Konten dari Pengguna

Kakistokrasi dalam Perspektif Al-Quran

Arief Sulistyanto
Pemerhati Kepemimpinan, Etika Publik, dan Refleksi Spiritualitas Sosial.
20 Agustus 2025 15:20 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Kakistokrasi dalam Perspektif Al-Quran
Kakistokrasi, sistem pemerintahan yang dijalankan oleh orang-orang terburuk, adalah istilah baru, namun substansi fenomenanya sudah lama dikupas dalam Al-Quran. #userstory
Arief Sulistyanto
Tulisan dari Arief Sulistyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Al-quran. Foto: FOTOKITA/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Al-quran. Foto: FOTOKITA/Shutterstock
Dalam literatur politik modern dikenal istilah kakistokrasi, yakni sistem pemerintahan yang dijalankan oleh orang-orang terburuk, tidak berkompeten, dan cenderung korup. Meski istilahnya baru, substansi fenomena ini telah lama dikupas dalam Al-Quran.
Kitabullah menyingkap bagaimana amanah yang diserahkan pada orang yang salah akan melahirkan rezim yang zalim, menindas, dan pada akhirnya menghancurkan masyarakat.

Amanah yang Salah Tempat

Allah SWT menegaskan prinsip dasar kepemimpinan:
Kakistokrasi lahir ketika amanah diserahkan bukan kepada yang berhak, tetapi kepada orang yang serakah, inkompeten, atau haus kekuasaan.

Pemimpin Zalim sebagai Hukuman

Al-Qur’an menyingkap dimensi sosial yang tajam:
Ayat ini menegaskan bahwa pemimpin zalim tidak muncul di ruang hampa; ia lahir sebagai konsekuensi atas kelalaian kolektif masyarakat yang rela didominasi atau bahkan ikut menikmati sistem yang zalim.

Firaun: Prototipe Kakistokrasi

Artefak Firaun dipamerkan di Museum Mesir saat perayaan Hari Pariwisata Dunia, di Kairo, Mesir, Selasa (27/9/2022). Foto: Mohamed Abd El Ghany/Reuters
Firaun adalah simbol klasik dari kepemimpinan yang bobrok:
Kekuatan militer dan kekuasaan politiknya kokoh, tetapi legitimasi moralnya runtuh. Akhirnya, ia hancur dalam kehinaan. Di era modern, kakistokrasi muncul dalam wajah:
Ini adalah tanda bahwa masyarakat sedang diuji, bahkan dihukum, karena lalai menjaga amanah sosial. Ada beberapa gejala kakistokrasi kekinian di sekitar kita, misalnya:

1. Kepemimpinan Tanpa Leadership

Banyak penguasa menempati kursi tinggi tanpa bekal experiential leadership. Mereka tidak lahir dari proses panjang mengasah kapasitas, melainkan karena popularitas instan, figur pencitraan, atau sekadar “nama besar”. Akibatnya, arah kebijakan kehilangan visi strategis, lebih reaktif daripada proaktif.
Padahal Al-Quran menekankan syarat pemimpin adalah amanah dan kompeten dalam QS. Al-Qashash [28]:26.

2. Pemilihan Pejabat Tanpa Meritokrasi

Jabatan publik bukan diisi oleh yang ahli, tetapi oleh tim sukses, kolega parpol, atau hasil transaksi politik. Fenomena ini mirip dengan praktik ghulul (pengkhianatan amanah) dalam istilah Islam: sesuatu yang harusnya untuk kemaslahatan rakyat justru diperdagangkan untuk kepentingan kelompok kecil.
Al-Quran sudah mengingatkan dalam QS. Al-Baqarah [2]:188:

3. Kebijakan Salah Kaprah & Kontroversial

Karena basis pengambilan keputusan tidak berdasar kompetensi, lahirlah kebijakan yang salah arah:

4. Otoritarianisme Terselubung

Hukum dijadikan alat kekuasaan. Penegakan hukum tidak lagi netral, tetapi dikendalikan untuk mengamankan kepentingan penguasa dan membungkam kritik. Ini adalah wajah modern dari kezaliman yang dicontohkan Firaun: menjadikan kekuasaan sebagai instrumen penindasan.
Dalam Al-Quran hal ini tertulis pada QS. Al-Māidah [5]:8:

5. Korupsi & Buruknya Layanan Publik

Korupsi semakin sistemik, bukan lagi perilaku individu, tapi kultur birokrasi. Sementara pelayanan publik terpuruk: lamban, diskriminatif, dan sering jadi ladang pungli. Masyarakat makin jauh dari keadilan substantif.
Al-Quran menegaskan hal ini dalam QS. Al-Muthaffifīn [83]:1.
Fenomena ini sejatinya adalah azab sosial yang Allah timpakan: ketika amanah diserahkan pada yang bukan ahlinya, lahirlah rezim yang buruk (QS. Al-An‘ām [6]:129).
Kakistokrasi di Indonesia hari ini bukan sekadar soal individu buruk di kursi kekuasaan, melainkan konsekuensi kolektif dari politik transaksional, masyarakat yang permisif, dan sistem yang tidak berpihak pada meritokrasi.
Kakistokrasi adalah peringatan keras dari Allah. Ia bukan hanya soal buruknya pemimpin, melainkan juga cermin kelalaian umat dalam menunaikan tanggung jawab kolektif.
Al-Quran mengajarkan bahwa tegaknya kepemimpinan yang adil adalah rahmat, sedangkan munculnya rezim yang zalim adalah azab duniawi. Maka, tugas umat adalah menjaga amanah, menegakkan keadilan, dan memastikan bahwa kekuasaan tidak jatuh ke tangan mereka yang justru menjadi musibah bagi rakyatnya.
Wallahualam bishawab
Trending Now