Konten dari Pengguna

Zuhud yang Tertutup Kabut: Refleksi Spiritual-Sosial di Tengah Gemerlap Dunia

Arief Sulistyanto
Pemerhati Kepemimpinan, Etika Publik, dan Refleksi Spiritualitas Sosial.
21 November 2025 13:46 WIB
·
waktu baca 23 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Zuhud yang Tertutup Kabut: Refleksi Spiritual-Sosial di Tengah Gemerlap Dunia
Hari pembalasan akan datang, dan pada hari itu kabut apa pun tak lagi berguna. Yang tersisa hanya sejauh mana hati pernah berusaha menjaga jarak dari dunia demi mendekatkan diri pada Allah. #userstory
Arief Sulistyanto
Tulisan dari Arief Sulistyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi gemerlap hiburan malam. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gemerlap hiburan malam. Foto: Shutterstock

Ketika Cerita Tidur Berjumpa Kabut Zaman

Sudah cukup lama sebelum tidur malam saya memiliki satu kebiasaan kecil bersama cucu: berbagi cerita lewat video call. Layar ponsel menjadi “jendela” yang mempertemukan dua generasi, satu di ujung usia, satu lagi di awal kehidupan. Di tengah jarak yang tidak selalu mudah dipertemukan secara fisik, kebiasaan ini menjadi cara sederhana untuk tetap hadir dalam perjalanan tumbuhnya.
Isi ceritanya bukan sekadar dongeng pengantar tidur. Sejak awal saya niatkan sebagai upaya menanamkan nilai-nilai keteladanan para kekasih Allah sejak dini. Malam demi malam, kami menapaki kisah para Nabi, dari Nabi Adam ‘alaihissalām hingga Nabi Muhammad ﷺ. Nama demi nama diperkenalkan, bukan hanya sebagai tokoh besar dalam sejarah, tetapi sebagai manusia pilihan yang memiliki luka, ujian, dan ketaatan yang nyata. Nabi Nuh dengan keteguhan dakwahnya, Nabi Ibrahim dengan keberanian mengorbankan sesuatu yang paling dicintai, Nabi Musa dengan pergulatannya menghadapi kekuasaan zalim, hingga Nabi Muhammad ﷺ dengan kasih sayangnya yang meliputi seluruh umat.
Perjalanan itu berlangsung cukup lama. Setiap malam ada satu potongan kisah, satu pelajaran, satu kalimat sederhana yang bisa dipahami oleh akal seorang anak, tetapi menyentuh hati kakeknya yang sudah jauh lebih banyak melewati liku hidup. Pada satu titik, rangkaian kisah para Nabi terasa memasuki jeda alami. Bukan berhenti, hanya bergeser fokus. Setelah para Nabi, tiba saatnya mengajak cucu mengenal generasi berikutnya: para sahabat Rasulullah ﷺ.
Malam itu pilihan jatuh kepada Umar bin Khattab radhiyallāhu ‘anhu. Saya memperkenalkan Umar sebagai sahabat yang pada awalnya dikenal keras, tegas, tidak mudah tunduk, tetapi kemudian dilembutkan oleh hidayah. Kepada cucu, saya mencoba menggambarkan Umar dengan bahasa yang bersahabat: seorang pemimpin besar yang memiliki kekuasaan, disegani banyak orang, tetapi memilih hidup sederhana. Umar digambarkan sebagai sosok yang zuhud; memiliki dunia di tangannya, namun tidak membiarkan dunia bersemayam di dalam hatinya.
Tatapan polos di layar, ekspresi heran ketika mendengar bahwa seorang pemimpin besar bisa hidup sangat sederhana, dan pertanyaan-pertanyaan kecil yang muncul dari mulut cucu menghadirkan ruang renung di dalam diri. Pada saat yang sama, benak saya terlempar kepada kenyataan hari ini. Kontras itu terasa tajam. Di satu sisi, saya bercerita tentang pemimpin yang zuhud, menjaga diri dari gemerlap dunia. Di sisi lain, kehidupan kontemporer justru dipenuhi pemandangan yang berlawanan: budaya flexing, gaya hidup hedon yang dipamerkan, dan pencitraan diri yang seolah menjadi standar baru kehormatan.
Ilustrasi flexing. Foto: Indra Fauzi/kumparan
Dari titik perjumpaan inilah refleksi ini lahir. Kisah Umar bin Khattab sebagai pemimpin yang zuhud berhadapan dengan realitas zaman yang gemar mempertontonkan dunia. Muncul pertanyaan yang mengusik hati: apakah ruh zuhud yang dahulu hidup kuat dalam diri generasi terbaik ini kini sudah tertutup kabut tebal oleh budaya pamer, riya’, dan industri pencitraan?
