Konten dari Pengguna

Keculasan Hāmān: Refleksi tentang Penasihat dan Penyesat di Istana Firaun

Arief Sulistyanto
Pemerhati Kepemimpinan, Etika Publik, dan Refleksi Spiritualitas Sosial.
24 Oktober 2025 11:15 WIB
·
waktu baca 11 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Keculasan Hāmān: Refleksi tentang Penasihat dan Penyesat di Istana Firaun
Setiap zaman punya Firaun, dan setiap Firaun punya Hāmān, tangan-tangan patuh yang mengerjakan perintah tanpa bertanya, meneken kebijakan tanpa nurani, dan menegakkan hukum tanpa keadilan. #userstory
Arief Sulistyanto
Tulisan dari Arief Sulistyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Seekor kuda menarik kereta wisata bergerak di dekat dasar Piramida Menkaure (atau Menkheres, dibangun pada abad ke-26 SM) di Pemakaman Piramida Giza, sebelah barat Kairo, Mesir pada Senin (29/1/2024). Foto: Khaled Desouki/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Seekor kuda menarik kereta wisata bergerak di dekat dasar Piramida Menkaure (atau Menkheres, dibangun pada abad ke-26 SM) di Pemakaman Piramida Giza, sebelah barat Kairo, Mesir pada Senin (29/1/2024). Foto: Khaled Desouki/AFP

Penasihat yang Menjadi Penyesat

Tidak ada tirani yang berdiri sendiri. Setiap kekuasaan zalim selalu membutuhkan tangan-tangan patuh yang mengerjakan perintah tanpa bertanya—menandatangani kebijakan tanpa nurani, dan menegakkan hukum tanpa keadilan.
Mereka bukan Firaun, tapi tanpa mereka, Firaun tidak akan pernah berkuasa. Di situlah muncul nama Hāmān, sosok yang tidak sepopuler penguasa, tapi justru penopang kejahatannya.
Tulisan ini menyoroti satu tokoh penting dalam kisah Firaun, Hāmān, sang penasihat yang berubah menjadi penyesat. Ia bukan raja, bukan nabi, bukan pula algojo. Namun melalui kecerdasan dan kelicikannya, ia menjadi penguat bagi kezaliman yang dilakukan atas nama kekuasaan.
Di tangan Hāmān, kebijakan berubah menjadi pembenaran; dan dalam pikirannya, kebenaran tunduk pada kepentingan penguasa. Al-Qur’an mengabadikan namanya bersama dua tokoh lain di sekitar Firaun: Qārūn, simbol keserakahan ekonomi, dan Sāmirī, simbol penyesatan ideologi.
Namun di antara ketiganya, Hāmān adalah arketipe culas paling berbahaya karena ia tidak menindas rakyat secara langsung, melainkan membuat penindasan tampak legal, rasional, dan diperlukan demi stabilitas.
Hāmān adalah wajah cerdas dari keburukan: birokrat yang efisien tetapi kehilangan nurani. Ia tahu Firaun zalim, namun tetap menata sistem agar kezaliman itu tampak tertib dan berwibawa. Ia membungkus tirani dengan logika kebijakan, dan menghaluskan dosa dengan bahasa administrasi.

Culas yang Menjadi Sistem

Wisatawan mengunjungi situs piramida berundak raja Mesir Kuno dinasti ketiga Djoser (abad ke-27 SM), di Pemakaman Saqqara di selatan ibu kota Mesir, Kairo, pada 3 Desember 2023. Foto: Khaled Desouki / AFP
Keculasan Hāmān bukan kelicikan spontan, melainkan produk dari ketakutan dan ambisi. Ia ingin aman di sisi kekuasaan, sehingga menukar integritas dengan posisi.
Dalam logika culasnya, kesetiaan lebih penting daripada kebenaran, dan ketaatan lebih utama daripada keberanian moral. Di sinilah keculasan menjadi sistem.
Bukan lagi dosa individu, melainkan budaya yang diwariskan: semua tahu apa yang salah, tapi semua memilih diam karena diam lebih menguntungkan. Maka kezaliman tidak lagi menakutkan, ia justru menjadi prosedural.

Bayangan di Balik Singgasana

Firaun mungkin penguasa yang mengeluarkan perintah, tapi Hāmān-lah yang memastikan perintah itu berjalan. Ia tidak memegang cambuk, tapi mengatur mekanisme. Ia tidak mengangkat pedang, tapi menyiapkan kebijakan yang melumpuhkan nurani bangsa. Culasnya tidak tampak di ruang publik, tapi terasa di setiap kebijakan yang mematikan keadilan.
Hāmān tidak mati di Mesir kuno. Ia hidup di setiap masa ketika birokrasi kehilangan keberanian untuk berkata “tidak” kepada kekuasaan.
Ia menjelma dalam bentuk baru—pejabat yang pandai berargumentasi, ahli menyusun regulasi, tapi abai terhadap moralitas. Ia hidup di setiap meja rapat di mana kebenaran dikalahkan oleh loyalitas.

