Konten dari Pengguna
'Mencurigai' Kesopanan melalui Kacamata Budaya Kehormatan
26 November 2025 6:00 WIB
·
waktu baca 6 menit
Kiriman Pengguna
'Mencurigai' Kesopanan melalui Kacamata Budaya Kehormatan
Kesopanan bisa jadi bukan sekadar ramah tamah, tapi strategi bertahan hidup. Artikel ini berusaha menjelaskan bahwa budaya kehormatan diam-diam membentuk cara masyarakat menjaga diri dan martabatnya.Arif Furqhan
Tulisan dari Arif Furqhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Desa Pasar Jujun, Kecamatan Keliling Danau, Kabupaten Kerinci. Ini adalah cinta pertama saya dengan penelitian lapangan berbasis etnografi. Bukan sekadar sebuah pemandangan yang luar biasa yang kami dapatkan, melainkan juga sikap beramah-tamah masyarakat yang membuat pengalaman ini semakin berkesan. Walaupun kami hanya sempat mencicipi serpihan temuan etnografi yang dituangkan dalam laporan untuk ujian akhir semester, semua hal tentang Pasar Jujun benar-benar merupakan memori yang sangat sayang untuk dilupakan.
Perhatian saya pertama kali setelah membangun interaksi sederhana dengan masyarakat lokal adalah tentang bagaimana masyarakatnya begitu ramah; suatu kondisi yang cukup sulit saya dapatkan di sebagian tempat lain. Mulanya, ini tampak sebagai strategi dari membangun citra identitas kepada masyarakat asing. Juga saya sempat berpikir ini ada hubungannya dengan faktor geografis yang berbukit-bukit - mengingat Pasar Jujun adalah satu di antara banyak desa di Kerinci yang dilintasi oleh Pegunungan Bukit Barisan. Namun, teori lain justru menjelaskan mengapa kesopanan di Pasar Jujun layak untuk diselidiki secara kritis: beramah-tamah tampaknya lebih dari sekadar strategi membangun identitas atau pengaruh geografis sebab ada faktor-faktor lain yang lebih menarik untuk dibahas.
Mengenal Culture of Honor (Budaya Kehormatan)
Sebenarnya teori ini belum cukup umum (bahkan mungkin belum dikenal) di ranah antropologi dan kajian etnografi. Culture of Honor adalah teori yang dikemukakan pertama kali oleh psikolog sosial Nisbett & Cohen pada tahun 1996. Mereka melakukan penelitian terhadap masyarakat Amerika Serikat di utara dan selatan yang memiliki pola mata pencarian yang berbeda. Orang-orang di bagian utara adalah para petani yang selalu melakukan panen secara teratur, sedangkan orang-orang di bagian selatan adalah para pengembala yang memiliki ternak dalam jumlah masif dan digembalakan di lereng-lereng gunung.
Secara geografis, perbedaan mata pencarian ini dapat dijelaskan dengan mudah, tetapi penjelasan itu tidak cukup. Namun, ada satu ketimpangan lain yang membuat perbedaan di antara kedua masyarakat tersebut menjadi mencolok: hukum dan keamanan. Masyarakat di selatan seringkali dihadapkan pada pencurian hewan ternak dengan kurangnya perlindungan dari otoritas berwajib dan sulitnya membuat laporan pencurian, sangat berbeda dengan masyarakat di utara. Akhirnya, seperti yang sudah lebih dahulu diduga oleh Nisbett & Cohen, masyarakat selatan membangun apa yang disebut sebagai Culture of Honor (budaya kehormatan).
Teori ini berargumen bahwa masyarakat di selatan yang utamanya beternak dengan harta berada pada material bergerak mengembangkan sikap yang lebih agresif untuk mempertahankan kekayaan dan martabatnya. Mereka menjadi lebih mudah marah ketika martabatnya disinggung. Hal ini turut menjelaskan mengapa tingkat kriminalitas di wilayah bagian selatan Amerika Serikat lebih tinggi dibandingkan bagian utara; sebab ketersinggungan kerap kali berujung pada perilaku fatal lainnya seperti dendam yang berujung perkelahian hingga pembunuhan.
Pembuktian Eksperimental
Eksperimen menarik yang dilakukan oleh Nisbett & Cohen untuk memperkuat teorinya adalah eksperimen lorong yang juga dikenal sebagai the assh*le experiment. Penelitian ini dilakukan pada lorong sebuah ruangan dan membagi relawan ke dalam dua kelompok: kelompok yang mewakili masyarakat bagian utara Amerika serikat dan kelompok yang lainnya mewakili masyarakat bagian selatan.