Al-Qur’an menggambarkan keadaan manusia yang terperangkap dalam perlombaan duniawi ini dengan sangat singkat namun tajam:
Lebih jauh, Allah juga memperingatkan tentang mereka yang puas dengan gemerlap dunia dan lupa pada pertemuan dengan-Nya:
Tulisan ini berupaya menjawab kegelisahan itu, membaca kembali makna zuhud di tengah kabut zaman, sekaligus menguji konsistensi antara cerita yang kita wariskan kepada anak-cucu dengan kenyataan yang mereka saksikan setiap hari.

Zuhud: Ruh yang Menjaga Jarak Hati dari Dunia

Ilustrasi hidup sederhana. Foto: I Wayan Nusanjaya/Shutterstock.
Zuhud sering disalahpahami seolah-olah identik dengan hidup melarat, menolak kenyamanan, atau menjauh dari hiruk-pikuk peradaban. Padahal hakikatnya jauh lebih halus. Zuhud tidak diukur dari seberapa sedikit harta yang dimiliki, melainkan dari seberapa besar hati terikat kepada dunia. Seseorang bisa memiliki rumah, kendaraan, jabatan, dan pengaruh yang luas, namun tetap zuhud bila semua itu tidak dijadikan pusat harga diri dan tidak menggeser keikhlasan kepada Allah. Sebaliknya, seseorang dapat hidup pas-pasan, tetapi hatinya penuh iri, haus pengakuan, dan sibuk memikirkan penilaian manusia; kondisi seperti itu justru berlawanan dengan zuhud. Allah sendiri mengakui bahwa daya tarik dunia memang kuat dan memikat:
Zuhud dalam pengertian ini sangat relevan bagi siapa pun yang berada di tengah pusaran kehidupan modern: pemimpin, pejabat publik, pengusaha, profesional, maupun figur yang sering tampil di ruang publik. Kehidupan mereka dikelilingi fasilitas, akses, dan peluang untuk dipuji. Tanpa ruh zuhud, seluruh anugerah itu mudah berubah menjadi jebakan. Dunia yang seharusnya berada di tangan perlahan masuk ke dalam hati, lalu mengendalikan arah keputusan dan sikap.
Dalam kisah-kisah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, ruh zuhud itu tampak sangat terang. Umar bukan hidup di pinggir sejarah, melainkan berada tepat di pusatnya. Ia memimpin sebuah peradaban yang meluas, mengatur urusan umat, mengelola baitul mal, dan memutuskan perkara besar yang menyangkut harta, darah, serta kehormatan manusia. Di balik seluruh wibawa itu, Umar memilih menjalani kehidupan yang jauh dari kemewahan. Pakaian yang sederhana, makanan yang biasa, malam-malam yang diisi patroli untuk memastikan tidak ada rakyat yang terlantar, serta keberanian menerima kritik dan mengoreksi diri menjadi potret nyata bahwa kekuasaan tidak sedikit pun mengikis kesederhanaan jiwanya.
Sikap zuhud Umar tidak lahir dari kelemahan, melainkan dari kekuatan jiwa. Ia mampu mengambil jarak dari dunia bukan karena tidak sanggup menggapainya, tetapi karena memahami nilai sejatinya. Dunia tidak ditempatkan sebagai musuh, namun tidak pula dijadikan tujuan. Dunia diperlakukan sebagai ladang amal, tempat manusia membuktikan apakah ia memilih kemegahan sementara atau ridha Allah yang kekal.
Gambaran hakikat dunia ini ditegaskan langsung oleh Allah:
Pada posisi inilah zuhud menjadi semacam “antivirus” batin terhadap riya’, pamer, dan kerakusan pencitraan.
Kapolri Jenderal Polisi Hoegeng Imam Santoso yang senantiasa hidup sederhana. Foto: Kompolnas
Saya pernah menulis tentang Pak Hoegeng, seorang Kapolri pada masa lalu. Dalam tulisan itu saya menyebut beliau sebagai sosok yang zuhud; ia bertapa di keramaian. Ungkapan ini sengaja saya pilih sebagai metafora untuk menggambarkan pribadi yang memegang kekuasaan besar, mengelola institusi strategis, berhadapan setiap hari dengan hiruk-pikuk kepentingan, godaan fasilitas, serta sanjungan, namun tidak menjadikan semua itu sebagai tempat bersandarnya hati. Ia hadir di tengah lalu lintas kekuasaan, tetapi batinnya tidak ikut larut mengejar kemegahan dunia.