Culas yang Dianggap Loyal

Di mata Firaun, Hāmān bukan penjahat, tetapi pejabat ideal: cerdas, cepat, dan loyal. Ia tidak membantah, tidak mengkritik, dan selalu siap mengeksekusi perintah, betapapun salahnya.
Kepatuhan seperti ini terlihat aman bagi kekuasaan—padahal sesungguhnya mematikan bagi kebenaran. Inilah bentuk culas yang paling berbahaya: ketika kebohongan dipersembahkan dalam bungkus loyalitas.
Dalam Al-Qur’an, Firaun berteriak:
Perintah itu absurd secara logika, tetapi Hāmān tidak menolak. Ia tahu itu bukan proyek mencari Tuhan, melainkan proyek kesombongan. Namun ia tetap mengerjakannya—sebab di mata penguasa, loyalitas lebih berharga daripada akal sehat.
Begitulah wajah culas dalam struktur kekuasaan: menyembunyikan kebenaran demi kenyamanan.

Logika Culas dalam Birokrasi

Koleksi patung firaun dipajang selama konferensi pers di pekuburan Saqqara, tempat ditemukannya mumi bertali emas dan empat makam termasuk "penjaga rahasia" raja kuno, di selatan Kairo pada 26 Januari 2023. Foto: Khaled Desouki/AFP
Culas tidak selalu tampak sebagai korupsi atau kebohongan langsung. Ia bisa berupa kelalaian yang disengaja, laporan yang “disesuaikan,” atau penundaan yang menguntungkan pihak tertentu. Ia bekerja halus—dengan tanda tangan, notulensi, atau diam yang disepakati bersama.
Logika culas lahir dari dua keyakinan salah:
Padahal, dalam pandangan Al-Qur’an, kejujuran adalah asas setiap amal. Kecurangan sekecil apa pun adalah pembusukan dari dalam, yang lambat laun menghancurkan keadilan. Ketika culas menjadi kebiasaan, maka kebenaran berubah menjadi dekorasi, bukan lagi kompas.

Ketika Loyalitas Mengalahkan Nurani

Culas sering lahir dari rasa takut. Takut kehilangan jabatan, fasilitas, atau akses kekuasaan. Rasa takut inilah yang menjadikan banyak orang memilih diam—atau lebih buruk, ikut membenarkan yang salah demi terlihat setia.
Dalam sistem seperti ini, pejabat culas tampak paling aman. Ia selalu tahu kapan harus setuju, kapan harus menunduk, dan kapan harus bertepuk tangan.
Tapi di sisi Allah SWT, ia justru paling berbahaya—karena menipu bukan hanya penguasa, tapi juga nuraninya sendiri.
Al-Qur’an menegaskan:
Hāmān bukan satu-satunya contoh; ia adalah pola yang berulang di setiap zaman—ketika manusia cerdas kehilangan keberanian untuk berkata benar. Dan ketika culas dijadikan ukuran loyalitas, maka yang tulus dianggap ancaman.

Dari Istana Firaun ke Meja Modern

Dalam dunia modern, wajah Hāmān tidak lagi berpakaian kerajaan, tetapi mengenakan jas birokrasi. Ia hadir di ruang rapat, menyusun dokumen, memberi “pertimbangan profesional” yang membenarkan kebijakan salah, atau membuat celah hukum agar keburukan bisa tampak legal.
Ia bukan pembuat keputusan tertinggi, tapi penggerak sistem yang memastikan kezaliman berjalan halus dan efisien. Culas modern bukan lagi soal menyuap, tapi soal menyesuaikan nilai agar aman.
Ketika pejabat memilih diam atas penyimpangan, ketika pengawas membiarkan karena takut kehilangan posisi, ketika penasihat memberi pembenaran demi citra penguasa—di situlah Hāmān hidup kembali.

Akar dari Keculasan

Pada dasarnya, culas tumbuh dari sikap tidak beriman kepada hari pembalasan. Orang yang yakin akan keadilan Allah SWT tidak akan menukar kebenaran dengan keamanan sesaat.
Tapi bagi yang mengira dunia adalah segalanya, culas menjadi strategi bertahan hidup. Karena itu, setiap sistem yang mengabaikan nilai transenden akan melahirkan banyak Hāmān—orang pintar yang kehilangan arah, orang berilmu tanpa takut kepada Allah SWT.
Dan bila culas terus diwariskan sebagai budaya, ia akan menurunkan dosa sosial yang tak terputus—dosa jariyah kekuasaan.