Para relawan (subjek) diminta melewati lorong secara bergantian. Ketika subjek melewatinya, akan ada asisten peneliti (aktor) yang sengaja menabrakkan bahunya dengan keras terhadap subjek, lalu menatap matanya dan mengatakan kata-kata kasar. Aktor kemudian masuk ke ruang yang lain dengan membanting pintu, meninggalkan subjek dengan perasaan yang campur aduk.
Respon berbeda yang ditampakkan di antara masyarakat utara dan selatan membuat hasil penelitian ini semakin menarik. Subjek yang berasal dari kelompok utara cenderung tidak menanggapinya dengan serius - beberapa relawan bahkan menganggapnya sebagai candaan. Sedangkan relawan dari kelompok selatan memiliki respon yang lebih agresif, tidak segan-segan balik melawan sang aktor, seolah-olah martabatnya sedang dijatuhkan. Sikap ini bahkan didukung oleh relawan lain dari kelompok yang sama yang melihatnya dari ujung ruang yang berbeda.
Nisbett & Cohen juga melakukan pengambilan sampel air liur sebelum dan sesudah eksperimen untuk melihat peningkatan kadar kortisol (hormon stres) dan testosteron (hormon yang mendorong agresifitas) terhadap relawan. Hasilnya, sampel yang diambil dari masyarakat selatan punya lonjakan kortisol dan testosteron yang jauh lebih tinggi dibandingkan masyarakat di utara.
Studi Kasus Beramah-Tamah
Hal lain yang membuat penelitian ini semakin menarik adalah sikap bersopan-santun yang lebih dikenal di masyarakat selatan dibandingkan utara. Menurut Nisbett & Cohen, sikap ramah-tamah pada masyarakat dengan culture of honor adalah 'bantalan' yang ditunjukkan untuk menjaga mereka dari penghinaan. Dalam kata lain, masyarakat ini memperkenalkan dirinya sebagai orang yang baik, tidak patut dicurigai, tidak ingin diserang, dan bermaksud membawa persepsi 'kami tidak akan menyerang, dan mohon jangan serang kami'.
Di semua masyarakat yang memiliki budaya kehormatan, pola yang sama ditemukan. Ramah-tamah merupakan upaya manusia untuk menghindari konflik dan pertumpahan darah yang tidak perlu. Penelitian awal mengenai Culture of Honor menyingkap tentang Southern Hospitality, suatu fenomena ketika orang-orang di selatan senantiasa mengucapkan default respons seperti "Yes Sir, No Ma'am". Tatemae di Jepang, membuat masyarakatnya senantiasa menghormati satu sama lain dengan posisi membungkuk. William Ury bersama rekan-rekannya dari Harvard Law School's Program on Negotiation yang pernah melakukan Abraham Path (perjalanan nabi Ibrahim) pada tahun 2006 - di mana perjalanan ini dilakukan di negara-negara Timur Tengah - dan mendapati orang-orang di sana sangat ramah dengan menjamunya dengan makanan yang luar biasa banyak, bisa dianalisis merupakan contoh culture of honor yang krusial.
Sebagai kesimpulan, setidaknya ada 3 (tiga) faktor ekologi utama yang memengaruhi lahirnya budaya kehormatan, yakni: hukum negara yang lemah (absen); ekonomi pastoral/pengembala dengan aset yang mudah dicuri, dan; sumber daya langka yang menciptakan persaingan yang ketat.
Pada kasus yang disebutkan sebelumnya tentang masyarakat Pasar Jujun, Culture of Honor sangat mungkin tumbuh subur di tengah mereka. Mereka memiliki aset bergerak dengan kerbau-kerbau yang dibiarkan tanpa pengawasan di persawahan. Sumber daya yang tersedia justru sangat kaya, mencakup pertanian, perikanan, hingga jasa, tetapi aset yang mereka miliki termasuk rawan pencurian. Akan tetapi penelitian lapangan kami kala itu tidak sempat melakukan observasi terkait kriminalitas, meski secara garis besar Kabupaten Kerinci punya angka kriminalitas yang relatif rendah dibandingkan kota-kota besar lain di Indonesia (Polres Kerinci, 2024).
Penelitian lebih lanjut mengenai Culture of Honor sangat penting dilakukan mengingat implementasi teori ini di kawasan Asia Tenggara masih minim dengan studi lapangan yang sangat luas. Khusus untuk Pasar Jujun, salah satu pertanyaan vital yang bisa diajukan untuk melanjutkan penelitian seperti "Kalau ada kerbau hilang, biasanya lapor polisi atau diselesaikan di balai adat?"