“Bertapa di keramaian” bukan gambaran tentang seseorang yang menyingkir dari kehidupan sosial, melainkan tentang kemampuan menjaga kejernihan hati di tengah bisingnya dunia. Seorang pemimpin masih memimpin rapat, menandatangani keputusan, menyusun kebijakan, dan tampil di berbagai forum, namun dalam ruang batinnya tetap hidup rasa takut kepada Allah, kesadaran akan keterbatasan diri, serta keengganan menjadikan jabatan sebagai panggung memuliakan diri sendiri.
Model seperti ini menjadikan sosok Pak Hoegeng relevan sebagai contoh zuhud dalam konteks kekuasaan modern. Kesederhanaan hidup, integritas dalam mengelola kewenangan, serta kemauan menjaga jarak dari fasilitas yang berlebihan menunjukkan bahwa zuhud bukan monopoli ahli ibadah di sudut mihrab. Zuhud justru menemukan makna paling kuat ketika hadir di puncak struktur birokrasi, saat seseorang memiliki banyak kesempatan untuk memanfaatkan kekuasaan demi kenyamanan pribadi, tetapi memilih menahan diri.
Sikap ini sejatinya merupakan penjelmaan praktis dari ruh zuhud: kekuasaan tidak dikejar demi gengsi, fasilitas tidak dibiarkan menggeser integritas, dan pujian publik tidak diberi ruang untuk mengalahkan rasa takut kepada Allah. Dalam kacamata ini, sosok Umar bin Khattab dan figur-figur seperti Pak Hoegeng berada pada satu garis nilai yang sama. Keduanya menghadirkan pesan tegas bahwa zuhud bukan pelarian dari tanggung jawab sosial, melainkan cara tertinggi menjalankan amanah tanpa diperbudak dunia.
Perspektif ini selaras dengan peringatan Allah agar manusia menempatkan dunia sebagai sarana, bukan tujuan:
Gambaran seperti inilah yang membuat kontras dengan realitas zaman sekarang terasa begitu tajam. Di satu sisi, sejarah memberikan teladan pemimpin yang mampu bertapa di keramaian, memegang amanah besar tanpa silau dunia. Di sisi lain, kehidupan kontemporer justru menampilkan gelombang budaya pamer, flexing, serta industrialisasi pencitraan yang bergerak ke arah sebaliknya. Dari titik benturan inilah kabut mulai tampak: ruh zuhud masih diajarkan dalam cerita, tetapi samar dalam praktik kehidupan.

Kabut Zaman: Flexing, Hedonisme, dan Ekonomi Pencitraan

Ilustrasi flexing. Foto: Westend61/Getty Images
Ruh zuhud yang hadir jernih dalam sosok Umar bin Khattab dan figur-figur seperti Pak Hoegeng kini berhadapan dengan lanskap sosial yang berbeda sama sekali. Dunia modern membangun panggung baru yang nyaris tidak pernah sepi. Panggung itu tidak berada di alun-alun kota, tidak di balai pertemuan, tetapi di layar-layar kecil yang selalu berada dalam genggaman. Setiap orang memiliki “panggung” sendiri, memiliki “kamera” sendiri, dan memiliki “penonton” yang bisa datang dari mana saja.
Gemerlap dunia yang pada masa lalu hanya tampak di ruang terbatas, kini hadir setiap detik di hadapan mata. Gaya hidup, kemewahan, dan simbol-simbol status sosial tidak lagi sekadar menjadi fakta, melainkan menjadi tontonan sekaligus standar baru. Muncul budaya flexing: memamerkan mobil, rumah, tas, jam tangan, tempat makan, lokasi liburan, hingga hal-hal yang sebenarnya sangat pribadi. Apa pun yang bisa dijadikan bukti keberhasilan duniawi, diubah menjadi materi konten.
Fenomena ini tidak berhenti pada ranah hiburan. Ada efek domino yang bergerak pelan tetapi pasti. Banyak orang mulai merasa malu bila hidup “biasa-biasa saja”. Ukuran bahagia bergeser dari rasa syukur menjadi kemampuan menampilkan diri. Anak muda merasa tertinggal bila tidak memiliki barang yang sedang tren. Pegawai merasa tidak sukses bila tidak mampu menyesuaikan gaya hidup dengan standar pamer yang beredar di linimasa. Bahkan sebagian pejabat dan tokoh publik ikut terseret ke dalam kebutuhan untuk selalu tampak hebat di hadapan kamera.
