Konten dari Pengguna

Perdana Solo Traveling Asia Tenggara yang Berkesan

Muhammad Arif Setyono
A nature and culture enjoyer
20 November 2025 6:00 WIB
·
waktu baca 7 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Perdana Solo Traveling Asia Tenggara yang Berkesan
Pergi ke luar negeri, apalagi sendirian, belum tentu menyenangkan; terkadang, ada hal-hal unik yang buat perjalanan itu jauh lebih berkesan. #userstory
Muhammad Arif Setyono
Tulisan dari Muhammad Arif Setyono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Icon Siam, Bangkok. Foto: Muhammad Arif Setyono.
zoom-in-whitePerbesar
Icon Siam, Bangkok. Foto: Muhammad Arif Setyono.
Sungai Chao Phraya di Bangkok. Foto: Muhammad Arif Setyono.
zoom-in-whitePerbesar
Sungai Chao Phraya di Bangkok. Foto: Muhammad Arif Setyono.
Namun, mari kita kilas balik menuju beberapa hari sebelumnya…..
Suasana Padang pagi itu membuatku cukup gelisah. Bagaimana tidak? Gunung Marapi bisa saja meletus kapan pun dia mau. Sudah menjadi hal yang normal di Sumatera Barat yang mana segala aktivitas penerbangan diberhentikan jika gunung ini meletus—sambil mengingat kembali penerbanganku dulu yang pernah ditunda akibat erupsi Gunung Marapi. Aku tidak ingin menyia-nyiakan perjalanan yang sudah kusiapkan sebulan ini.
Suara berisik mesin pesawat yang siap terbang menciptakan suatu keheningan dalam pesawat; senyumku saat itu tereka jelas: Bagaimana aku berhasil melewati imigrasi yang ditakuti banyak orang? Para petugas imigrasi selalu memasang wajah datar dan bertanya seperti para pejalan merupakan seorang kriminal, yang terkadang membuat gugup orang saat ditanya. Namun, aku tahu bahwa itu merupakan bagian tuntutan pekerjaan dan tidak bisa dianggap sepele.

Ketiduran di Bus: Tersesat di Negara Orang

Saat itu aku melakukan perjalanan dari Kuala Lumpur menuju Butterworth, Penang. Sebagai seorang yang selalu terjaga dalam perjalanan, aku tidak bisa tidur. Namun pada akhirnya, dinginnya AC membuatku terlelap di tengah perjalanan, kemudian terbangun sambil melihat kursi-kursi yang tidak lagi berpenghuni; perasaanku tidak enak dan memutuskan turun dari bus. Betapa paniknya aku saat itu, ketika sopir mengatakan bahwa Butterworth sudah dilewati sejam lalu dan sekarang kami sudah berada di Sungai Petani, Kedah.
Aku langsung panik. Dengan bahasa Inggris yang masih terbata-bata (Padahal, lawan bicaraku adalah orang Melayu), aku bertanya kepada pak supir, "Sir, is this Butterworth?" Kemudian, supirnya hanya geleng-geleng kepala, sambil cengengesan, "No no, Butterworth one hour ago. This is Sungai Petani." Sontak, aku kaget: SUNGAI PETANI?! Aku bahkan tidak tahu itu kota apa.
Seven Eleven Sungai Petani, Kedah. Foto :Muhammad Arif Setyono.
Aku yang sedang panik malah ditertawakan oleh sekelompok pemuda etnis Bangladesh. Dengan rasa kesal, aku meninggalkan tempat itu untuk mencari cara bagaimana caranya untuk ke Butterworth. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam aku pun mampir ke kedai kecil yang menjual teh tarik.
Di sekitar kedai itu, terdapat banyak sekali tunawisma yang tidur di jalanan; ketika sedang duduk sambil menikmati teh tarik, seorang pria paruh baya menghampiriku dan menawariku untuk naik taksi saja yang tarifnya 100 RM. Tentu saja aku menolaknya karena sebagai seorang yang modal pas-pasan, aku harus menekan pengeluaran.
Waktu menunjukkan pukul 2 pagi; penjual teh tarik bersiap menutup kedainya. Aku pun meninggalkan tempat itu dan berjalan-jalan di tepi jalan sunyi. Mataku berhenti di tempat yang tidak asing: Seven Eleven! Kemudian, aku melangkahkan kaki ke sana dan bertemu dengan pegawai yang kurasa seumuran denganku.
Kami pun berbincang mengenai Indonesia dan Malaysia; aku pun diberikan informasi bahwa jika mau ke Butterworth, aku bisa menggunakan kereta di jam 6 pagi: yang jelas harganya sangat murah dibandingkan harus menaiki taksi. Aku memutuskan menunggu hingga pagi untuk ke stasiun. Setelah itu—belajar dari pengalaman—aku memutuskan untuk dapat memperhitungkan waktu saat dalam perjalanan yang masih panjang ini.