Dosa yang Diturunkan

Keculasan muncul dari orang-orang yang tunduk pada penguasa yang zalim dan menukarkan kebenaran dengan keamanan yang sementara. Foto: Shutterstock
Keculasan tidak berhenti di meja pelaku; ia menjalar seperti virus moral yang menular ke generasi berikutnya. Di sinilah letak bahaya terbesar dari birokrasi culas: ia melahirkan dosa yang diturunkan, bukan hanya ditanggung. Karena setiap kebijakan yang dibuat dengan niat tidak jujur akan menurunkan akibat bagi banyak orang—baik yang tahu maupun yang diam.

Ketika Kebijakan Menjadi Dosa Jariyah

Dalam pandangan Al-Qur’an, dosa tidak hanya ditanggung oleh pelaku langsung, tetapi juga oleh mereka yang membuka jalan dan mempertahankannya.
Allah SWT berfirman:
Ayat ini adalah peringatan keras bagi setiap pemegang amanah publik. Siapa pun yang menulis, menandatangani, atau melegitimasi keputusan yang melahirkan ketidakadilan, telah menanam benih dosa jariyah.
Selama kebijakan itu berjalan dan menimbulkan penderitaan, dosa itu terus mengalir seperti sistem yang diwariskan.

Ketika Kecurangan Menjadi Tradisi

Segala sesuatu yang dimulai dari niat yang salah akan melahirkan hasil yang rusak. Kebohongan yang diulang dengan keyakinan akan tampak seperti kebenaran, dan kecurangan yang dibungkus prosedur akan tampak seperti kebijakan.
Begitulah culas bekerja—ia tidak datang dengan wajah kasar, tapi dengan senyum administrasi dan tanda tangan yang tampak resmi. Ketika culas menjadi kebiasaan, manusia berhenti merasa bersalah. Yang awalnya dianggap penyimpangan, perlahan diterima sebagai kebiasaan umum.
Dan yang lebih berbahaya: generasi berikutnya tidak lagi melihatnya sebagai kesalahan, karena mereka mewarisinya tanpa sadar. Inilah bentuk paling halus dari kejahatan: keburukan yang diwariskan dalam nama keteraturan.

Hukum Ilahi yang Tak Pernah Tidur

Kebenaran mungkin bisa ditunda, tapi tidak bisa dihapus. Dalam sejarah manusia, setiap sistem yang dibangun di atas kebohongan akhirnya runtuh oleh kebohongannya sendiri.
Keruntuhan itu tidak selalu dalam bentuk perang atau krisis; kadang berupa kehampaan moral, hilangnya kepercayaan rakyat, dan matinya semangat kebangsaan.
Itulah cara Allah SWT menegakkan keadilan-Nya—tidak dengan murka seketika, tapi dengan mengizinkan manusia melihat akibat dari kecurangan yang mereka wariskan sendiri.
Hāmān mengira ia sedang membangun kekuasaan yang abadi, padahal ia sedang menulis warisan kehancuran. Begitu pula setiap sistem culas di zaman modern: ia tampak stabil, tapi sejatinya rapuh. Karena di atas fondasi yang retak, tidak ada keadilan yang bisa berdiri tegak.
Dan di situlah letak pelajaran abadi dari kisah ini—bahwa setiap culas yang dilegalkan adalah dosa yang diturunkan dan setiap kejujuran yang ditegakkan adalah rahmat yang diwariskan.

Ancaman Allah terhadap Keculasan Kekuasaan

Setiap ayat tentang kecurangan dalam Al-Qur’an selalu diakhiri dengan peringatan keras—bukan sekadar kepada pelaku yang menipu dalam timbangan, tetapi kepada siapa pun yang mengaburkan kebenaran untuk keuntungan diri. Kecurangan, sekecil apa pun bentuknya, adalah pengkhianatan terhadap keadilan, dan keadilan adalah napas kehidupan manusia.
Allah SWT menegaskan:
Ayat ini menyingkap realitas abadi dari sejarah manusia: bahwa dalam setiap peradaban, selalu ada pembesar yang kehilangan arah moral. Mereka bukan sekadar jahat karena berkuasa, tapi karena menggunakan kekuasaan untuk memperindah keburukan.
Dan karena tipu daya mereka tampak rapi, masyarakat sering tidak sadar sedang tertipu oleh wajah sopan dari kezaliman.

Keculasan Sebagai Tipu Daya Sistemik

Hāmān adalah contoh paling jelas dari ayat tersebut. Ia bukan penipu jalanan, melainkan arsitek penipuan yang terlembaga—menciptakan kebijakan, argumen, dan sistem yang membuat kebohongan terasa sah.
Inilah bentuk keculasan yang paling berbahaya: ketika dosa disamarkan dengan prosedur, dan kebatilan dikemas dalam dokumen resmi. Dalam logika seperti ini, yang berani berkata benar dianggap tidak bijak, sementara yang pandai menyembunyikan kesalahan dianggap setia.
Dan dari sinilah lahir struktur kekuasaan yang menjauh dari nilai, karena para culas membuat tirani tampak seperti tatanan yang stabil.