Di tengah perubahan ini lahir kelas sosial baru: buzzer, influencer, dan relawan pendukung yang seluruh eksistensinya bertumpu pada permainan citra di ruang digital. Sebagian mungkin memulai dari kreativitas, sebagian lagi dari keberanian mengambil posisi dalam pertarungan opini. Namun perlahan, ruang ini berubah menjadi lahan “pekerjaan jasa” yang memberi keuntungan ekonomi sekaligus kedekatan dengan pusat kekuasaan.
Peran mereka tidak sederhana. Buzzer dan influencer menjadi pengganda pesan. Relawan pendukung yang semula tampak idealis kemudian masuk ke orbit yang lebih pragmatis. Gaya hidup flexing dan hedon yang ditampilkan di media sosial memberikan efek aspiratif: banyak pengikut ingin menjadi seperti mereka. Hal ini memperkuat ilusi bahwa kemuliaan seseorang ditentukan oleh seberapa sering ia muncul, seberapa mewah latar belakang videonya, dan seberapa tinggi angka “engagement” yang ia miliki.
Pada titik tertentu, ruang ini menjadi sangat menggiurkan bagi siapa pun yang ingin membangun citra. Program sosial, bantuan untuk masyarakat kecil, bahkan kegiatan keagamaan dikemas sedemikian rupa agar “layak tayang”. Bansos tidak lagi sekadar ekspresi kepedulian, melainkan properti dalam panggung pencitraan. Sedekah tidak lagi sekadar hubungan hamba dengan Rabb-nya, melainkan bahan konten yang diatur sudut kamera dan narasinya.
Di sinilah peringatan Al-Qur’an tentang riya dan bantuan yang hilang ruh ikhlasnya menjadi sangat relevan:
Bahkan Allah memperingatkan agar sedekah tidak dibatalkan nilainya oleh dorongan pamer dan menyakiti:
Perbedaan antara transparansi yang wajar dan riya’ yang terselubung menjadi semakin tipis. Transparansi diperlukan agar publik mengetahui kemana dana dan amanah publik disalurkan. Namun di banyak kasus, yang terjadi justru bukan transparansi, melainkan eksploitasi. Penerima bantuan ditampilkan secara berlebihan, wajah yang sedang berduka dijadikan latar, air mata dijadikan efek dramatis, dan nama atau gambar pemberi bantuan dibuat sedemikian rupa agar tidak terlupakan. Amal yang seharusnya sunyi justru menjadi paling bising.
Di lapisan yang lebih dalam, muncul fenomena lain yang lebih mengkhawatirkan. Buzzer, influencer, dan jejaring relawan tidak hanya dipakai untuk membangun citra positif, tetapi juga untuk membentengi kesalahan masa lalu. Kesalahan, penyimpangan, atau dosa politik tidak diselesaikan dengan tobat dan koreksi, melainkan dengan merekayasa narasi. Fakta yang merugikan ditenggelamkan, informasi yang menguntungkan diperbesar, dan opini kritis diserang. Seolah-olah sejarah bisa dinegosiasikan ulang hanya dengan kekuatan gempuran konten.
Di titik ini, kabut menjadi semakin pekat. Masyarakat dibuat bingung untuk membedakan antara mana yang sungguh-sungguh dan mana yang sekadar permainan pencitraan. Suara yang paling keras dianggap sebagai kebenaran. Tayangan yang paling sering muncul dianggap sebagai realitas. Padahal bisa jadi yang paling banyak tampil justru yang paling jauh dari ruh keikhlasan.
Fenomena ini tidak sekadar persoalan gaya komunikasi. Ada dimensi moral yang tengah bergeser. Ketika flexing dan hedonisme dijadikan pola hidup, sedangkan pencitraan dijadikan strategi utama dalam meraih dukungan, kehidupan batin pelan-pelan bergeser dari sikap zuhud menuju sikap bangga berlebihan pada dunia. Manusia menjadi lebih takut kehilangan wajah di hadapan publik daripada kehilangan harga diri di hadapan Allah.
