berada di muka. Hal tersebut membuat saya bertanya-tanya.
Pertanyaan tersebut justru membuat saya skeptis terhadap langkah Tuhan ketika menciptakan Islam. Parahnya, saya juga hampir 'membenci' Islam, dalam artian Islam yang saat itu hampir saya benci adalah model Islam yang ada di kepala saya.
Namun, saya masih teringat bahwa saat itu saya sedang gemar-gemarnya mengakses YouTube untuk mencari berbagai pemikiran baru. Muncullah Cak Nun, CN, Emha Ainun Nadjib dan Mbah Nun saat itu. Tanpa disadari saya akhirnya mendalami beberapa hal dalam banyak videonya yang tersebar di YouTube.
Saat itu, saya diperkenalkan dengan model Islam yang sama sekali baru bagi saya. Islam yang lebih cair, bisa masuk ke segala hal dan tentu seperti orang Jawa bilang yaitu Islam yang jangkep. Dalam waktu cepat, saya mengenal Cak Nun, CN, Emha Ainun Nadjib atau Mbah Nun sebagai orang yang bisa menjadi titik temu antara kebudayaan, manusia, keindahan dan Tuhan. Dari banyak video yang entah sumbernya sudah bercampur aduk termasuk dari kanal Caknun.com sendiri, saya bisa langsung menyimpulkan,
“Ini baru Islam, ini yang seharusnya saya temukan sejak dulu, sejak lahir kalau bisa,” ungkap saya.
Sebelumnya, saya juga berasal dari keluarga Jawa. Di rumah, saya tinggal bersama Mbah yang merupakan nenek dari Ibu saya. Sehari-harinya saya memang sudah akrab dengan bahasa Jawa walau saya tinggal di Jakarta. Toh, Mbah saya ini setiap hari bicara sama saya dengan bahasa Jawa. Saya juga merupakan buyut terdekat dengannya, beliau yang mengasuh saya sejak baru lahir.
Sekian waktu mengarungi video-video Cak Nun, CN, Emha Ainun Nadjib atau Mbah Nun di YouTube dan beberapa media sosial lain, saya merasa bahwa saya butuh ‘asupan lebih’. Saya rasa saya harus datang ke forum Maiyah. Dalam pengetahuan awam, saya pikir forum Maiyah hanya berlangsung di beberapa tempat di Jawa Tengah dan Jawa Timur, hal ini karena video ‘Maiyahan’ yang saya tonton selama ini berlangsung di daerah tersebut.
Namun, ketika saya membuka informasi mengenai simpul-simpul Maiyah di laman Caknun,com, saya menemukan nama Kenduri Cinta sebagai berlangsung di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat setiap Jumat malam di pekan kedua setiap bulannya. Dalam ingatan saya, saya membuka informasi tersebut dalam suatu hari di pekan kedua. Alhasil, saya langsung berangkat ke Cikini di hari Jumat-nya.
Saya masih ingat dengan jelas bahwa keberangkatan saya ke Kenduri Cinta saat itu bertepatan dengan tema ‘Serigala Berhati Domba’. Saya berangkat dari kediaman saya di bilangan Jakarta Timur dengan memesan ojek online, saat itu hujan deras namun semangat saya tidak patah untuk datang pertama kali ke Kenduri Cinta. Harapan saya saat itu adalah satu, melihat Cak Nun, CN, Emha Ainun Nadjib atau Mbah Nun.
Kesempatan pertama saya di Kenduri Cinta tersebut saya rasakan dengan syahdu, penuh cinta dan tentu romantis. Forum dibuka oleh Mas Sabrang, penampilan oleh Mas Varid (Anak dari Almarhum Mbah Surip) dan tentu diwarnai dengan kedatangan Cak Nun, CN, Emha Ainun Nadjib atau Mbah Nun yang sangat romantis. Sesuai yang saya pelajari dalam video-video ‘Maiyahan’ sebelumnya, saya merasakan bahwa hujan bukanlah halangan untuk menjalani apa pun. Hal ini membuat hujan yang turun selama Kenduri Cinta berlangsung saya rasakan dengan sangat-sangat romantis.
Setelah itu saya rutin mengikuti Kenduri Cinta sebagai jamaah, apalagi semasa saya duduk di bangku SMA. Saat itu, Kenduri Cinta menjadi suatu ‘Oase’ dalam setiap bulannya seperti yang pernah saya tulis dalam edisi Wisdom of Maiyah di Caknun.com pada 2021. Apalagi saat itu saya masih diwarnai kegelisahan soal banyak hal, tentu saya menunggu Kenduri Cinta setiap bulannya.
Terus terang, Kenduri Cinta merupakan satu tempat di mana tempat tersebut merupakan Babul Ilmi bagi diri saya. Sampai saat ini saya tidak pernah atau sangat sulit mendapat apa yang saya dapatkan di Kenduri Cinta di lingkungan lain. Salah satu pesan Cak Nun, CN, Emha Ainun Nadjib atau Mbah Nun yang saya sangat dalami hingga sekarang adalah tentang menjadi Man of The All Seasons. Ya, menjadi manusia yang sangat adaptif terhadap segala situasi, rendah maupun tinggi, ditarik ke kanan, kiri, depan maupun belakang.
Kembali ke awal, sampai saat ini saya selalu merasa dan mengucap
Saya rasa Maiyah dan Kenduri Cinta merupakan cara Allah memperkenalkan saya kepada Islam dengan jalan yang luas, cair dan tentu sangat masuk akal bagi saya.
Bagaimana tidak, saya baru mendapat penjelasan sejelas-jelasnya, sedetail-detailnya soal Islam mulai urusan sirah, fikih, tasawuf atau semua aspek di sini. Bukan dari satu pintu, melainkan puluhan bahkan ratusan pintu karena siapa pun dapat menyampaikan sesuatu di Kenduri Cinta. Mungkin setelah itu saya juga memiliki beberapa referensi, kalau soal Sirah Nabawiyah dan kisah Kanjeng Nabi misalnya, saya sangat cocok dengan Syekh Nursamad Kamba (Allahuyarham), kalau mengkaji Al-Quran misal, saya juga cocok dengan Ustaz Muzammil (Allahuyarham). Semua membuat mata saya terbuka dan pikiran saya lebih luas dalam memaknai Islam sebagai jalan, jalan kesempurnaan yang ditawarkan Tuhan.
Saya mensyukuri kehadiran Cak Nun dalam alam bawah sadar saya, bukan bermaksud mengkultuskan namun Ialah cinta yang menurut saya Tuhan utus kepada ‘gento-gento’ setelah Muhammad wafat.