Kecurangan dan Hilangnya Kesadaran Hari Pembalasan

Keculasan birokrasi seperti ini sejatinya berakar dari hilangnya kesadaran akan hari pembalasan. Manusia yang yakin akan berdiri di hadapan Allah SWT tidak akan berani menipu, bahkan dalam hal sekecil kebijakan.
Namun ketika rasa takut kepada keadilan Ilahi hilang, kekuasaan berubah menjadi permainan, dan kejujuran menjadi pilihan opsional. Maka, ketika seseorang berbuat curang dan tetap tenang, sesungguhnya ia sedang menghapus keyakinannya terhadap hari pembalasan.
Dan di situlah kehancuran moral dimulai—ketika tipu daya dianggap kecerdasan, dan kebenaran dianggap ancaman bagi kenyamanan.

Hukum Ilahi: Setiap Kecurangan Pasti Dibalaskan

Allah SWT tidak pernah lalai terhadap kebohongan yang dibungkus rapi. Setiap kezaliman memiliki waktunya untuk terbongkar, dan setiap culas memiliki gilirannya untuk dipermalukan.
Tidak ada kebohongan yang benar-benar abadi, karena kebenaran memiliki kesabaran yang lebih panjang dari umur kekuasaan manusia.
Firaun dan Hāmān tidak hancur oleh senjata, tetapi oleh kebohongan mereka sendiri. Dan seperti itu pula sunnatullah yang berlaku di setiap zaman—setiap sistem culas akan menanggung kehancuran dari hasil tangannya sendiri.
Firaun pun berpikir ia aman karena memiliki Hāmān yang cerdas dan sistem yang kokoh. Namun kekokohan yang dibangun di atas kebohongan hanya menunggu waktu untuk runtuh. Begitu pula setiap kekuasaan, organisasi, atau bangsa yang menukar kebenaran dengan kelicikan—cepat atau lambat akan merasakan akibat yang sama.
Maka, ancaman Allah SWT terhadap orang-orang yang culas bukan hanya neraka di akhirat, tapi juga neraka sosial di dunia—ketika kepercayaan lenyap, ketika hukum tak dipercaya, dan ketika kejujuran menjadi barang langka.

Ketika Nurani Menjadi Timbangan Terakhir

Setiap zaman memiliki Firaun-nya, dan setiap Firaun memiliki Hāmān-nya. Namun bukan kekuasaan yang selalu jahat—yang berbahaya adalah ketika kekuasaan kehilangan koreksi moral, dan orang-orang berakal memilih diam atas nama kesetiaan.
Culas seperti Hāmān tidak muncul dari kebodohan, melainkan dari kecerdasan yang kehilangan arah. Ia tahu yang benar, tapi memilih jalan yang salah karena takut kehilangan kenyamanan. Ia pandai menimbang kepentingan, tetapi tidak lagi menimbang kebenaran.
Dan di titik itu, nurani berhenti menjadi timbangan; ia berubah menjadi alat pembenar.

Nurani Sebagai Penentu Akhir

Allah SWT tidak hanya menilai hasil, tetapi juga niat dan kejujuran proses. Ketika manusia menipu dengan logika, Allah SWT menimbang dengan keadilan. Dan di hadapan-Nya, tidak ada jabatan, status, atau pencapaian yang bisa menutupi kebusukan niat.
Maka, nurani adalah timbangan terakhir—tempat di mana keadilan diuji bukan oleh kekuasaan, tapi oleh kejujuran batin. Selama nurani masih hidup, culas tidak akan pernah menjadi budaya.
Tetapi ketika nurani mati, kebohongan akan tumbuh seperti hutan yang rindang, menutupi cahaya kebenaran.
Keculasan Hāmān adalah pelajaran bagi manusia berilmu dan berkuasa: bahwa kecerdasan tanpa integritas hanyalah alat untuk memperindah kejahatan. Dan bahwa kekuasaan tanpa kejujuran akan menjadi beban yang menenggelamkan, bukan kehormatan yang meninggikan.
Pada akhirnya, tidak ada sistem yang bisa menipu Allah SWT. Yang tersisa hanyalah pertanggungjawaban—bukan atas jabatan, tapi atas keberanian untuk menjaga kebenaran. Karena di hadapan Allah SWT, yang seimbang bukan timbangan kekuasaan, melainkan timbangan nurani.
Dan pada hari itu, setiap Hāmān akan sadar bahwa: culas adalah bentuk bunuh diri yang paling pelan—membunuh keberanian, membungkam kebenaran, dan menghapus makna hidup itu sendiri.
Trending Now