Zuhud yang seharusnya mengajarkan pemurnian jiwa tertutup oleh gaya hidup baru yang sepenuhnya duniawi. Jiwa didorong untuk selalu merasa kurang, selalu ingin diperhatikan, selalu ingin dianggap penting. Kesadaran tentang hari pembalasan memudar, tergantikan oleh obsesi terhadap hari “penilaian” di media sosial: berapa banyak like, komentar, dan share yang diperoleh. Dunia tidak lagi sekadar tempat singgah, melainkan diangkat menjadi panggung utama yang menyita seluruh tenaga.
Kabut inilah yang sedang menyelimuti banyak lapisan kehidupan, termasuk birokrasi kekuasaan. Kebenaran yang dahulu dijaga dengan rasa takut kepada Allah kini kerap dinegosiasikan dengan pertimbangan citra. Keputusan yang seharusnya diambil berdasarkan keadilan terkadang ditimbang berdasarkan efek opini publik. Seseorang lebih takut diserang buzzer daripada disalahkan oleh hatinya sendiri.
Ruh zuhud yang hidup dalam diri Umar bin Khattab dan figur-figur seperti Pak Hoegeng menjadi kontras yang menyakitkan ketika ditempatkan di samping realitas ini. Satu sisi menunjukkan pemimpin yang rela kehilangan dunia demi menjaga kebenaran. Sisi lain memperlihatkan wajah zaman yang rela mengorbankan kebenaran demi mempertahankan dunia. Dari pertentangan inilah tulisan ini melangkah ke pertanyaan berikut: bagaimana kabut ini melukai ruang batin individu dan merusak etika birokrasi kekuasaan, serta sejauh mana umat ini masih memiliki keberanian untuk menyingkap kabut itu dengan kembali kepada ruh zuhud dan kesadaran hari pembalasan.

Zuhud yang Tersisih: Luka di Ruang Batin dan Ruang Birokrasi

Ilustrasi birokrasi dan ekonomi pencitraan. Foto: CrizzyStudio/Shutterstock
Kabut flexing, hedonisme, dan ekonomi pencitraan pada akhirnya tidak hanya mengubah wajah ruang publik. Ada luka yang jauh lebih dalam yang perlahan terbentuk: luka di ruang batin individu dan kerusakan etika di ruang birokrasi kekuasaan. Luka ini tidak selalu tampak kasat mata, namun pelan-pelan menggerus kesehatan jiwa dan merusak bangunan keadaban.
Ruang batin manusia pada fitrahnya mendamba ketenangan. Hati merasa tenteram ketika merasa cukup, ketika merasa dilihat Allah, ketika amal baik boleh tetap sunyi. Budaya pamer dan kebiasaan hidup dalam sorotan memaksa hati bergerak ke arah sebaliknya. Banyak orang hidup dengan dua beban sekaligus: beban memenuhi kebutuhan nyata dan beban memenuhi standar tampilan. Yang pertama sudah cukup berat, yang kedua sering jauh lebih menghimpit.
Muncul generasi yang lelah tetapi tidak pernah mengaku lelah. Penampilan harus selalu meyakinkan, unggahan harus selalu tampak bahagia, gaya hidup harus selalu seirama dengan citra yang telah terlanjur dibangun. Hati kehilangan ruang untuk jujur kepada diri sendiri. Kesederhanaan yang sejatinya menyehatkan berubah menjadi sesuatu yang dianggap memalukan. Rasa cukup tergeser oleh rasa takut tidak dianggap berhasil.
Di titik ini, zuhud tersisih dari ruang batin. Hati tidak lagi berlatih mengatakan “cukup” di hadapan nikmat, tetapi terus dipacu untuk mengejar level berikutnya. Ukuran keberhasilan bergeser dari kedalaman makna hidup menjadi luasnya pengakuan sosial. Manusia lebih sibuk memoles permukaan daripada mengobati kedalaman. Kesadaran tentang hari pembalasan surut ke belakang kepala, sementara kesadaran tentang “penilaian” publik setiap hari menguasai pikiran.
Luka yang sama masuk ke ruang birokrasi kekuasaan, hanya dalam bentuk yang lebih sistemik. Jabatan publik pada hakikatnya merupakan amanah untuk menegakkan kebenaran dan melindungi kepentingan masyarakat. Tanpa ruh zuhud, jabatan berubah menjadi panggung untuk mengokohkan diri. Indikator kinerja menyempit menjadi seberapa sering tampil di media, seberapa kuat narasi yang mendukung citra, dan seberapa efektif pasukan digital dalam menekan kritik.
