Konten dari Pengguna
Jago Nasihati Orang, Kok Urusan Sendiri Hancur? Ini Kata Psikologi!
16 Juli 2025 14:02 WIB
Β·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Jago Nasihati Orang, Kok Urusan Sendiri Hancur? Ini Kata Psikologi!
Mengapa kita cerdas memberi nasihat tapi gagal untuk diri sendiri? Artikel ini bedah "Paradoks Salomo" & temuan Winkler dalam psikologi tentang kekuatan memberi nasihat demi solusi masalah pribadiArif Furqhan
Tulisan dari Arif Furqhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah Anda bertemu dengan seorang teman yang sangat bisa diandalkan dalam urusan asmara tetapi kisah cintanya sendiri tak seindah saran yang ia berikan? Atau justru Anda pun adalah seorang yang demikian?
Ini secara gamblang terdeteksi dalam kajian psikologi sebagai bagian dari apa yang disebut "Paradoks Salomo". Grossman et.al. (2014) menjelaskan bahwa paradoks salomo adalah kecenderungan manusia untuk dapat berpikir dan memberi nasihat secara bijaksana mengenai masalah orang lain, namun gagal menunjukkan kebijaksanaan yang sama ketika dihadapkan pada masalah pribadi.
Tidak sedikit penelitian yang telah dilakukan untuk mengkaji paradoks ini lebih lanjut. Tujuannya agar khalayak banyak dapat memahami apa pengaruh nyata dari paradoks ini hingga solusi yang dapat diterapkan supaya terhindar dari paradoks yang terinspirasi dari sosok raja paling bijaksana sepanjang sejarah manusia tersebut.
Mengenal Apa itu Paradoks Salomo
Ya, nama paradoks ini memang diambil dari figur bijaksana yang dimuat dalam kitab suci umat Kristen dan Yahudi, Raja Salomo. Dalam kisahnya, Raja Salomo diceritakan sebagai sosok raja yang sangat bijaksana dalam menyelesaikan masalah yang menimpa rakyatnya. Namun dalam kehidupan kerajaan sang raja, terdapat masalah rumah tangga yang penyelesaiannya tidak sebijak apa yang ia lakukan terhadap rakyatnya. Kisah inilah yang melatarbelakangi penamaan paradoks ini.
Istilah Paradoks Salomo (Solomon Paradoks) diperkenalkan pertama kali oleh Dr. Igor Grossmann, seorang psikolog dari University of Waterloo, Kanada, bersama rekannya Ethan Kross. Mulanya, Grossmann dan Kross melakukan penelitian terhadap dua tim: Tim A sebagai tim yang merenungkan permasalahan tentang perselingkuhan yang dialami mereka sendiri, dan Tim B yang merenungkan permasalahan tentang perselingkuhan yang dialami oleh sahabatnya.
Hasil penelitian menunjukkan Tim B lebih mungkin untuk memberikan penalaran yang jauh lebih bijaksana, dengan mempertimbangkan perspektif orang lain, mengakui keterbatasan pengetahuan mereka, serta mencari kompromi atau solusi yang lebih ekspansif. Di sisi lain, Tim A menunjukkan tren sebaliknya dengan pemikiran yang lebih sempit disertai bias emosional dalam mempertimbangkan keputusan. Penelitian ini dapat ditemukan dalam Jurnal Psychological Science yang terbit pada tahun 2014 volume 25.
Privilege Orang Ketiga dalam Pencarian Solusi
Kita beralih pada pertanyaan berikutnya; mengapa hal semacam ini bisa terjadi?
Ketika seseorang diminta untuk mencarikan solusi dari permasalahan yang dialami oleh orang lain, maka ia berada pada posisi yang mendapatkan "hak istimewa"untuk tetap berdiri pada objektivitas dan solusi dari permasalahan itu sendiri. Inilah yang dalam psikologi dikenal sebagai jarak psikologis. Kita akan terhindar dari bias emosional, sebab bukan kita yang mengalaminya. Sama halnya ketika Anda diminta untuk memutuskan pakaian apa yang akan digunakan oleh teman Anda ke pesta, itu jauh lebih mudah dan menghemat waktu daripada memutuskan sendiri pakaian yang Anda gunakan ke pesta yang sama, bukan?
Jarak psikologis berperan penting dalam menciptakan keputusan yang tidak disertai beban kognitif, bias diri untuk divalidasi secara benar, serta tetap berdiri pada objektivitas yang terkonsentrasi dalam pencarian solusi.
