Konten dari Pengguna

Membedah Praktik 'Orang Pintar' dengan Pendekatan Medis dan Psikologi Positif

Arif Furqhan
Mahasiswa Antropologi Sosial, Universitas Andalas, Sertifikasi Psikologi Positif dari University of Pennsylvania
3 Agustus 2025 14:27 WIB
·
waktu baca 7 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Membedah Praktik 'Orang Pintar' dengan Pendekatan Medis dan Psikologi Positif
Ketika sains dan kearifan lokal bertemu. Mengapa 'orang pintar' bisa menyembuhkan? Bukan sihir, tapi plasebo, psikologi, dan kekuatan keyakinan. Baca selengkapnya untuk membongkar rahasia di baliknya!
Arif Furqhan
Tulisan dari Arif Furqhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi praktisi tradisional yang sedang mengobati pasiennya. (sumber: gemini.ai, https://https://gemini.google.com/app/6c35f4fc74589c23?utm_source=app_launcher&utm_medium=owned&utm_campaign=base_all)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi praktisi tradisional yang sedang mengobati pasiennya. (sumber: gemini.ai, https://https://gemini.google.com/app/6c35f4fc74589c23?utm_source=app_launcher&utm_medium=owned&utm_campaign=base_all)
Tidak asing di telinga kita, ketika kerabat yang sakit bertahun-tahun lamanya tiba-tiba merasa lebih baik setelah melakukan pengobatan kepada ‘orang pintar’. Ada pula seorang teman yang sulit tidur, akhirnya bisa tertidur pulas setelah pulang membawa jinjingan air doa. Keduanya tidak datang kepada seorang dokter spesialis lulusan Fakultas Kedokteran terkenal. Bukan pula melakukan teknik pengobatan berteknologi canggih yang membutuhkan biaya mahal. Lalu, mengapa ‘orang pintar’ ini bisa menyembuhkan pasiennya bahkan hanya di balik rumah sederhana tanpa perlu sebuah stetoskop di dalamnya?
Fenomena penyembuhan oleh dukun atau praktisi tradisional tampaknya sudah menjadi lanskap yang sangat sulit dipisahkan dari budaya kita. Tentu saja ada respon yang beragam dari masyarakat. sebagian mempercayainya dan menganggapnya sebagai keajaiban supranatural, tetapi tidak sedikit yang menganggapnya sebagai praktik penipuan. Jawaban dari fenomena ini tidaklah sederhana, bahkan kita dapat memposisikan diri pada kenyataan di mana terdapat titik temu yang menakjubkan antara kearifan lokal, kekuatan pikiran, dan ilmu pengetahuan modern.
Mengenal "Efek Plasebo"
Kunci pertama untuk membedah fenomena ini adalah apa yang disebut di dunia medis sebagai ‘Efek Plasebo’. Istilah ini muncul pertama kali di dalam buku klasik berjudul The Powerful Placebo (1955) yang ditulis oleh Henry K. Beecher. Di dalamnya, Beecher mengklaim lebih dari sepertiga pasiennya sembuh dengan hanya menggunakan Plasebo. Menurut Kaptchuck (2015), Efek Plasebo merupakan cara otak memberitahu kepada tubuh apa yang dibutuhkan agar merasa lebih baik. Plasebo dalam dunia medis sering diartikan sebagai ‘obat palsu’ yang prinsip utamanya adalah memainkan sugesti seseorang bahwa obat ini dapat menyembuhkan penyakitnya. Obat palsu ini tidak sepenuhnya kosong atau khayalan, ia mendorong keyakinan yang melepaskan zat-zat neurotransmitter pada otak seperti endorfin yang meredakan rasa nyeri atau dopamin yang meningkatkan suasana hati sehingga pasien merasakan diri yang lebih baik.
Tidak perlu seorang dokter untuk menghadirkan Efek Plasebo. Praktisi tradisional, secara sadar maupun tidak, merupakan salah seorang maestro dalam mengorkestrasi panggung yang sempurna untuk memicu Efek Plasebo ini. Kita bisa menyelidiki keulungan sang dukun ini dalam menyembuhkan pasiennya melalui beberapa langkah yang dapat kita jabarkan sebagai berikut.