Pada titik ini, pedoman Al-Qur’an tentang amanah dan keadilan seharusnya kembali dihadirkan:
Dalam situasi seperti ini, setiap keputusan mudah digoda untuk ditimbang dari sudut pandang pencitraan, bukan dari sudut pandang keadilan. Kebijakan yang keras terhadap pelanggaran dapat ditahan karena berisiko menimbulkan resistensi opini. Sebaliknya, kebijakan yang populis dan manis di permukaan didahulukan walaupun tidak menyentuh akar masalah. Birokrasi yang seharusnya bekerja berdasarkan prinsip objektif perlahan bergerak mengikuti arus selera publik yang dibentuk oleh narasi.
Keberanian moral ikut tergerus. Pemimpin yang seharusnya berdiri tegak di tengah badai justru cenderung mencari posisi aman di balik selimut citra. Pengakuan kesalahan dianggap kelemahan, koreksi diri dianggap bunuh diri politik. Ruang bagi tobat sosial mengecil, sementara ruang bagi pembenaran diri melebar leluasa. Di sinilah tampak perbedaan tajam dengan ruh zuhud. Pemimpin yang zuhud berani kehilangan sebagian citra demi menjaga keridhaan Allah. Pemimpin yang larut dalam kabut justru rela mengorbankan kebenaran demi mempertahankan citra.
Pada saat yang sama, Allah mengingatkan agar pengkhianatan terhadap amanah—baik kepada Allah, Rasul, maupun kepada tanggung jawab duniawi—dihindari:
Luka etika birokrasi bertambah dalam ketika buzzer, influencer, dan jejaring pendukung dijadikan instrumen resmi maupun tidak resmi dalam mengatur persepsi publik. Kritik substantif diserang, pembawa pesan dibungkam, sementara substansi masalah dibiarkan. Keberpihakan pada kebenaran digeser menjadi keberpihakan pada narasi. Hukum kehilangan wibawa ketika pelanggaran tidak dihadapi dengan sikap lurus, melainkan dinegosiasikan di ruang opini.
Kondisi ini menciptakan dua lapis realitas. Pada lapisan permukaan, tampak seolah-olah semuanya baik-baik saja: laporan tersusun rapi, tayangan program mengalir, angka-angka keberhasilan dipublikasikan. Pada lapisan bawah, masyarakat merasakan ketidakadilan, menyaksikan inkonsistensi, dan mencatat jejak yang tidak bisa disapu oleh gempuran konten. Kesenjangan antara citra dan kenyataan inilah yang pelan-pelan menggerogoti kepercayaan publik.
Zuhud yang tersisih membuat struktur kekuasaan kehilangan satu kompas batin yang sangat penting. Tanpa kemampuan menjaga jarak hati dari gemerlap dunia, pejabat dan pemegang amanah mudah tergelincir ke dalam pola pikir “asal selamat di mata manusia”. Padahal ukuran sejati bukanlah berapa lama seseorang bertahan di jabatan, melainkan seberapa bersih ia bisa mempertanggungjawabkan amanah di hadapan Allah nanti.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan pedih namun perlu dihadapi:
Pertanyaan seperti ini sebenarnya bertujuan mengembalikan ruh zuhud ke meja kerja, ke ruang rapat, dan ke dalam hati para pemegang amanah.
Luka di ruang batin dan kerusakan di ruang birokrasi kekuasaan tidak akan sembuh hanya dengan slogan dan kampanye moral. Diperlukan keberanian untuk menyingkap kabut, mengakui bahwa sebagian gaya hidup dan pola kerja yang selama ini dianggap wajar sesungguhnya telah menjauhkan kita dari sikap zuhud dan dari kesadaran hari pembalasan. Dari sinilah kebutuhan akan pemurnian niat menjadi sangat mendesak, baik pada tingkat pribadi maupun kelembagaan.

Menyingkap Kabut: Jalan Kembali kepada Zuhud di Era Digital

Ilustrasi kabut. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Kabut yang menutup zuhud tidak akan sirna hanya dengan kemarahan kepada zaman. Teknologi tidak mungkin diputar mundur. Media sosial tidak mungkin dihapus begitu saja. Flexing dan hedonisme tidak akan hilang hanya dengan ceramah keras. Jalan kembali memerlukan kerja yang lebih halus: pemurnian niat, penataan cara pandang, serta keberanian mengoreksi diri di tengah arus yang bergerak ke arah sebaliknya.