Drama di Imigrasi Perbatasan

Border Check Point of Poipet, Perbatasan Thailand - Kamboja. Foto: Muhammad Arif Setyono.
Kesal rasanya jika mengingat kembali saat tertahan di perbatasan dari Thailand menuju Kamboja. Saat itu, aku menaiki van dari Bangkok dan berhenti di Border Poipet-Aranyaprathet yang merupakan area perbatasan darat Negara Thailand dan Kamboja. Sesampainya di perbatasan, kami diturunkan di jalan besar dan berjalan kaki menuju kantor imigrasi Thailand.
Saat itu, aku berkenalan dengan pemuda dari Myanmar yang seumuran denganku. Kami berbincang, berjalan bersama, dan melihat banyak orang berbaris rapi di luar kantor, sambil memegang nomor di tangan masing-masing. Aku yang cukup kebingungan pun bertanya ke petugas sambil menunjukan paspor kepadanya. Karena tidak mengetahui bahasa Inggris, dia hanya memberi isyarat untuk naik ke tangga. Akhirnya, aku dan temanku—yang berasal Myanmar—naik ke atas.
Pemandangan di dalam kantor cukup membuatku tercengang, di mana lautan manusia dengan berbagai macam rupa dan bahasa berada di sana untuk mengantri. Barisan yang ada tidak jelas; aku sangat bingung karena tidak ada petunjuk di mana baris warga negara asing dan warga lokal berada. Melihat aku kebingungan, seorang petugas menghampiriku dan mengarahkanku menuju bilik ruangan di sebelahnya.
Ruangan tersebut tidak ramai. Pada awalnya, aku berpikir bahwa area ini ditujukan untuk warga negara asing. Sontak aku kaget ketika petugas mengatakan bahwa ruangan tersebut merupakan ruangan VIP. Jika seseorang ingin lewat sini, ia harus membayar sebesar 1000 baht atau sekitar Rp450 ribu rupiah. Tentunya, aku menolak hal tersebut karena mengetahui bahwa warga negara sesama ASEAN memperlakukan kebijakan Visa gratis selama 30 hari.
Makanan ekstrem di Khaosan Road, Bangkok. Foto: Muhammad Arif Setyono.
Karena aku tidak mau membayar, aku pun diminta untuk mengantri ke ruangan yang terdapat banyak orang di dalamnya. Setelah hampir sejam mengantri, kini tiba giliranku; aku memberikan pasporku. Namun, petugas datang menghampiriku dan mengatakan bahwa aku tidak sopan. Ia mengatakan bahwa tidak seharusnya aku mengatakan kata “what” saat meresponsnya dan lebih baik menggunakan kata “sorry”.
Mendengar hal tersebut, secara spontan aku meminta maaf kepadanya atas kejadian tersebut. Namun, petugas itu tidak mengindahkanku, mengajakku ke ruangan lain, dan menyerahkanku kepada petugas perempuan yang sedang berada di depan laptop. Keringatku mengucur deras, memikirkan kesalahan apa yang membuatku ditahan, sambil berharap agar aku tidak dideportasi.
Di ruangan itu, hanya ada aku, petugas perempuan itu, dan laptopnya yang membuat wajahnya semakin menakutkan. Aku hanya bisa memasang wajah orang yang seolah-olah seperti sedang mengalami banyak masalah di dunia, sembari membayangkan bagaimana caranya menelfon konsulat Indonesia dari "penjara Thailand".
Namun, setelah menjelaskan panjang lebar kepada petugas perempuan itu, aku dibebaskan dan dapat keluar dari perbatasan Thailand. Semua berjalan lancar, tidak seperti ketika berada di imigrasi.
Sejak kejadian itu, aku jadi paham bahwa traveling bukan hanya soal jalan-jalan doang, melainkan soal belajar dalam membaca situasi dan tidak asal jawab dengan menggunakan kata "what" pada petugas yang (mungkin) sedang bad mood.

Scamming Luar Negeri: Rintangan yang Harus Dilewati

Area kota Phom Penh, Kamboja. Foto : Muhammad Arif Setyono.
Mayoritas dari turis pasti pernah hampir terkena scamming atau bahkan sudah mengalaminya. Di hampir semua negara yang aku jumpai, ada saja kejadian yang membuatku hampir terkena scam. Di Kamboja, misalnya, aku ditawari makanan saat sedang asik duduk di taman Royal Palace, Phnom Penh. Penjual tersebut mengatakan kalau hasil penjualannya akan disumbangkan ke anak-anak yang membutuhkan. Namun, ketika aku bertanya dengan LSM mana ia berafiliasi, dia tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
Jika kalian berjalan kaki di Ho Chi Minh, Vietnam, kalian akan sering melihat tukang semir sepatu yang berlalu lalang. Saranku, jika melihat mereka, sebaiknya kalian menghindar. Coba bayangkan, dalam sehari, tiga tukang semir sepatu menghampiriku. Bahkan, mereka memaksaku untuk semir sepatu. Saking agresifnya, mereka bisa mengikuti kalian terus menerus-menerus; kadang kala mereka maksa dan mengikuti kalian.
Lalu, jika kalian pergi ke Pasar, seperti Pratunam, Thailand, dan Benh Thanh Market, Vietnam, kalian harus punya keahlian tawar-menawar yang tinggi. Jangan kaget jika kalian akan ditawari barang-barang yang berkali-kali lipat lebih mahal; apalagi yang beli turis, sudah pasti harga yang dikasih sangat tinggi. Jadi, kalian harus hati-hati jika membeli barang.
Kota Phom Penh, Kamboja pada malam hari. Foto: Muhammad Arif Setyono.
Sekarang, jika aku ditanya orang lain terkait "worth it nggak?", aku selalu jawab, "Worth it banget kok, tapi nggak buat orang yang mikir traveling itu cuma soal foto aesthetic dengan hotel bintang lima. Solo traveling pertama ke beberapa negara Asia Tenggara mengajarkanku bahwa kadang plan terbaik adalah nggak punya plan sama sekali— sepatu yang nyaman, tidur yang cukup, dan mental yang kuat merupakan investasi terbaik untuk melewati hal random selama perjalanan.
Satu tambahan lagi. Jika ada petugas imigrasi yang wajahnya seperti ingin meninju orang lain, jangan pernah menjawabnya dengan kata "what?" Trust me on this.
Trending Now