1. Sang dukun punya otoritas dan kepercayaan. Kenapa kita bisa percaya orang asing adalah seorang dokter? Entah itu dengan gelar atau status yang ia bawa, jas putih yang dikenakan, atau informasi yang kita temukan di tengah masyarakat. Bagi Erving Goffman dalam Teori Dramaturgi (1959) yang ia kemukakan, setiap individu adalah aktor dalam panggung yang memainkan peran sosial untuk menampilkan citra diri yang diinginkan kepada penonton. Dukun membangun reputasi dengan cara yang sama. Ketika seorang tetangga sembuh dari sakit menahunnya dengan berobat kepada dukun yang kemudian ia membagikan testimoninya pada khalayak banyak, reputasi dukun akan meningkat. Akhirnya sang dukun mendapatkan status budaya seperti gelar ‘sesepuh’ atau ‘orang pintar’. Terkadang untuk memperkuat identitasnya, sang dukun akan membawa antribut-atribut tertentu seperti ruangan khusus, pakaian khas, hingga benda-benda pusaka agar pasien percaya sepenuhnya yang akan membuka gerbang sugesti dan Efek Plasebo.
2. Media komunikasi melalui ritual-ritual. Dukun menggunakan serangkaian tindakan terstruktur, mulai dari membaca mantra, memberikan air doa, atau meminta pasien melalukan ritual tertentu seperti mandi kembang. Sebagaimana disinggung oleh Catherine Bell (1992) tentang Teori Praktik Ritual, tindakan ini berada pada posisi yang lebih memberi makna dan kekuatan pada sebuah peristiwa karena tindakan yang tidak umum ditemukan tetapi dilakukan secara terstruktur dan berulang.
3. Narasi dan pemberian makna. Ketika dokter menggunakan mode paradigmatik atau menggunakan pemaparan yang logis, analitis, serta mencari kebenaran yang bersifat universal, Dukun adalah master yang berkecimpung dalam penjelasan penyakit secara naratif. Dukun mampu memberikan pemaparan penyakit pasien dalam bentuk cerita yang sesuai dengan budaya setempat. Contohnya pada masyarakat yang religius, narasi terkena sihir atau guna-guna akan lebih umum ditemukan. Menurut Bruner (1990), narasi adalah cara fundamental manusia untuk mengatasi kekacauan dan penderitaan. Narasi yang diberikan dukun senantiasa koheren dan mampu mengubah penyakit yang terasa acak dan menakutkan menjadi sebuah masalah yang dapat dipahami dan memiliki alur penyelesaian. Pasien akhirnya diberikan kontrol dan makna, yang sangat krusial bagi penyembuhan psikologis.
4. Komunikasi dibangun dengan penuh sugesti dan empati. Dukun mendengarkan dengan penuh perhatian dan menggunakan kalimat-kalimat yang menanamkan harapan hingga menjanjikan kesembuhan. Ted Kaptchuk sebagai peneliti plasebo terkemuka bersama timnya, pernah menerbitkan jurnal pada tahun 2008 dengan judul Components of placebo effect: randomised controlled trial in patients with irritable bowel syndrome. Studi ini secara gamblang menunjukkan bahwa pasien yang menerima perlakuan dari praktisi yang hangat, empatik, dan mendengarkan dengan saksama menunjukkan adanya perbaikan gejala yang jauh lebih signifikan. Secara empiris, studi ini mengungkap bagaimana kualitas dari hubungan terapeutik merupakan komponen yang tidak bisa dilepaskan dari praktik penyembuhan itu sendiri.
Praktek Perdukunan dalam Kajian Psikologi Positif
Jika plasebo ditempatkan sebagai mekanisme biologisnya, ada satu obat lain yang menjadi perangkat lunak untuk menjalankan mekanisme ini, yakni Psikologi Positif. Subbidang keilmuan psikologi ini terkonsentrasi pada apa yang membuat manusia tangguh dan berkembang. Lagi, meskipun dukun tidak mesti merupakan lulusan Ilmu Psikologi, ia adalah sosok praktisi intuitif dari ilmu ini.
Mereka tidak sekadar menghilangkan gejala (bukan penyakit), tetapi membangun kekuatan dari dalam. Mereka mengganti rasa takut dan putus asa dengan secercah harapan untuk sembuh yang membangun optimisme. Salah satu studi klasik yang dapat disandingkan dengan fenomena ini adalah penelitian oleh ahli Scheier dan Carver (1989) terhadap pasien sebelum mereka menjalani operasi jantung bypass koroner. Temuan ini mengungkap pasien yang memiliki optimisme lebih tinggi menunjukkan laju pemulihan fisik yang lebih cepat sampai-sampai melaporkan kehidupan yang lebih baik. Apa yang dilakukan oleh dukun sama halnya, yakni dengan menyuntikkan optimisme dan harapan pada pasien.