Langkah pertama bermula di ruang paling kecil: hati sendiri. Zuhud di era digital bukan berarti memusnahkan jejak dari ruang publik, tetapi menata ulang hubungan dengan dunia. Setiap kali tangan hendak mengunggah sesuatu, pertanyaan yang perlu diajukan sangat sederhana: “Untuk apa ini ditampilkan?” Bila jawabannya cenderung berkisar pada keinginan dikagumi, merasa lebih tinggi, atau menutup kekurangan dengan tampilan semu, alarm batin seharusnya menyala. Hati yang terlatih dengan ruh zuhud justru akan merasa cukup meski sebagian amal kebaikannya tidak diketahui siapa pun selain Allah.
Seruan untuk melihat kembali ke dalam diri sebelum melihat ke luar telah ditegaskan oleh Al-Qur’an:
Kesederhanaan pilihan sehari-hari memiliki dampak besar. Menahan diri dari kebiasaan pamer, memilih gaya hidup yang proporsional, mengurangi ketergantungan pada pengakuan digital, serta menempatkan keberhasilan di hadapan Allah lebih tinggi daripada keberhasilan di hadapan pengikut adalah bentuk-bentuk praktis zuhud. Ketenangan batin lebih mungkin tumbuh ketika standar bahagia bergeser dari “dipandang berhasil” menjadi “diridhai Allah”.
Di tingkat kepemimpinan dan jabatan publik, ruh zuhud perlu dikembalikan sebagai salah satu kompas utama. Pemimpin yang zuhud bukan pemimpin yang anti-publikasi, melainkan pemimpin yang menolak menjadikan publikasi sebagai tujuan utama. Transparansi tetap dijalankan, laporan kinerja tetap disampaikan, program tetap dikomunikasikan. Namun orientasinya adalah akuntabilitas, bukan pencitraan. Amal sosial tidak diatur untuk memaksimalkan sudut kamera, tetapi untuk memaksimalkan manfaat bagi yang membutuhkan.
Sikap ini menuntut keberanian moral. Seorang pejabat yang zuhud akan lebih siap mengatakan, “Saya salah,” daripada menyusun barisan pasukan digital untuk membenarkan diri. Ia akan lebih takut kepada catatan di hadapan Allah daripada arsip pemberitaan. Ia memahami bahwa jabatan memiliki dua ujung: bisa menjadi jalan cepat menuju kemuliaan akhirat bila dijalankan dengan amanah, bisa juga menjadi jalan tercepat menuju kehinaan bila dipakai untuk memupuk kesombongan. Kesadaran ini sulit tumbuh tanpa ruh zuhud yang menahan hati dari berlebihan mencintai dunia.
Dimensi lain yang sangat menentukan adalah pendidikan generasi baru. Cucu-cucu yang malam ini mendengarkan kisah Umar bin Khattab akan tumbuh di tengah dunia yang setiap hari menawarkan idola-idola baru. Ada risiko besar bila mereka hanya mengenal pemimpin zuhud dari cerita lisan, sementara panutan nyata yang mereka lihat di layar diukur dari seberapa mewah gaya hidupnya. Keteladanan sejarah akan terasa jauh, sedangkan teladan palsu tampak sangat dekat.
Peran orang tua dan kakek-nenek menjadi sangat penting. Cerita tentang Umar, tentang Rasulullah ﷺ, dan tentang figur-figur zuhud seperti Pak Hoegeng perlu dihadirkan bukan hanya sebagai nostalgia, melainkan sebagai standar nilai. Anak perlu diajak berbicara tentang makna sederhana, tentang keberanian berkata jujur, tentang kehormatan yang tidak bergantung pada barang yang dipakai atau tempat yang dikunjungi. Hati mereka perlu dibimbing agar mengagumi orang yang berintegritas, bukan orang yang paling sering muncul di trending topic.
Lingkaran berikutnya adalah peran ulama, cendekiawan, dan tokoh publik. Suara mereka masih memiliki bobot dalam membentuk cara pandang masyarakat. Keberpihakan mereka kepada ruh zuhud memiliki konsekuensi yang tidak kecil. Ketika mereka ikut larut dalam budaya pamer dan pencitraan, masyarakat kehilangan rujukan moral. Namun ketika mereka teguh mengingatkan bahwa dunia hanyalah permainan yang memperdaya bila tidak ditempatkan pada posisinya, kabut mulai menipis.
