Konten dari Pengguna

Leader as Coach: Saat Pemimpin Tak Lagi Mengontrol, Tapi Mengembangkan

DWI ARIFIN
Menganalisis Angka, Menumbuhkan Bisnis, dan Menguatkan Manusia. Saya Dwi Arifin, seorang profesional keuangan yang bertransformasi menjadi Business Growth Partner bagi startup dan UMKM.
4 November 2025 15:21 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Leader as Coach: Saat Pemimpin Tak Lagi Mengontrol, Tapi Mengembangkan
Leader as Coach adalah pendekatan kepemimpinan modern yang menumbuhkan potensi tim melalui coaching. Di dunia bisnis yang berubah cepat, gaya ini membuat organisasi lebih adaptif dan inovatif.
DWI ARIFIN
Tulisan dari DWI ARIFIN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Applied Coaching Certification Program Asia Coach Batch 15
zoom-in-whitePerbesar
Applied Coaching Certification Program Asia Coach Batch 15

Mengapa Pendekatan Leader as Coach Efektif untuk Tim Modern

Leader as Coach menjadi pendekatan kepemimpinan yang semakin relevan di tengah dunia bisnis yang bergerak cepat dan dinamis. Gaya kepemimpinan tradisional yang berorientasi pada instruksi mulai kehilangan daya tariknya. Kini, perusahaan tidak lagi cukup dipimpin oleh figur otoritatif yang hanya memerintah dan mengawasi. Organisasi modern menuntut pemimpin yang mampu menginspirasi, memfasilitasi pembelajaran, dan menumbuhkan potensi terbaik dari setiap individu dalam tim. Inilah esensi dari konsep Leader as Coach, sebuah gaya kepemimpinan yang menempatkan manusia bukan sebagai alat produksi, tetapi sebagai sumber daya kreatif yang layak dikembangkan.
Coaching dalam konteks kepemimpinan bukan sekadar teknik berbicara atau sesi motivasi, melainkan sebuah filosofi tentang bagaimana melihat dan memperlakukan orang lain. Pemimpin yang berperan sebagai coach memandang karyawan bukan sebagai bawahan, melainkan sebagai mitra pertumbuhan. Ia tidak berfokus pada kontrol, tetapi pada pengembangan. Ia bukan pemberi jawaban, tetapi penanya yang baik, bukan pusat keputusan, tetapi fasilitator proses berpikir. Dari sinilah lahir pola kepemimpinan baru yang lebih kolaboratif dan transformatif.
Berbagai riset mendukung efektivitas pendekatan ini. Studi dari Harvard Business Review (2019) menunjukkan bahwa pemimpin dengan kemampuan coaching memiliki efektivitas hingga 60% lebih tinggi dalam meningkatkan performa tim dibandingkan mereka yang hanya mengandalkan gaya direktif. Gallup (2022) menambahkan bahwa karyawan yang rutin mendapatkan coaching menunjukkan peningkatan kinerja hingga 21% serta tingkat keterlibatan kerja yang jauh lebih tinggi. Data ini memperlihatkan bahwa ketika pemimpin berhenti memberi instruksi dan mulai mendengarkan, hasil kerja justru meningkat dengan signifikan.
Lebih jauh lagi, pendekatan coaching membantu organisasi membangun budaya growth mindset. Penelitian Carol Dweck dari Stanford University menemukan bahwa perusahaan dengan budaya seperti ini memiliki tingkat retensi talenta 47% lebih tinggi. Coaching menciptakan ruang aman untuk bereksperimen, di mana kesalahan tidak dianggap sebagai kegagalan, tetapi sebagai bahan belajar. Pemimpin yang menjadi coach memahami bahwa setiap individu membutuhkan waktu untuk tumbuh, dan tugasnya adalah menciptakan lingkungan yang memungkinkan hal itu terjadi. Dari situ, lahirlah kepercayaan, keberanian mengambil inisiatif, dan kreativitas yang lebih besar.
Penelitian Bersin & Deloitte (2020) memperkuat temuan tersebut dengan menyebut bahwa tim yang dipimpin oleh pemimpin dengan kemampuan coaching memiliki produktivitas 39% lebih tinggi. Coaching membangun komunikasi dua arah yang sehat dan memperkuat psychological safety, yaitu rasa aman untuk berbicara, berpendapat, bahkan tidak setuju tanpa takut disalahkan. Di lingkungan seperti ini, ide-ide baru tumbuh lebih cepat, dan kolaborasi berjalan lebih organik.
Konteks bisnis modern menuntut para entrepreneur dan pemimpin perusahaan untuk memiliki kemampuan ini. Coaching bukan lagi sekadar alat pengembangan SDM, melainkan strategi bertahan hidup di tengah turbulensi ekonomi dan disrupsi teknologi. Pemimpin yang mampu berperan sebagai coach tidak hanya memperkuat kinerja tim, tetapi juga menyiapkan leadership pipeline yang berkelanjutan. Studi dari International Coaching Federation (ICF, 2022) menunjukkan bahwa 82% organisasi yang menerapkan coaching internal melaporkan peningkatan signifikan dalam kesiapan calon pemimpin masa depan. Dengan kata lain, coaching bukan hanya tentang performa hari ini, tetapi investasi jangka panjang untuk memastikan perusahaan tetap relevan di masa depan.
Bukti nyata bisa dilihat dari perusahaan-perusahaan kelas dunia seperti Google, Microsoft, dan Unilever. Google melalui Project Oxygen menemukan bahwa manajer terbaik mereka bukanlah yang paling cerdas secara teknis, tetapi yang paling sering melakukan coaching kepada timnya. Microsoft melalui Transformational Leadership Framework menanamkan budaya growth mindset yang membuat karyawannya lebih terbuka terhadap inovasi dan perubahan. Sementara Unilever mengembangkan human-centered performance framework yang berfokus pada percakapan coaching untuk menjaga keseimbangan antara kinerja dan kesejahteraan karyawan. Hasilnya jelas: produktivitas meningkat, loyalitas karyawan bertumbuh, dan inovasi menjadi bagian alami dari keseharian perusahaan.
Sebaliknya, riset global dari WTW (2021) menemukan bahwa keputusan manajemen yang tidak mempertimbangkan kesejahteraan karyawan dapat menurunkan employee well-being hingga 50% dan work engagement sebesar 40%. Pemimpin yang terlalu fokus pada target, tetapi gagal memahami kebutuhan emosional timnya, justru menimbulkan kelelahan, jarak emosional, dan menurunkan performa jangka panjang. Karyawan masa kini tidak meninggalkan perusahaan, mereka meninggalkan atasan yang tidak mau mendengarkan.
Dalam dunia yang terus berubah, kemampuan untuk menjadi leader as coach adalah keunggulan kompetitif baru. Pemimpin jenis ini tidak hanya fokus pada hasil, tetapi juga pada proses dan manusia yang terlibat di dalamnya. Ia tahu bahwa setiap percakapan adalah peluang untuk menumbuhkan potensi, setiap kesalahan adalah peluang untuk belajar, dan setiap keberhasilan adalah hasil dari kolaborasi yang sehat.
Karena pada akhirnya, organisasi yang hebat bukan dibangun oleh pemimpin yang paling kuat, tetapi oleh pemimpin yang mampu menumbuhkan kekuatan orang lain.
Dwi Arifin
Trending Now