Orang-Orang Cenderung Tidak Belajar dari Masalah Mereka Sendiri
Kita telah melihat bagaimana privilege orang ketiga dan jarak psikologis memberikan keunggulan dalam menemukan solusi. Namun, ada fakta lain yang tak kalah mengejutkan: orang-orang justru cenderung tidak belajar dari masalah mereka sendiri. Lauren Eskreis-Winkler, seorang psikolog dari University of Pennsylvania bersama rekan-rekannya melakukan penelitian tentang bagaimana orang-orang tampaknya tidak belajar dari masalahnya sendiri dan lebih persuasif untuk memberikan nasihat dari masalah orang lain. Penelitian tentang fenomena tersebut diberi tajuk "Not Learning From FailureβThe Greatest Failure of All" (2019).
Kecenderungan untuk tidak belajar dari masalah sendiri dan lebih tertarik mengambil pelajaran dari masalah orang lain ditafsirkan Winkler sebagai mekanisme pertahanan psikologis. Ketika seseorang berusaha mengambil pelajaran dari masalah yang ia alami, terdapat ancaman ego yang akan membawa narasi harga diri yang terkisis apabila seseorang berada pada tahap kegagalan. Berbeda halnya ketika orang tersebut mengamati kegagalan orang lain. Ia dapat secara leluasa mengambil pelajaran sebanyak mungkin karena isu ego tidak lagi berlaku.
Memberikan Nasihat adalah Tempat Mengambil Pelajaran Terbaik!
Penelitian lain dari Winkler dan rekannya yang tak kalah menarik adalah The Giving Advice Effect (efek memberikan nasihat).Ketika seseorang memberikan nasihat kepada orang lain, secara psikologis dirinya akan mendapatkan motivasi diri untuk melakukan hal yang sama. Hasil penelitian yang dimuat dalam penelitiannya seperti siswa tingkat menengah atas yang diminta untuk memberikan nasihat akademik kepada adik kelasnya menunjukkan tren peningkatan nilai ujian akhir yang lebih baik.
Di sini, Winkler menggarisbawahi bagaimana pemberian nasihat tidak terlepas dari pertimbangan-pertimbangan dalam mengatur strategi yang cantik. Orang-orang juga mendapatkan tekanan sosial yang telah dirumuskan oleh otak secara alami untuk tidak menjadi "NATO" (No Action Talk Only). Sebagai bentuk pembuktian 'nasihat ini adalah benar', maka orang yang memberi nasihat juga terdorong untuk melakukan hal yang sama.
Sebuah Penelitian lain dilakukan di Peru dengan pengamatan terhadap guru-guru yang diminta memberikan rekomendasi sekolah terbaik untuk mengajar kepada rekan sejawatnya. Guru yang memberikan rekomendasi dan nasihat justru punya kecenderungan untuk memilih mengajar di sekolah-sekolah terpencil dan sulit dijangkau. Ini memperlihatkan bagaimana memberikan saran secara langsung meningkatkan kepercayaan diri dalam mengukur kompetensi pribadi.
Sebuah desain belajar dari masalah yang jauh lebih efektif pun tercipta, yakni dengan menciptakan strategi terbaik untuk masalah orang lain dan sadari bagaimana kita mendapatkan pelajaran ketika kita memberikan pelajaran!
Sebagai penutup, artikel ini mengajak kita untuk secara langsung terlibat dalam nasihat-nasihat baik yang telah kita lakukan. Nasihat-nasihat yang kita buat untuk orang lain telah melewati berbagai pertimbangan dengan kemampuan kognitif yang luar biasa. Jika masalah orang lain bisa diselesaikan dengan jarak psikologis, kita juga harusnya mampu menciptakan keputusan yang lebih objektif untuk masalah sendiri.
Referensi:
Grossmann, I., & Kross, E. (2014). Exploring Solomonβs Paradox: Self-Distancing Improves Wiley Reasoning in Daily Life. Psychological Science, 25(8), 1568β1576. https://doi.org/10.1177/0956797614535400
Konnikova, M. (2014, Juni 12). The Psychological Distance of Solitude. The New Yorker. Diakses dari https://www.newyorker.com/science/maria-konnikova/psychological-distance-solitude
Kross, E., Bruehlman-Senecal, E., Park, J., Burson, A., Dougherty, A., Shablack, H., ... & Ayduk, O. (2014). Self-talk as a regulatory mechanism: how you do it matters. Journal of Personality and Social Psychology, 106(2), 304β324. https://doi.org/10.1037/a0035173
Robson, D. (2014, Agustus 19). The simple trick that can make you instantly wiser. BBC Future. Diakses dari https://www.bbc.com/future/article/20140819-the-secret-to-instant-wisdom