Dalam konteks ini, peringatan Allah tentang wajah asli kehidupan dunia kembali relevan untuk digarisbawahi:
Masyarakat juga perlu didorong memiliki keberanian bersikap kritis terhadap budaya pencitraan. Tidak setiap tayangan sedekah harus dikagumi. Tidak setiap program yang tampak hebat di layar harus diterima tanpa diuji. Masyarakat yang melek ruh zuhud akan lebih tertarik pada substansi daripada kemasan. Mereka akan bertanya: “Apa dampaknya bagi keadilan?” bukan sekadar “Seberapa hebat tampilan acaranya?”.
Jalan kembali kepada zuhud di era digital tidak berarti mengajak manusia mundur dari peradaban. Arah yang diharapkan justru kebalikannya: umat ini tetap maju dalam ilmu, teknologi, dan tata kelola, tetapi tidak kehilangan kemampuan untuk menundukkan dunia di hadapan Allah.

Menjaga Cahaya Zuhud di Tengah Gemerlap dan Kabut

Pengunjung antre untuk berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar as Siddiq, dan Umar bin Kattab di Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi, Minggu (23/10/2022). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO
Kisah sebelum tidur bersama cucu tentang Umar bin Khattab ternyata bukan sekadar momen keluarga. Cerita itu berubah menjadi cermin yang memantulkan wajah zaman. Di satu sisi, terpampang sosok pemimpin yang zuhud, memegang kekuasaan besar namun tetap sederhana, berani, dan takut kepada Allah. Di sisi lain, terhampar realitas kontemporer yang sarat flexing, hedonisme, dan pencitraan yang menjadikan dunia sebagai panggung utama kebanggaan.
Pertemuan dua dunia inilah yang melahirkan kegelisahan: zuhud masih hidup dalam kisah, tetapi sering redup dalam praktik. Ruh zuhud yang seharusnya menjadi tulang punggung keikhlasan tertutup oleh kabut tebal budaya pamer dan industri citra. Banyak orang, termasuk yang memegang amanah publik, lebih sibuk menjaga nama di hadapan manusia daripada menjaga catatan di hadapan Allah.
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengadili siapa pun, tetapi untuk mengajak bercermin. Setiap orang memiliki lingkaran pengaruh, memiliki ruang keputusan, dan memiliki peluang untuk menyingkap kabut di sekelilingnya. Seorang kakek bisa memulainya dari cerita yang jujur kepada cucunya. Seorang pejabat bisa memulainya dari keberanian mengambil keputusan yang lurus meskipun tidak populer. Seorang pengusaha bisa memulainya dari komitmen mengelola rezeki secara halal dan proporsional. Seorang influencer bisa memulainya dari tekad untuk tidak menjadikan semua hal sebagai panggung pamer.
Zuhud pada akhirnya bukan konsep melayang di awan. Zuhud adalah cara hati memandang dunia. Hati yang zuhud tidak anti-kemajuan, tidak anti-kekuasaan, tidak anti-kekayaan. Hati yang zuhud justru mampu memanfaatkan semuanya tanpa diperbudak oleh salah satunya. Dunia diletakkan di tangan, bukan di dada. Kehormatan dicari di sisi Allah, bukan di kolom komentar.
Pada ujung segala perjalanan, Al-Qur’an mengingatkan ukuran keberuntungan yang sesungguhnya:
Kabut zaman mungkin semakin pekat. Gemerlap dunia mungkin semakin terang. Namun cahaya zuhud tidak pernah benar-benar padam. Cahaya itu ada di dalam hati orang-orang yang tetap takut kepada Allah meski memiliki banyak kesempatan untuk memamerkan diri. Ada di dalam diri pemegang amanah yang tetap memilih kejujuran meski harus kehilangan sebagian dukungan. Ada di dalam langkah kecil setiap orang yang berusaha menata niat sebelum bertindak.
Harapannya sederhana namun besar: semoga generasi yang hari ini mendengarkan kisah Umar bin Khattab dan mengenal figur zuhud seperti Pak Hoegeng tidak berhenti pada rasa kagum. Semoga mereka tumbuh menjadi generasi yang berani hidup wajar di tengah budaya pamer, berani jujur di tengah industri pencitraan, dan berani memilih ridha Allah di atas semua bentuk tepuk tangan manusia.
Zuhud yang tertutup kabut masih bisa disingkap. Syaratnya hanya satu: keberanian untuk mengakui bahwa dunia bukan tujuan akhir.
Hari pembalasan akan datang, dan pada hari itu kabut apa pun tidak lagi berguna.
Yang tersisa hanyalah sejauh mana hati pernah berusaha menjaga jarak dari dunia demi mendekat kepada Allah.
Wallahualam bishawab
Trending Now