Tak jarang, dukun memberikan narasi yang membingkai ulang penyakit sebagai sesuatu yang bermakna. Pasien tidak ditinggalkan begitu saja dalam kehampaan. Narasi kuat yang diberikan dukun mampu menciptakan tujuan hidup jangka pendek yang sangat kuat bagi pasien. Dalam jurnal Archives of Psychiatry yang ditulis oleh Patricia A. Boyle dan rekan-rekannya pada tahun 2012 menjelaskan bagaimana tujuan hidup yang tinggi memiliki risiko kematian 57% lebih rendah selama periode studi lima tahun. Temuan ini semakin memperkuat bagaimana pasien sang dukun benar-benar berada pada ketahanan tubuh yang meningkat dan melindungi merkea dari kemerosotan kesehatan.
Komunikasi yang dibangun antara dukun dan pasien ikut memainkan peran vital dalam penyembuhan. Hubungan yang sangat personal, empatik, dan suportif membuat pasien merasa didengarkan dan tidak sendirian. Praktik dukun secara inheren tidak terpaku pada pemberian obat, melainkan pembentukan aliansi terapeutik yang kuat untuk penyembuhan. Dari temuan Holt-Lunstad dkk. (2010), mereka yang punya hubungan sosial yang kuat bahkan memiliki penurunan risiko kematian setara dengan berhenti merokok hingga lebih besar dampaknya dari mengatasi obesitas atau polusi udara. Artinya, hubungan sosial yang baik merupakan intervensi kesehatan yang manjur yang justru mampu melawan efek negatif yang sering menyertai penyakit.
Pada akhirnya, memandang praktik dukung melalui kacamata sains tidak bermaksud untuk meremehkannya, melainkan untuk menghargainya dari sudut pandang yang berbeda. Fenomena ini bukanlah tentang pertempuran antara sihir melawan sains, melainkan sebuah demonstrasi luar biasa tentang betapa eratnya hubungan antara pikiran, tubuh, budaya, dan keyakinan. Praktik penyembuhan tradisional pada akhirnya mengingatkan kembali pada bagian yang terlupakan dalam dunia medis modern, yaitu penyembuhan sejati tidak hanya tentang resep, tetapi juga dari harapan yang ditanamkan, makna yang ditemukan, dan hubungan antar manusia yang dibangun dengan tulus dan suportif. ‘Apotek’ yang ada di dalam otak sendiri juga perlu dioptimalkan di samping berfokus pada apotek yang datang dari luar.
Referensi:
Bell, C. (1992). Ritual theory, ritual practice. Oxford University Press.
Boyle, P. A., Barnes, L. L., Buchman, A. S., & Bennett, D. A. (2009). Purpose in life is associated with mortality among community-dwelling older persons. Psychosomatic Medicine, 71(5), 574–579. https://doi.org/10.1097/PSY.0b013e3181a5a7c0
Bruner, J. (1990). Acts of meaning. Harvard University Press.
Goffman, E. (1959). The presentation of self in everyday life. Doubleday Anchor Books.
Holt-Lunstad, J., Smith, T. B., & Layton, J. B. (2010). Social relationships and mortality risk: A meta-analytic review. PLoS Medicine, 7(7), e1000316. https://doi.org/10.1371/journal.pmed.1000316
Kaptchuk, T. J., Kelley, J. M., Conboy, L. A., Davis, R. B., Kerr, C. E., Jacobson, E. E., Kirsch, I., Schyner, R. N., Nam, B. H., Nguyen, L. T., Park, M., Rivers, A. L., McManus, C., & Singer, T. D. (2008). Components of placebo effect: Randomised controlled trial in patients with irritable bowel syndrome. BMJ, 336(7651), 999–1003. https://doi.org/10.1136/bmj.39524.439225.BE
Scheier, M. F., Matthews, K. A., Owens, J. F., Magovern, G. J., Sr., Lefebvre, R. C., Abbott, R. A., & Carver, C. S. (1989). Dispositional optimism and recovery from coronary artery bypass surgery: The moderating role of coping. Journal of Personality and Social Psychology, 57(6), 1024–1040. https://doi.org/10.1037/0022-3514.57.6.1024
Trending Now